Warisan Budaya, Ratusan Siswa Pelajari Sistem Subak

Jum'at, 29 Juni 2012 - 09:34 wib
SINDO -
Subak, sistem irigasi di Bali bercermin dari ajaran Hindu (Foto: balebengong)
Subak, sistem irigasi di Bali bercermin dari ajaran Hindu (Foto: balebengong)

SUBAK siap menjadi warisan dunia UNESCO. Sekira 200 siswa yang berasal dari berbagai negara memelajari sistem Subak, lewat program World Heritage Education dari UNESCO.

Mereka mendalami filosofi konsep kehidupan yang harmonis Tri Hita Karana yang ada dalam lanskap budaya Bali tersebut. Bali dipilih sebagai tempat kegiatan lantaran lanskap budaya Bali dinominasikan untuk masuk dalam daftar world heritage UNESCO pada sidang awal Juli 2012 yang digelar di Rusia.

Kepala Unit Budaya UNESCO Jakarta Masanori Nagaoka mengungkapkan, semua situs kluster dari lanskap budaya Bali menunjukkan secara langsung kemampuan masyarakat Bali dalam membuat doktrin-doktrin kosmologis mereka yang unik menjadi kenyataan. Nilai-nilai tersebut dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari mereka melalui perencanaan tata ruang dan penggunaan lahan, pengaturan permukiman, arsitektur, seni, upacara dan ritual, serta organisasi sosial.

“Kami memilih lokasi di Jatiluwih. Lokasi ini menggambarkan dengan jelas ciri khas dari sistem sosial dan sistem Subak yang terkait dengan filosofi Tri Hita Karana (tiga unsur sumber kebaikan). Filosofi ini adalah konsep hidup yang menurut kami sangat penting untuk diperkenalkan ke generasi muda,” katanya saat mendampingi ratusan siswa English First yang berkunjung ke kawasan Subak, Jatiluwih, Tabanan, Bali, baru-baru ini.

Subak merupakan organisasi demokratis para petani di Bali. Sistem ini terkait erat dengan ajaran Hindu, Tri Hita Karana yang mengajarkan mengenai hubungan yang harmonis antara manusia dan Tuhannya (Parhyangan), manusia dan sesama manusia (pawongan), dan manusia dan alamnya (palemahan).

Nilai-nilai Tri Hita Karana dalam Subak tercermin dari pengaturan pengairan sawah petani secara adil, pembicaraan mengenai penanaman, perencanaan pembangunan dan pemeliharaan kanal dan bendungan, hingga dalam mengatur persembahan ritual dan festival Pura Subak. Semua ini untuk kebaikan bersama para petani itu sendiri misalnya menanam harus serempak untuk mengurangi hama.

Harmoni tersebut telah berjalan turuntemurun sejak kurang lebih seabad silam. Masanori menambahkan, program World Heritage Education ini untuk memancing diskusi dan niat untuk saling mendengarkan sehingga menjadi sebuah penegasan identitas diri para generasi muda sekaligus meningkatkan rasa saling menghargai sesama.

“Dengan tumbuhnya kesadaran diri seperti ini, mereka akan memiliki dasar yang kuat terhadap pengetahuan mengenai sejarah mereka dan pelestarian warisan budaya,” imbuh dia.

Program serupa pernah digelar tahun lalu di kompleks Candi Borobudur, Jawa Tengah. Ini program kerja sama antara UNESCO dan English First Indonesia. Tahun lalu jumlah pesertanya sebanyak kurang lebih 150 pelajar yang mempelajari sejarah di balik budaya Candi Borobudur.

Sementara itu, Country Director English First Indonesia Arleta Darusalam menuturkan, sangat penting bagi pihaknya untuk tidak hanya mengajar berbahasa Inggris yang baik pada murid-muridnya, tetapi juga mengajarkan mereka untuk memiliki pemahaman tentang keragaman dan kekayaan budaya Indonesia.

“Karena itu, kami mengajak 200 murid EF Indonesia (berusia antara 8-18 tahun) berpartisipasi dalam program World Heritage Education di Pulau Dewata ini. Harapan kami lewat program ini, mereka dapat mengenal dan mempelajari beragam warisan budaya yang ada di Bali, salah satunya Subak,” ungkapnya.

Arleta menyatakan,muridmuridnya dan generasi muda pada umumnya harus dapat merangkul segala perbedaan dalam budaya dan agama yang ada di Indonesia. “Bali dan filosofi Tri Hita Karananya yang terwakili dengan jelas dalam sistem Subak menjadi contoh tepat untuk mengusung nilai saling menghargai, mengetahui, dan menghormati kepercayaan dan budaya orang lain,” tambah dia.

Selama di Bali, peserta juga mendapat kesempatan memanen padi secara langsung bersama petani lokal. Selain kerja sama UNESCO dan English First Indonesia, kegiatan ini juga didukung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Pemerintah Provinsi Bali, dan Pemerintah Kabupaten Tabanan.

mobile Nikmati berita terikini lewat ponsel Anda di m.okezone.com & bb.okezone.com untuk BlackBerry
BACA JUGA »