Pelajari Sejarah Warisan Kolonial di Sawahlunto

Pasha Ernowo, Jurnalis · Minggu 10 Juli 2011 09:02 WIB
https: img.okezone.com content 2011 07 08 408 477676 Ot2XxJWoGg.jpg Sawahlunto (Foto: thesmalljourney.wordpress)

PERNAHKAH Anda membayangkan sebuah kota tua yang masih terpelihara dengan baik, dan dapat menjadi wisata yang berkesan? Sawahlunto, inilah kota yang menawarkan kepada Anda sisi historis warisan kolonial Hindia Belanda yang masih berdiri kokoh dalam masa berbeda. Semuanya berpadu dalam lanskap alam yang indah dan nikmatnya cita rasa masakan Padang.

Di Sumatera Barat terdapat sebuah kota tua bernama Sawahlunto. Kota ini berjarak 90 km dari kota Padang. Ketika sampai di Sawahlunto, maka Anda akan disuguhi pemandangan bangunan tua yang masih terpelihara sisa peninggalan Belanda. Bangunan-bangunan tersebut kini masih dimanfaatkan sebagai tempat tinggal penduduk, perkantoran, atau aneka kios.

Pada abad pertengahan ke 19, Sawahlunto merupakan sebuah kota tambang setelah ditemukannya batubara di Sungai Ombilin oleh Ir De Greve. Kemudian, pada tahun 1888 pemerintah Hindia Belanda mulai mendirikan berbagai fasilitas pertambangan batubara, terutama transportasi.

Untuk memudahkan transportasi pengangkutan batubara dari kota Sawahlunto menuju kota Padang, Pemerintah Hindia Belanda saat itu memperpanjang jalur kereta api ke kota Sawahlunto pada tahun 1894.

Seperti halnya kawasan Freeport di Papua, Sawahlunto kemudian berkembang menjadi kota mandiri berbasis pertambangan di mana sebagian besar penduduknya adalah pekerja tambang batubara sejak tahun 1892. Untuk menjalankan industri pertambangan saat itu, pemerintah Hindia Belanda mempekerjakan tahanan yang dibayar dengan harga murah.

Terowongan tambang yang dibuat tahun 1898 merupakan lubang tambang pertama di Sumatera Barat. Terowongan ini terletak di Air Dingin, Kecamatan Lembah Segar, dan dibuat oleh pekerja paksa atau yang dikenal sebagai Orang Rantai.

Tahun 1932 tambang itu ditutup dan dibuka kembali bulan Juni 2007. Saat terowongan ini dibuka, ditemukan tulang manusia yang hampir membatu. Kini, terowongan ini diberi nama Lubang Mbah Soero dan dijadikan destinasi wisata. Mulai tahun Juni 2007 hingga saat ini, ribuan pengunjung menyambangi tambang tersebut untuk menguak kembali sejarah dan memori pahit orang pribumi.

Sawahlunto juga dikenal memiliki keindahan alam berupa gua yang mempunyai ornamen beragam dan memiliki keunikan tersendiri. Bisa Anda temukan gua-gua ini di pinggiran kota Sawahlunto di mana salah satunya ada yang dihiasi air terjun, dan wisata lainnya yang tak kalah indah dengan stalaktit dan stalakmit.

(nsa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini