MENYUSURI lereng pegunungan Alpen di Swiss dengan sepeda motor, sungguh merupakan pengalaman yang luar biasa. Lebih asyik lagi menjelajahi Klausenpass pada awal musim panas. Ketika itu salju mulai mencair.
Ernesto Che Guevara jadi komunis setelah menaiki Norton La Poderosa, saya justru makin sering berdoa setelah menunggang Honda VTR 250 merah. Bukan apa-apa, pegunungan Alpen bukanlah jalur Pan Amerika. Di sini, bukan di Buenos Aires, bukan di Cile, bukan di Venezuela. Tapi di sini, di antara tebing pegunungan Alpen, saya dengan dengkul gemetaran harus menyetir ekstra-hati-hati agar masih bisa bertemu dengan istri dan anak-anak di rumah.
Betapa tidak, kanan kiri adalah dinding salju padat, jalanan aspal meski mulus, juga basah. Salah pencet gas atau rem, bisa jadi berakhir dengan dua roda ini akan menindih punggung. Atau, paling tragis, terguling- guling ditelan jurang yang menganga. Meski sudah nyaris bangkrut ikut kursus khusus bermotor ria di pegunungan Alpen yang sejamnya bertarif USD100, tetap saja tak terasa nyaman jika tidak komat-kamit meminta perlindungan Tuhan.
Saya berada di Klausenpass, salah satu jalur maut di pegunungan Alpen. Lebih maut lagi jika ke sana ketika baru sepekan dibuka, seperti yang saya lakukan kali ini. Saljunya baru dikeruk, yang menetaskan dinding es dua meteran itu laksana irisan kue tar dengan jalan aspal di tengahnya. Karena matahari musim panas mulai garang, dinding salju itu meleleh sehingga menciptakan jalanan aspal basah, bahkan kadang banjir kecil.
Belum lagi serpihan es yang menggelinding di jalanan. Inilah salah satu jalur di Swiss yang banyak memakan korban, khususnya pengendara sepeda motor. Jalur ini selama musim dingin ditutup pemerintah Swiss. “Kalau dibuka terus, tidak sesuai dengan biaya perawatannya,” kata salah satu teman dari kawasan ini. Masuk akal, siapa yang mau membiayai pengerukan salju di kawasan ini. Bila dikeruk pada pagi hari, sorenya menumpuk lagi.
Jadilah Klausenpass, seperti juga pass yang lain, tutup total selama musim dingin. Lagi pula masih banyak jalan normal lain yang bisa ditempuh, setelah Swiss mampu mengebor gunung. Jalur terowongan ini selain saljunya tidak setinggi dan seawet di jalur pegunungan, juga lebih cepat. Sementara Klausenpass, di samping berlikuliku, juga akhirnya memakan bensin lebih banyak.Dan, pada saat minggu-minggu pertama dibuka, di situlah tantangannya.
Setiap biker berlomba-lomba menjadi yang pertama di kawasan ini dengan tunggangannya, termasuk saya. Che juga menemukan banyak penderitaan selama perjalanannya, saya pun demikian. Saya malah menderita sendiri karena gemetaran. Che terpanggil untuk membantu dan mengobati komunitas lepra, saya harus berjuang habis-habisan menghalau rasa takut, terpeleset, dan jatuh ke jurang misalnya.
Bagaimana saya bisa jadi komunis jika yang saya temui ketika di Puncak Klausenpass adalah kalangan borjuis dengan motor yang harganya sama dengan sebuah rumah real estate di kawasan Bogor. Ketika berhasil mencapai Puncak Klausenpass, di samping kiri ada BWM seri GS terpakir, motor best seller di Eropa, juga di Swiss, yang harganya sekira USD20.000. Di samping kanan berdiri angkuh Motoguzzi, Ducatiatau Triumph, jawara motor kelas dunia, yang banyak dikoleksi profesi semacam pengacara atau dokter gigi.
Saya tidak perlu kasihan kepada kelompok ini. Saya juga lebih sibuk berjuang dengan jati diri di puncak ini. Namun, begitu berhasil mencapai kawasan ini, apa pun yang ditungganginya, dan bisa pulang tanpa kulit lecet, saya patut bersyukur kepada Tuhan. Klausenpass, seperti juga pass yang lain yang membelah Alpen, dulunya adalah jalur satu-satunya yang menghubungkan daerah yang satu ke yang lainnya. Meski masih geronjalankarena ditata dengan serpihan batu, dulu jalur ini sangat penting untuk perdagangan.
Selain itu, tentu saja untuk urusan militer. Jenderal Sumorov dari Rusia terselamatkan dari kejaran tentara Napoleon karena menggunakan Klausenpass. Sekarang, Klausenpass lebih banyak digunakan pelesiran. Orang yang punya motor,ya naik motor, karena inilah alternatif paling menawan meski agak bahaya. Mobil pribadi juga banyak melintas di kawasan ini untuk bisa menikmati keindahan pegunungan Alpen yang tidak ditemukan ketika menjadi turis biasa di Swiss.
Tak berani naik motor, tak ada mobil pribadi, ada bus umum yang bisa mengantar hingga kawasan ini meskipun hanya buka mulai pertengahan Juni hingga September. “Kami biasanya ke sana bersama keluarga, makan siang di puncaknya, dan mencari mawar liar Alpen,” kata seorang kawan. Karena baru dibuka, salju masih menguasai jalur ini sehingga tidak setangkai pun saya temukan mawar legendaris dari kawasan ini.
Di sana justru banyak berkeliaran sapi petani.Urnerboden adalah lembah paling permai, sekaligus paling luas di jazirah Swiss. Ketika Klausenpass mulai dibuka, petani pun mulai menggiring kembali sapi-sapinya dari kandangnya di desa untuk merumput atau minimal menikmati udara segar di Lembah Alpen. Saya sempatkan agak lama berdiri di salah satu tebing Alpen, memandang lembah hijau putih di bawah, menikmati semilir sisa angin musim dingin, dan mensyukuri karunia Tuhan.
Rabu, 19 Juni 2013 22:30 WIB
Rabu, 19 Juni 2013 21:29 WIB
Rabu, 19 Juni 2013 19:18 WIB