Maladewa, Pulau Surgawi yang "Berdarah"

Senin, 23 Juli 2012 - 11:45 wib
Fitri Yulianti - Okezone
Maladewa disebut pulau surgawi (Foto: dailymail)
Maladewa disebut pulau surgawi (Foto: dailymail)

MEDIA sosial adalah cara kilat untuk mempromosikan sebuah destinasi wisata. Di sisi lain, media sosial juga memungkinkan sebuah protes menjadi sulit dikendalikan.

Hal tersebut seperti terjadi pada pariwisata Maladewa. Baru-baru ini, otoritas pariwisata Maladewa mempromosikan pulau-pulau surganya lewat Twitter, tapi kemudian diserang oleh pegiat pro-demokrasi karena marah pada kekacauan politik yang terjadi akhir-akhir ini.

Protes di dunia maya dimulai pekan lalu ketika poster menggunakan profil Twitter @myvisitmaldives mengumumkan bahwa "Maladewa telah dianugerahi sebagai Destinasi Paling Romantis di Dunia #SunnySideOfLife". Para pengguna Twitter diajak untuk menggunakan hashtag (tanda pagar) tersebut untuk menarik perhatian wisatawan dunia bahwa Maladewa merupakan pilihan liburan terbaik. Namun, langkah tersebut dengan cepat menjadi bumerang.

"#SunnySideOfLife: Pristine pantai berpasir putih, laguna yang jernih penuh dengan darah penduduknya yang berjuang untuk demokrasi," tulis akun Twitter Ali Adil.

"#SunnySideOfLife surga bagi wisatawan, tapi berlawanan bagi penduduk setempat," tambah akun yang lain, Mohamed Aseel Hassan.

Keduanya mengacu pada kerusuhan berdarah yang terjadi di Male, Ibu Kota Maladewa, pada Februari silam. Pengamat politik internasional menyebutnya sebagai kudeta, ketika Presiden Mohamed Nasheed dipaksa mengundurkan diri di tengah kerusuhan di jalanan dan pemberontakan polisi yang meluas. Dia dengan cepat diganti, tanpa pemilu, oleh presiden baru bernama Mohammed Waheed Hassan.

Meskipun reputasinya sebagai surga tropis, Maladewa memiliki sejarah penindasan politik. Nasheed adalah presiden pertama negara itu yang terpilih secara demokratis ketika dia meraih kekuasaan melalui pemilu pada Oktober 2008. Nasheed telah meminta Hassan untuk menyelenggarakan pemilihan umum dini untuk melegitimasi aturan hukum di negeri ini, tetapi ditolak. Sejak peristiwa Februari, laporan kebrutalan polisi dan penindasan media telah menyebar ke luar Maladewa, dan telah digaungkan oleh para pengguna Twitter.

"#SunnySideOfLife: Sebuah tempat di mana ayam tidak diperbolehkan untuk menyeberang jalan tanpa diintimidasi oleh polisi," komentar pemilik akun Twitter lain.

Amnesty International telah bersuara vokal saat mengkritik rezim baru, seraya menuduh pemerintah menggunakan kekerasan berlebihan terhadap para pendukung Nasheed dari Partai Demokrasi Maladewa (MDP).

"Penting untuk orang mengetahui yang sebenarnya. Ada banyak kebrutalan terjadi di Maladewa. Dan bagi penduduk Maladewa, resor-resor mewah itu jauh dari kehidupan mereka," kata Farah Faizal dari MDP, yang juga mantan Duta Desar Maladewa untuk Inggris, seperti dikutip Dailymail, Senin (23/7/2012).

Tak mau kalah, pendukung pemerintah saat ini juga menyuarakan pendapat mereka lewat Twitter. "Pendukung di Twitter yang (telah) menghancurkan citra 'Sunny Side of Life' bersalah karena menyerang perekonomian kita dan bekerja untuk merusaknya," tulis pemilik akun Topy Throwfeeq.

Nyatanya, Maladewa tetap menjadi tujuan wisata yang sangat populer meskipun terjadi keributan. Publisitas negatif rupanya mendorong komentar dari pemerintah. Sebuah tweet dari menteri pariwisata menyatakan, "Terima kasih untuk semua resor, operator wisata, turis, dan semua orang yang mencintai Maladewa dan telah memberikan tweet positif untuk #sunnysideoflife."

mobile Nikmati berita terikini lewat ponsel Anda di m.okezone.com & bb.okezone.com untuk BlackBerry
BACA JUGA »