KEPOLOSAN anak-anak bercengkerama dengan sebayanya, menikmati semangkok mi ayam, atau berlarian merebut bola, itulah sedikit aktivitas sehari-hari warga Waisai, Ibu Kota Raja Ampat. Senangnya bisa menikmati sore di Pantai Waisai Tercinta (WTC).
Anshar (9) tampak asyik bercanda dengan Angga (13), teman bermainnya yang sore itu sembari berjualan jagung rebus. Ketika saya dekati, segera saja Angga menawarkan dagangannya.
"Jagung rebus, Kak, lima ribu," tuturnya pada Okezone saat berkesempatan mengikuti "Adira Beauty X-pedition Jelajah Nusantara" di Raja Ampat, Papua Barat, baru-baru ini.
Dengan sigap dia memilihkan saya jagung yang tidak terlalu muda ataupun tua. Saya juga diberi bumbu, yang dibungkus menggunakan plastik kecil, untuk menemani makan jagung. Rasanya cukup pedas, yang menurut Angga terdiri dari garam, lada, dan cabai merah halus.
Puas bercengkerama dengan keduanya, saya mendekati penjual makanan yang tergolong langka di tanah Papua, yakni mi ayam. Mi ayam, yang di gerobaknya tertulis Mi Ayam Bandung ini, ternyata kepunyaan Abel (40). Baru dua bulan dia hijrah ke Waisai bersama sang istri sedangkan kedua anaknya dititipkan pada mertuanya di Bandung. Dengan alasan mengadu nasib, Abel datang ke Waisai sementara sang adik sudah lebih dahulu menetap. Rupanya tidak mudah.
"Awal-awal datang, masyarakat sini masih belum begitu paham, apa itu mi ayam, makanya agak susah. Mi juga susah didapat, makanya saya bikin sendiri. Harganya lumayan jauh ya, kalau di Bandung, satu ekor ayam biasanya Rp25 ribu, di sini bisa sampai Rp38 ribu, belum lagi bahan-bahan lainnya. Benar-benar harus menyeimbangkan antara pendapatan dan pengeluaran," tuturnya.
Setelah mi ayamnya semakin dikenal, Abel mengatakan bahwa dalam sehari dia bisa menjual 30-40 porsi, masih tersisa sekira tiga hingga lima porsi lagi. Abel memang tidak ingin menjual terlalu banyak, memerhitungkan keuntungan yang bisa diraihnya.
"Saya lihat tiga bulan lagi. Kalau memang bagus, saya mau teruskan tinggal di sini, tapi kalau enggak, mungkin saya kembali ke Bandung. Biaya hidup di sini juga mahal kalau enggak diimbangi pendapatan yang cukup," imbuhnya.
Sekelumit cerita Abel menjadi kisah perantauan lain di Raja Ampat, yang memang banyak jumlahnya. Beberapa saya temui ada yang dari Menado, Makassar, dan daerah lainnya.
Di sudut Pantai Waisai lainnya, ada Hasan (45) yang asyik melempar benang layangan untuk memancing ikan. Baru beberapa hari penduduk asli Makassar ini datang ke Waisai untuk mengunjungi sanak saudaranya.
"Harga makanan di sini mahal, cumi satu ekor saja bisa sampai Rp15 ribu. Kalau mancing kan lumayan dapat satu-dua ekor, sambil menemani anak main di pantai," katanya sambil menyiapkan umpan.
Ya, tidak jauh dari Hasan, tampak anak-anaknya tengah asyik bermain dengan riak kecil Pantai WTC. Pantai ini memang tidak berombak besar karena angin yang berhembus juga semilir saja. Ini juga berlaku pada semua pantai di Raja Ampat.
Pantai WTC menyimpan begitu banyak cerita seru di sore hari. Sudut lain yang saya lihat, ada tukang es krim motor yang dikerubungi anak-anak sedangkan lainnya duduk santai di tepi pantai, menikmati angin yang semilir. Teduhnya di kerindangan bawah pohon kelapa sambil menekuri keindahan Pantai WTC! Nikmati keindahannya lewat galeri foto berikut.
Senin, 20 Mei 2013 23:00 WIB
Senin, 20 Mei 2013 22:09 WIB
Senin, 20 Mei 2013 21:02 WIB