SOLO - Untuk pertama kalinya,sejak perserteruan dua keterunan Mataram, yang memperebutkan tahta kerajaan, 8 tahun silam terjadi, ribuan warga Solo, Jawa Tengah, akhirnya bisa kembali melihat dari dekat dua keturunan Mataram tersebut kembali berjalan beriringan.
Prosesi menandai berakhirnya ketegangan yang melahirkan Dwi Tunggal Keraton Kasunanan Surakarta, ditandai dengan kirab agung, Paku Buwono (PB) XIII Hangabehi dan Maha Menteri KGPH Panembahan Agung Tedjowulan keliling Kota Solo.
Pantauan Okezone, di lokasi kirab agung Raja Solo,yang dimulai pukul 15.00 WIB, selain bisa melihat dari dekat, PB XIII Hangabehi dan Maha Menteri KGPH Panembahan Agung Tedjowulan,warga Solo juga bisa melihat kereta kencana milik Keraton yang selama ini belum pernah dilihat dari dekat.
Kirab yang tidak diikuti oleh keturunan mataram yang tergabung didalam Dewan Adat Keraton ini diawali dengan defile pembawa bendera merah putih yang berjalan paling depan.
Kemudian dibelakangnya, diikuti marching band milik keraton dan dibelakangnya prajurit keraton kasunanan sambil membawa panji-panji kerajaan.
Tepat dibelakang barisan prajurit keraton, kereta kencana pusaka yang selama ini menjadi kendaraan PB IX meluncur dengan mendapatkan pengawalan yang cukup ketat dari abdi dalam dan aparat kepolisian.
Dari dalam kereta kencana, PB XIII Hangabehi bersama premasuri Kanjeng Ratu Pakubuwono, RAy Adipati Pradapaningsih, melambaikan tangan kepada warga Solo yang memadati ruas jalan Jenderal Sudirman.
Sedangkan Maha Menteri KGPH Panembahan Agung Tedjowulan lengkap dengan pakaian Keraton berada tepat di samping kereta kencana dengan menunggai kuda hitam mengawal kereta kencana yang membawa PB XIII Hangabehi.
Dibelakang barisan Raja,puluhan kesenian tradisional,juga ikut merayakan prosesi kirab bersatunya Keraton Kasunanan Surakarta.
Menurut Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Solo, Jawa Tengah, Widdi Srihanto, kirab yang dilaksanakan seusai peringatan kenaikan tahta raja ini, sekaligus pemberitahuan kepada masyarakat luas bila Keraton Solo sudah tidak terjadi lagi dualisme kepemimpinan.
"Kirab itu untuk memberitahu masyarakat bahwa adanya perselisihan di keraton yang berlangsng hampir delapan tahun itu telah berakhir dan terjadi rekonsiliasi antara KGPH Panembahan Agung Tedjowulan dengan PB XIII yang difasilitasi oleh pemerintah," jelasnya kepada wartawan di sela prosesi kirab, di Solo, Jawa Tengah, Minggu (17/6/2012).
Ia mengharapkan, dengan rujuk keluarga keraton maka seluruh masyarakat juga bersedia membantu mengembalikan kejayaan keraton sebagai pusat budaya dan sekaligus andalan objek wisata di Solo.
Selama prosesi kirab Raja Keraton Solo ini, aparat kepolisian tidak mengalihkan arus lalu-lintas,namun memberlakukan buka tutup jalur. (uky)
Sabtu, 25 Mei 2013 14:11 WIB
Sabtu, 25 Mei 2013 08:11 WIB
Sabtu, 25 Mei 2013 14:48 WIB