Potret Wisata

Mandi di Taman Bidadari

Senin, 6 Februari 2012 - 15:08 wib
Arpan Rachman - Okezone
Taman Bidadari (Foto: Arpan/okezone)
Taman Bidadari (Foto: Arpan/okezone)

BUKAN hanya ada menara bukit kapur dalam kawasan karst di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Ada juga ratusan goa yang dapat dijelajahi, ekosistem bawah tanah, flora dan fauna endemik yang bahkan mungkin belum punya nama Latin.

Nikmati pula keindahan saluran mata air yang beberapa di antaranya bisa direnangi dan dilayari, serta piktorial unik dari zaman prasejarah. Keelokan menara bukit kapur di Maros dan Kabupaten Pangkep, menurut Amran Achmad, Guru Besar Universitas Hasanuddin, sudah pantas menjadi warisan dunia.

Demi membuktikan argumentasi Prof Amran, okezone mengadakan ekspedisi ke Taman Bidadari. Kepergian kami didampingi Muhammad Ikhwan dan kawan-kawan dari kelompok pencinta alam Tapak Rimba Nusantara.

Menempuh jarak sekira dua kilometer dari Dusun Rammang Rammang, kami menyusuri bebatuan jalan setapak, hingga tiba di ujung kampung. Beberapa rumah penduduk tampak menyempil di antara cadas bukit karst, terlihat pula sawah subur yang ditanami padi terhampar di dekat rumah mereka, dan tambak berair bening ditumbuhi semarak lumut membatasi pematang dengan pemukiman.

Lepas dari perkampungan, jalur jalan yang ditempuh mulai terjal berkelok-kelok menurun dan mendaki. Variasi rutenya begitu kaya, menyeberangi sungai kecil melalui jembatan kayu, berjalan di pematang tambak dan sawah, di celah belahan goa karst kami harus merundukkan kepala agar tidak terantuk batu.

Etape terakhir agak menguras tenaga, berbentuk punggungan bukit terdiri satu tanjakan jalur setapak yang miring 45-60 derajat, dilanjutkan tubir curam dengan kemiringan sama, sejauh 25 meter ke bawah menuju finish. Nun di bawah sana, Taman Bidadari berada.

Taman Bidadari ialah pemandian alami berupa kolam dalam sebuah ceruk dengan luas sepanjang 10 meter dan lebar lima meter. Kedalaman airnya berkisar antara satu sampai lima meter.

Letaknya terkepung dinding terjal karst setinggi 25 meter, termasuk jalur masuk berbentuk tubir curam yang kami lalui tadi. Di batas hulunya, dinding belahan ceruk cadas. Ceruk itu buntu, tak bisa dilalui manusia. Kendati buntu, air mengalir lewat terowongan kecil ke bawah goa.

"Kalau musim kemarau, permukaan air naik lebih tinggi dan rasanya tetap tawar, padahal air di sekitarnya termasuk yang mengalir ke sungai akan berubah jadi asin," kata Ikhwan.

Air yang berada di kolam kecil itu berhawa sejuk agak dingin, jernih, dan tenang. Ketika kami asyik mandi, seekor ikan berenang santai di dekat mata kaki. Setelah puas mandi, kami berbenah dan meninggalkan Taman Bidadari.

(ftr)
Terimakasih atas bantuan Anda melaporkan komentar ini.