YOGYAKARTA – Pemerintah Indonesia memperkuat kerja sama dengan Eropa dalam melestarikan warisan budaya.
Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Wamendikbud) Bidang Kebudayaan Wiendu Nuryanti mengatakan, Indonesia melakukan kerja sama dengan tiga negara, yakni Prancis, Estonia, dan Swiss, untuk melestarikan budaya serta menjaga kota budaya agar tidak punah. Program konkret yang akan dilakukan ialah pengembangan museum.Ketiga negara tersebut akan mengirimkan para ahli permuseuman mereka untuk bimbingan teknis.Mereka juga akan membantu pembuatan workshop museum di Indonesia. Berbagai program kerja sama ini direncanakan terealisasi pada 2013.
Ketiga negara tersebut juga menyarankan Indonesia memamerkan budaya tak benda (intangible cultural heritage) yang sudah diakui UNESCO. ”Intangible heritage seperti wayang, angklung, batik, dan keris akan kami pamerkan,” katanya dalam acara The 5th ASEM Culture Ministers’ Meeting ”Managing Heritage Cities for a Sustainable Future” di Hotel Hyatt Yogyakarta kemarin. Wiendu menambahkan,pemilik museum di Eropa juga bersedia menjadi bapak angkat. Dalam waktu dekat Museum Nasional akan melakukan identifikasi barang budaya untuk dipamerkan di Eropa.
Guru besar arsitektur UGM itu menyatakan,kerja sama juga akan meliputi penyelenggaraan festival film-film Asia Eropa dan para ahli perfilman di Eropa juga akan mengadakan workshop untuk membantu sineas muda.Hasilnya akan dipamerkan dalam jambore film pendek yang dapat diselenggarakan di kota budaya seperti Kota Tua. Mengenai pembahasan warisan budaya untuk menciptakan ekonomi kreatif,akan dilakukan kerja sama dengan Belanda yang nantinya diadakan lomba batik.
”Selain dapat mempromosikan Indonesia di Belanda, juga dapat memasarkan kota asal batik di kancah internasional sehingga mereka pun dapat mendalami filosofi batik tersebut,” paparnya. Perwakilan Uni Eropa Nicos Panayi menambahkan, pertemuan tingkat menteri di Yogyakarta ini memang fokus membahas kota budaya demi masa depan yang berkelanjutan karena dapat disinambungkan dengan ekonomi kreatif dan kekayaan kultural suatu negara.”Kekayaan suatu kota budaya jika dikombinasikan dengan sisi ekonomi dan seni juga harus menjadi suatu kebijakan karena dapat memberikan kesejahteraan bagi masyarakat dalam kota tersebut,” jelasnya.
Duta Besar Siprus untuk Indonesia itu juga mengapresiasi kegiatan ini karena dinilai berhasil memformulasikan berbagai kebijakan yang dapat menjadi arahan dalam mengelola kota-kota bersejarah bagi Asia dan Eropa serta para pemangku kebijakan. ”Budaya itu memiliki isu yang sangat kompleks, tetapi jika dimengerti identitas dan kulturnya akan memberikan manfaat yang baik bagi kita,” ujarnya. Rangkaian ASEM kelima ini berlangsung 17 September– 20 September.
Selain workshop pada 18 September, delegasi Asia-Eropa itu juga diajak ke Candi Prambanan untuk melihat Sendratari Ramayana. Acara ditutup dengan menyaksikan matahari terbit di kompleks Candi Borobudur pagi ini sebelum mereka bertolak ke negara masing-masing.
Kamis, 23 Mei 2013 09:42 WIB
Kamis, 23 Mei 2013 07:48 WIB
Kamis, 23 Mei 2013 04:23 WIB