Penari Piring Terhindar dari Pecahan Kaca, Begini Triknya!

Mutya Hanifah, Jurnalis · Senin 23 Juli 2012 16:05 WIB
https: img.okezone.com content 2012 07 23 408 667219 H4ML7yYxlx.jpg Tari piring asal Sumatera Barat (Foto: faceofindonesia)

TARI Piring atau dalam bahasa Minangkabau disebut Tari Piriang adalah salah satu seni tari tradisional di Minangkabau, Sumatera Barat. Bagaimana asal-usul lahirnya tarian ini?

Tari Piring dari Sumatera Barat ditampilkan dengan piring sebagai media utama. Ada pula tari piring yang menggunakan media pecahan beling, dimana penari menari di atasnya, tanpa terluka sedikitpun.

Syofyani Yusaf (74) ternyata adalah pencipta tarian unik ini. Tarian ini diturunkan dari kakeknya, Dt. Tumanggung.

"Dulu, kakek saya sempat dibuang oleh Belanda ke Boven Digul. Di situ, dia berguru dengan sesorang yang menurunkannya ilmu seperti ilmu kekebalan," cerita Syofyani, saat jumpa pers Festival De Montoire di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Senin (23/7/2012).

Tarian piring tersebut tidak boleh dilakukan oleh sembarang orang karena membahayakan. "Harus orang yang berhati bersih dan tidak sombong, kalau tidak kakinya bisa terluka," tuturnya. Tak mengherankan karena Tari Piring dilakukan di atas pecahan 300 botol bir.

"Sebelum tarian dimulai, penari harus berkonsentrasi dengan iringan musik. Kalau kata kakek saya, kalau pecahan kaca itu belum tampak seperti lumut, jangan dimulai," jelasnya.

Namun, karena kini Tari Piring kerap dipertontonkan di luar negeri dengan waktu yang ditentukan penyelenggara, maka kemudian dilakukan banyak penyesuaian. "Sekarang, kami mengajarkan bagaimana penari dapat berkonsentrasi dengan lebih cepat untuk menyesuaikan dengan standar internasional," kata Syofyani.

Seiring perjalanannya, Syofyani beberapa kali menemukan penari yang terluka saat menarikan tarian ini. ”Pernah ada yang kakinya berdarah-darah dan dibawa ke dokter. Dokter bilang harus diamputasi, tapi kemudian kami bawa ke kampung dan diobati secara tradisional dan sembuh total,” ceritanya.

Syofyani dengan kemampuannya menari tradisional Minang kemudian mendirikan Sanggar Tari Syofyani. Sanggar tari yang dikelola oleh putrinya, Soni Drestiana, sudah memiliki tiga cabang, yaitu di Padang, Bandung, dan Jakarta.

"Di Padang ada sekira 80-100 murid. Kalau di Jakarta dan Bandung masing-masing kira-kira 50 murid," sahut Soni pada kesempatan yang sama. Sanggar tari ini sudah menerima banyak penghargaan dan diundang ke berbagai pentas budaya di luar negeri.

(ftr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini