Baru saja warga Jakarta diperlihatkan pertunjukan tari yang sangat kental budaya Jawa. Para penonton dibuat terkaget-kaget dengan drama tari yang dilakoni ratusan penari tersebut.
Selama empat hari, tepatnya 22 hingga 25 Juni, drama tari “Matah Ati” digelar di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki. Ini merupakan kali kedua pertunjukan drama tari “Matah Ati” dipertontonkan di Jakarta, sebelumnya pada 2011. Perlu diketahui, sebelum dipertontokan warga Jakarta, “Matah Ati” pertama kali digelar di panggung Esplande, Singapura, yang mendapat sambutan luar biasa.
Drama tari “Matah Ati” menggambarkan suasana Abad Pertengahan di Tanah Jawa, di mana terjadi peperangan dan pemberontakan melawan tentara VOC. “Matah Ati” menceritakan seorang ksatria berani bernama Raden Mas Said yang dikenal dengan sebutan pangeran Sambernyowo. Raden mas Said jatuh hati pada seorang perempuan cantik dan berani melawan ketidakadilan dan menolong rakyatnya. Perempuan itu bernama Rubiah.
Mereka akhirnya menikah dan bersama-sama menumpas para tentara VOC selama 16 tahun. Berkat perjuangannya, Raden Mas Said diberi gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkoenagoro sedangkan Rubiyah diberi gelar Raden Ayu Kusuma Matah Ati karena lahir di Desa Matah, bisa juga diartikan “Melayani Hati sang Pangeran”.
Drama tari “Matah Ati” berdurasi 1,5 jam, yang terdiri dari delapan babak dengan 17 adegan. Penonton tidak akan bosan dan terpaksa menunggu adegan selanjutnya karena tidak ada jeda dalam setiap babak. “Matah Ati” menampilkan kekayaan budaya yang mahal dan tidak akan dapat dinilai dengan uang.
Penulis naskah sekaligus produser dan sutradara Atilah Soeryadja butuh waktu 2,5 tahun untuk melakukan riset sampai akhirnya membuat karya tersebut. Karya Atilah lahir atas keprihatinannya saat membaca tulisan pada surat kabar negara tetangga, yang mengutip bahwa "Solo is a heaven for terorist (Solo adalah surga bagi para teroris)”.
Nyatanya, Atikah telah mampu membuat pertunjukan perdananya di Singapura. Dibantu dengan Penata Artistik Jay Subiyakto, penonton dicengangkan dengan penataan panggung yang sangat unik; panggung dibuat miring sehingga para penari tampak leluasa.
Hari pertama pertunjukan, Teater Jakarta dipenuhi oleh masyarakat yang penasaran ingin menontonnya, hingga Menteri Pemberdayaan Perempuan Linda Gumelar ikut larut di dalamnya.
“Saya penasaran dengan drama tari ini. Menurut saya, Rubiyah adalah sosok perempuan tangguh. Saya kagum dengan keberaniannya melawan tentara VOC,” tuturnya, baru-baru ini.
Bagi yang masih penasaran atau bahkan ingin menonton, drama “Matah Ati” akan kembali dipertunjukan di Kota Solo pada September 2012.
Jum'at, 24 Mei 2013 00:35 WIB
Kamis, 23 Mei 2013 23:38 WIB
Kamis, 23 Mei 2013 22:29 WIB