"Cebongan" Bikin Wisatawan Yogyakarta Menurun

Sabtu, 30 Maret 2013 - 11:00 wib | Prabowo (Okezone) - Okezone

Demo penolakan premanisme yang mengakibatkan pariwisata di Yogya menurun drastis (Foto:Prabowo/Okezone) Demo penolakan premanisme yang mengakibatkan pariwisata di Yogya menurun drastis (Foto:Prabowo/Okezone) YOGYAKARTA - Gencarnya pemberitaan yang disampaikan beragam media, baik melalui media cetak maupun elektronik tentang insiden penyerangan di Lapas Cebongan, Sleman berdampak buruk bagi dunia pariwisata di Yogyakarta.

Pasalnya, kunjungan wisatawan baik domestik maupun turis asing mengalami penurunan pasca insiden maut yang menewaskan empat tahanan Polda DIY itu. Turunnya jumlah wisatawan dirasakan banyak kalangan pengusaha di bidang pariwisata, mulai travel agent, penjual pernak-pernik khas Yogyakarta, penjual makanan, pengayuh becak, sopir andong, hingga sebagian besar pemilik usaha tempat penginapan di Yogyakarta.

"Kenapa setiap hari, setiap baca koran isinya Cebongan, Cebongan, dan Cebongan. Lihat televisi juga penyerangan Lapas Cebongan, apa di Yogyakarta sudah amat mengerikan ?," kata Anik, pemilik penginapan di Sosromenduran, Gedongtengen, Yogyakarta, Sabtu (30/3/2013).

Dia mengakui, pemberitaan itu berimbas buruk pada usahanya. Dia dan beberapa koleganya mengeluh karena tempat penginapan selalu sepi sepanjang satu pekan ini. Begitu juga dengan beberapa penjual makanan dan pakaian di sekitar Jalan Malioboro, Yogyakarta.

"Itu kejadiannya di Sleman sana, tapi imbasnya sampai Kota Yogyakarta, apalagi ada isu sweeping bagi warga NTT di Yogya, itu semua menambah suasana Yogya jadi tidak karuan," keluhnya.

Masyarakat di luar Yogyakarta, lanjutnya, berkaca pada pemberitaan yang ditayangkan. Mereka menyimpulkan sendiri bahwa Yogyakarta tidak aman, mencekam, dan menakutkan sehingga minat berkunjung ke Yogyakarta diurungkan.

Senada disampaikan Nur Hadi, salah seorang penjual pakaian di pinggir Jalan Malioboro, Yogyakarta. Dalam satu pekan terakhir, pendapatnya menurun drastis. Sepinya pengunjung di Yogyakarta berujung tidak ada pemasukan untuk usahanya.

Dia berharap agar libur panjang kali ini bisa meningkatkan pendapatannya. Hadi sendiri enggan merinci pendapatannya karena tidak setiap saat dapat dikalkulasikan.

"Bukan hanya kami dari pedagang yang rugi, tukang becak, kusir andong (delman), travel agent, dan tempat-tempat tujuan wisata juga rugi," paparnya. "Mudah-mudah, dalam liburan kali ini bisa meningkatkan pendapatan. Kondisi saat ini sudah normal kembali tidak seperti kemarin-kemarin," tutupnya. (uky) (ftr)

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.

BERIKAN KOMENTAR ANDA

Facebook Comment List

BACA JUGA »