Potret Wisata

Irak Ingin Kembali Menjadi Destinasi Wisata

Minggu, 26 Februari 2012 - 20:30 wib
Mutya Hanifah - Okezone
(Foto: ilikesunflower)
(Foto: ilikesunflower)

Dicurigai memiliki senjata biologis pada masa pemerintahan Saddam Hussein dahulu dan juga sebagai markas besar Al-Qaeda, kini Irak ingin kembali pada status lamanya sebagai pusat arkeologi dan juga pariwisata.

Madain, sebuah kota dengan penduduk 7000 jiwa, ditemukan oleh Raja Parthian, Mithridates I lebih dari 2000 tahun yang lalu. kini kota ini terletak diantara dua jalan tol utama yang menghubungkan ibukota dengan Irak Selatan, dan juga situs-situs sejarah seperti Arch of Ctesiphon dan Tom of Salman Pak, salah satu peninggalan Nabi umat Muslim, Nabi Muhammad.

"Kami ingin mengembalikan tempat ini menjadi tempat pariwisata yang indah," tutur Abdelhadi Hasan, director of antiquities di Madain, yang terletak 30 kilometer di sebelah selatan kota Baghdad, seperti dilansir AFP. Ia juga mengatakan, dulu para wisatawan baik domestik maupun mancanegara gemar mengunjungi kebun dan taman yang ada di kota ini.

"Namun akibat kelalaian, kebun dan taman ini kini sudah tiada," katanya. "semua akibat perang dan ketidakstabilan politik,"

Pada tahun 1970an, kota ini dipenuhi kebun-kebun dan taman indah, namun kini yang tersisa hanyalah reruntuhan akibat pipa irigasi dihancurkan dan pohon-pohon ditebang saat terjadi perang Irak-Iran tahun 1980-1988.

Madain dulunya juga memiliki sebuah museum terbesar di dunia, yang dibangun pada masa Shapur I tahun 241 Masehi, di masa dinasti Persia. Museum ini memiliki bangunan Arch of Ctesiphon setinggi 37 meter dan sedalam 48 meter di bawah tanah. Namun kini bangunan tersebut telah hancur saat invasi Amerika Serikat di tahun 2003.

Meskipun sebelumnya merupakan pusat pariwisata dan masih memiliki situs sejarah, Madain telah memiliki reputasi buruk dalam beberapa dekade terakhir.

Pada tahun 1986, menurut PBB,program senjata biologis Iran  dikembangkan di daerah tersebut, dan selama invasi tahun 2003, Amerika mengatakan mereka menangkap pasukan Mesir dan Sudan di sebuah "kamp pelatihan teroris" yang ada di kota ini.

Pada tahun 2005, Al-Qaeda menjadikan kota ini sebagai bentengnya, juga tempat pembuatan bom mobil dan bahan peledak lainnya sementara pejuang lain meneyerang polisi dan pasukan AS, serta membangun sebuah area bawah tanah untuk menahan korban penculikan.

Mantan kepala intelijen Irak Jenderal Mohammed Shahwani menjuluki kota ini sebagai "tempat persembunyian gerilya."

"Madain memang wilayah konflik bersenjata, namun semua sekarang telah berakhir," tutur Hassan. Meskipun begitu, masih terlihat banyak polisi yang berpatroli di wilayah ini.

"penduduk kota ingin mengembalikan kejayaan kota ini di masa lalu, sebagai tempat pariwisata. seharusnya pemerintah bisa membantu dengan membangun kembali, terutama karena situasi keamanan disini sudah membaik," tuturnya. (fmh)

(ftr)
Terimakasih atas bantuan Anda melaporkan komentar ini.