Menginap Semalam di Titik Nol Indonesia-Malaysia

Sabtu, 13 April 2013 - 12:04 wib | Mutya Hanifah - Okezone

Menginap Semalam di Titik Nol Indonesia-Malaysia Perbatasan Indonesia-Malaysia di Entikong (Foto: Mutya/Okezone) APA rasanya menginap di garis perbatasan Indonesia-Malaysia? Coba saja datang ke Entikong, dusun perbatasan antara Indonesia dan Malaysia di Kalimantan Barat.

Selagi menemani perempuan-perempuan perkasa peserta ekspedisi Women Across Borneo, Okezone berkesempatan pula untuk bermalam di perbatasan Indonesia-Malaysia di Entikong. Entikong adalah pos perbatasan menuju Malaysia, yang terletak 7-8 jam dari Ibu Kota Kalimantan Barat, Pontianak.

Entikong adalah desa kecil, dengan satu jalan raya besar. Dari tugu selamat datang Entikong menuju pos, perbatasan berjarak hampir 10 kilometer. Kehidupan Entikong berpusat di jalan raya ini.

Di Entikong hanya ada beberapa penginapan kelas melati, yang biasanya digunakan wisatawan yang tidak sempat masuk ke pos perbatasan. Maklum, pos perbatasan Indonesia-Malaysia di Entikong tidak buka 24 jam, hanya buka mulai 07.00 WIB-17.30 WIB.

Kehidupan di Entikong pun bergantung pada buka tutupnya pos perbatasan. Dari mulai pukul 07.00 WIB, desa ini ramai kedatangan bus-bus dari Malaysia dan Pontianak, yang mengantre masuk perbatasan.

Pos perbatasan Entikong ini menarik. Di sekelilingnya sangat hijau oleh bukit-bukit kecil, membuat suasana tampak seperti di sebuah lembah, terlihat jauh hingga ke Tebedu, kota perbatasan yang berada di wilayah Malaysia. Di pintu masuk Indonesia, terdapat sebuah tugu tinggi bertuliskan lima sila Pancasila dan lambang Burung Garuda.

Di dekat pos perbatasan terdapat Pasar Edidas, pasar perbatasan Entikong. Pasar ini hanya buka saat pos perbatasan buka. Saat Okezone mengunjunginya pada pukul 16.30 WIB, sebagian besar toko-toko di pasar ini sudah tutup.

Barang-barang yang dijual Entikong bercampur barang produsi Indonesia dan Malaysia. Saat berkeliling pasar, Okezone melihat tumpukan beras dan gas bermerk Malaysia bersanding dengan sembako merk Indonesia.

Penduduk yang tinggal di Entikong juga beragam. Mayoritas adalah masyarakat suku Dayak dan Melayu, meski ada juga warga transmigran dari Pulau Jawa. Logat bicara yang sering terdengar adalah khas Melayu.

Di malam hari, Entikong nyaris seperti kota mati. Hampir seluruh kota gelap, penerangan nyaris hanya dari rumah-rumah yang berada di tepi jalan raya. Tidak semua toko tutup, ada beberapa restoran dan warung yang juga masih buka. Nampak sekali bahwa desa kecil ini benar-benar bergantung dari pos perbatasan, yang bila sudah tutup pun turut menutup kehidupan kota.

Untuk mencapai Entikong dari Pontianak, Anda dapat menggunakan bus selama tujuh jam. Biasanya bus dari Pontianak berangkat malam menuju Entikong, agar tepat sampai di pagi hari atau saat pos perbatasan buka hingga mereka bisa langsung menuju Malaysia. (ftr)

BERIKAN KOMENTAR ANDA

Facebook Comment List

BACA JUGA »