Yangon, Kota yang Terperangkap Waktu

Rabu, 27 Juni 2012 - 15:26 wib
Mutya Hanifah - Okezone
Yangon, Myanmar (Foto: wikimedia)
Yangon, Myanmar (Foto: wikimedia)

MYANMAR - Saat ini, mungkin jarang bisa dilihat kota seperti Yangon, Myanmar. Pemandangan kota dipenuhi ratusan bangunan kolonial berdiri di tengah masyarakat multietnis yang rukun selama lebih dari seabad.

Yangon, kota terbesar di Myanmar dan bekas ibu kota negara, telah melewati masa moderenisasi dengan cepat. Prosesnya bahkan tidak secepat kebanyakan kota besar lainnya di Asia, yang sudah dipenuhi gedung pencakar langit. Tak mengherankan bila wisatawan dunia menjuluki Yangon sebagai Kota yang Terperangkap Waktu.

Kini, setelah Myanmar mulai membuka diri untuk dikunjungi wisatawan Barat, berbagai upaya telah dilakukan untuk melestarikan arsitektur Yangon. Upaya juga meliputi menjaga suasana memesona dari bangunan-bangunan kolonial, mencegahnya tidak terseret arus moderenisasi sekaligus tidak lekang oleh waktu.

"Yangon bagaikan harta terpendam, namun kami perlu bertindak segera untuk melestarikan kota ini atau akan hilang dalam moderenisasi," kata Zin Nwe Myint, ahli perkotaan Myanmar, seperti dikutip dari HuffingtonPost, Rabu (27/6/2012).

Pemerintah setempat merekomendasikan batas ketinggian pada konstruksi bangunan baru, pelatihan konservasi, kampanye kesadaran budaya, serta pendaftaran bangunan kolonial agar bangunan-bangunan lama di kota ini tidak mudah dihancurkan oleh para oportunis. Pemerintah kota sendiri tengah bersiap menyiapkan perlindungan untuk 188 situs di Yangon.

Pemerintah Yangon juga memerhatikan sisi wisata dalam melindungi kota ini. Mereka berencana mengubah fungsi beberapa bangunan kolonial menjadi hotel, galeri seni, dan museum sehingga tidak perlu ada bangunan baru untuk memenuhi kebutuhan wisatawan.

"Kami ingin melihat Yangon sebagai kota abad ke-21, namun tetap memertahankan yang terbaik dari warisan lamanya. Kami belajar dari kesalahan kota-kota Asia lainnya," kata Myint Swe, Wali Kota Yangon.

Selain kaya arsitektur kolonial, Yangon juga dikenal kaya sumber daya alam, terutama kayu jati, minyak, dan beras. Hal ini menjadikan Yangon sebagai kota Internasional, bahkan pada 1920an, kota ini menerima lebih banyak imigran daripada Kota New York di Amerika Serikat.

mobile Nikmati berita terikini lewat ponsel Anda di m.okezone.com & bb.okezone.com untuk BlackBerry