Share

Lawang Sewu Kini Tak Lagi Mistis

Susetyo Dwi Prihadi, Jurnalis · Minggu 24 Juli 2011 15:29 WIB
https: img.okezone.com content 2011 07 24 408 483607 O8fADlADPb.jpg (Foto: Susetyo/okezone)

AWAL Juli lalu, Ibu Negara Ani Yudhoyono secara resmi membuka pemanfaatan Lawang Sewu di Semarang sebagai tujuan wisata. Ini sejalan dengan pemugaran yang dilakukan oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI) untuk mengubah gedung yang masuk cagar budaya tersebut semakin menarik.

Dulu, Lawang Sewu terlihat kusam dengan bekas cat yang terkelupas di sana-sini. Kini, gedung tua itu mulai diremajakan dan menampakkan kembali kegagahannya sebagai pusat sejarah.

Baca Juga: Lifebuoy x MNC Peduli Ajak Masyarakat Berbagi Kebaikan dengan Donasi Rambut, Catat Tanggalnya!

Saat okezone berkunjung ke Lawang Sewu akhir pekan lalu, tempat tersebut boleh dikatakan 85 persen sudah rampung. Selain gedung yang sudah dirapikan, tempat-tempat penunjang seperti kamar mandi pun sudah diperbaharui.

Lalu, apa saja yang akan Anda dapatkan bila mengunjungi Lawang Sewu versi baru ini? Yang jelas, kesan mistis dan penuh hantu akan lenyap bila Anda menjejakkan kaki di tempat yang dulunya dimiliki oleh Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschaapij (NIS) ini.

"Ya, dulunya Lawang Sewu ini merupakan pusat perkeretaapian di Semarang. Dulu, di depan gedung ini ada rel yang menyambungkan ke beberapa stasiun. Menurut data, gedung milik NIS ini dibangun pada tahun 1904 sampai dengan 1907, lalu terus mengalami penambahan gedung yang selesai pada tahun 1919," terang guide tour Lawang Sewu Fery.

Komplek Lawang Sewu ini terdiri dari beberapa bangunan gedung, di antaranya Gedung A, B, C, dan D. Namun menurut Fery, saat ini yang dibuka untuk umum barulah gedung B. Tapi jangan khawatir banyak yang bisa kita eksplor dari gedung B ini.

Gedung B letaknya persis di belakang Gedung A yang dihubungkan dengan semacam jembatan penghubung. Gedung A yang terletak di paling depan, saat zaman Belanda difungsikan sebagai tempat administrasi dan stasiun.

Kabarnya, di bawah gedung A terdapat lorong bawah tanah, yang dibuat sebagai gorong-gorong air. Lorong bawah tanah juga berfungsi ke jalan tembus ke 7 gedung startegis yang ada di semarang, seperti Stasiun Semarang Tawang, Pelabuhan, Rumah Gubernur, sampai Tugu Muda.

Saat zaman Belanda, lorong bawah tanah ini dibuat untuk menipu tentara Indonesia. Karena kapal-kapal yang membawa tentara Belanda masuk ke Semarang menggunakan dua jalur ini, yaitu jalur darat dan jalur bawah tanah. Ini agar tentara Indonesia tertipu dengan jumlah tentara yang dibawa oleh Belanda.

Di atas gedung A terdapat dua menara kembar, menurut Fery, dulu tempat itu berfungsi sebagai tempat menampung air. Bahkan kabarnya masing-masing menara mampu menampung 7 ribu liter air. Atau 14 ribu liter air untuk kedua menara.

Di gedung B sendiri terdiri dari tiga lantai dengan ruangan-ruangan yang sangat banyak, zaman dulu gedung ini mempunyai tiga fungsi sebagai mess karyawan kereta api NIS, di lantai 1 dan 2, ruang dansa di lantai 3. Dan masih terdapat lagi plafon yang sangat luas yang dimanfaatkan sebagai menaruh onderdil dan bengkel kereta.

"Gedung ini juga mempunyai ruang bawah tanah, namun fungsinya sebagai menampung resapan air. Belanda sangat memahami cuaca Semarang yang dekat pesisir sangat panas. Maka tidak mengherankan struktur bangunananya sangat tinggi dengan jendela yang besar-besar," terang Fery.

Ruang bawah tanah sendiri bukannya tanpa sebab, selain untuk daerah resapan air juga berfungsi sebagai air condictioner (AC) agar ruangan tetap sejuk. Karena melalui plafon-plafon uap air yang lembab dihembuskan. Pengunjung pun diperbolehkan untuk menikmati ruangan bawah tanah di gedung tersebut, dengan menyewa sepatu bot.

"Sayangnya saat gedung ini diambil alih Jepang, ruangan bawah tanah ini digunakan sebagai penjara. Bahkan tidak jarang ada yang memenggal tawanan di ruangan ini, setelah tempat bengkel paling atas digunakan sebagai menggantung tawanan. Ini yang membuat Lawang Sewu penuh suasana mistis, karena banyak mayat yang dibuang begitu saja di belakang gedung ini," tutup Fery.

(ftr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini