Sasi Rajaha, Penjaga Keindahan Alam Raja Ampat

Fitri Yulianti, Jurnalis · Selasa 22 Januari 2013 22:19 WIB
https: img.okezone.com content 2013 01 22 408 750316 qkLPE90eiR.jpg Keindahan Kepulauan Raja Ampat yang sudah tersohor (Foto: Fitri/Okezone)

KEPULAUAN Raja Ampat, dunia mengetahui keindahannya namun tak semua tahu bagaimana masyarakat setempat menjaga pesona tersebut. Bukan dengan alat modern, tetapi tradisi.

Bagi masyarakat Kepulauan Raja Ampat, Papua Barat, laut adalah jantung kehidupan meski sebagian ada yang berkebun dan berburu. Dari generasi ke generasi, kehidupan laut dan hutan diwariskan. Laut dan hutan adalah sandaran segala kehidupan. Kesadaran pentingnya air dan tanah itulah yang mendorong warga menciptakan sistem budaya untuk menjaga dan melestarikan alam di sekelilingnya. Sistem budaya itu bernama "Sasi" dan "Rajaha".

Sasi adalah salah satu upacara adat untuk penutupan satu kawasan atau dusun untuk menjaga kelestarian ekosistem alamnya. Sasi juga berarti larangan bersama (kolektif) terhadap suatu objek atau kawasan yang mencakup kepentingan orang banyak. Jadi, Sasi Rajaha merupakan suatu bentuk perlindungan yang diterapkan dalam suatu wilayah laut dan hutan oleh kepala adat atas kesepakatan bersama untuk melindungi hasil laut dan biola laut dalam jangka waktu tertentu demi kepentingan umum.

Penerapan sasi dan rajaha ini sudah dilakukan sejak zaman raja-raja dahulu di Kepulauan Raja Ampat. Sistem pertahanan dan perlindungan budaya ini yang kemudian diangkat kembali oleh pemerintah daerah untuk menjaga dan melestarikan alam Kepulauan Raja Ampat yang merupakan kawasan wisata maritim terindah di dunia.

Penerapan sasi ada dua macam, bergantung pada keadaan, waktu, dan kebutuha. Ada "sasi yang disengajakan" dan "sasi yang tak disengajakan". "Sasi yang disengajakan" adalah sasi yang diberlakukan setelah melihat hasil laut yang diperolah kian hari kian berkurang dan sumber-sumber pendapatan untuk memenuhi biaya hidup keluarga pun makin sulit. Karena itulah, sasi jenis ini digelar untuk memberi kesempatan biota laut beregenerasi agar hasilnya bertambah.

Sementara, "sasi yang tidak disengajakan" adalah sasi yang ada dengan sendirinya karena gejala alam yang tak memungkinkan untuk dilakukan usaha laut, seperti musim angin kencang yang berkepanjangan (3-6 bulan), sehingga kepala adat dapat mengumumkan keadaan tersebut dengan sasi. Sasi baru dibuka setelah musim angin berlalu.

Sementara, sasi atas wilayah laut terbagi dua macam, yaitu "sasi bersyarat" dan "sasi tanpa syarat". "Sasi bersyarat" adalah sasi yang diberlakukan pada salah satu biota laut pada suatu wilayah laut tertentu. Namun, jika masyarakat hendak melaksanakan perhelatan acara penting, seperti upacara keagamaan, upacara perkawinan, maka masyarakat diperbolehkan mengambil biota laut yang disasi.

Sementara, "sasi tanpa syarat" adalah larangan selama sasi belum dicabut. Selain itu, ada juga sasi yang berlangsung sepanjang masa. Sasi ini biasa dilakukan pada wilayah tertentu yang diyakini sebagai benda cagar budaya, seperti situs kerajaan atau bahkan huniah roh-roh halus. Kawasan yang mendapat status sasi ini tak sembarang orang bolehmencari ikan di dalamnya. Pelanggaran terhadap larangan biasanya selalu berakhir dengan malapetaka tanpa diketahui sebabnya.

Penutupan dan pembukaan sasi diawali dengan upacara adat yang dipimpim kepala adat. Upacara ini biasanya berlangsung selama 1-7 hari. Upacara itu diawali penyerahan dan penetapan alat-alat penandaan. Selanjutnya, perkakas tonggak tanda batas, seperti pelampung, bendera, dan jangkar diarak keliling dengan grup suling tambur untuk memberitahu sekaligus mengenalkan kepada seluruh masyarakat tanda-tanda yang akan dipasang di daerah yang akan disasi (Daerah Perlindungan Laut) sehingga masyarakat tidak melanggar tanda-tanda tersebut dan juga tanda itu merupakan wilayah yang disasi.

Dalam upacara ini, diletakkan sebatang pohon yang dihiasi pelbagai ukiran, potongan-potongan kain, daun-daun yang dianyam menyerupai hewan-hewan laut, dan buah bakau yang diletakkan di tempat yang akan dilaksanakan sasi. Setelah upacara selesai, tonggak tanda batas yang sudah diupacarai dipancangkan di lokasi yang akan disasi. Tonggak itu oleh masyarakat Raja Ampat dikenal dengan nama "go samson" (kayu yang dimuliakan).

Perlengkapan upacara lainnya adalah 7 piring nasi kuning, 7 butir telur, 7 bungkus papeda berbiji (kawet), tembakau yang digulung dengan daun nipa, pinang siri, dan kapur masing-masing 7 tempat. Semua perlengkapan ini sebagian dilarung ke laut dan sebagian di bibir pantai sebagai persembahan kepada makhluk-makhluk halus penjaga laut.

Sementara, pada saat "rajaha" juga dilakukan upacara dengan memotong ayam putih kemudian diikat pada lokasi yang disasi. Untuk mencegah pencurian hobatan yang berbentuk cairan atau daun-daun yang diisi botol kecil lalu digantungkan pada tiang kayu di lokasi yang disasi. Hobatan ini selalu disertai pembacaan mantera. Pemasangan rajaha berlangsung selama sasi berjalan.

Apabila sasi berakhir, maka rajaha juga ikut dicabut. Pencabutan rajaha biasanya tak disertai upacara, hanya pemberitahuan dari pemerintahan adat kepada masyarakat bahwa rajaha sudah dicabut. Pemberitahuan penutupan dan pembukaan sasi ini sangat penting sebab pelanggaran dari sasi itu dapat mengakibatkan cacat seumur hidup atau seseorang akan meninggal, seperti dikutip dari buku Pusaka Raja Ampat; History and Culture karya Ayu Arman.

Selain sasi, masyarakat Raja Ampat punya pagelaran adat untuk konservasi lingkungan mereka, yakni teknik memancing molo, bacigi, dan tari bintaki. Molo adalah cara tradisional menangkap ikan dengan senapan kayu. Nelayan harus menyelam terlebih dahulu untuk kemudian menembak ikan menggunakan senapan. Senapan ini menggunakan kawat sebagai pelurunya. Nelayan yang menggunakan cara ini disebut tukang molo ikan kareng mereka menggunakan kaca molo atau kaca selam untuk melindungi mata.

Sementara, bacigi adalah teknik memancing di laut tanpa menggunakan umpan pada masyarakat Mariadei. Mereka memancing bersama-sama kaum muda, anak-anak, tetua, dan menggunakan kail tanpa umpan. Bacigi dilakukan untuk menangkap ikan yang hidupnya berkelompok dan berenang dekat permukaan laut.

Dan, saat ini hampir seluruh kawasan Raja Ampat telah diberlakukan sasi. Setidaknya, ada 16 titik yang dalam istilah terkini adalah Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD). Ke-16 titik tersebut terlarang bagi masyarakat untuk melakukan kegiatan menangkap ikan atau memanen hasil laut lainnya, seperti lola, teripang, dan ikan karang. Di daerah tersebut, biota laut dibiarkan menetap hidup dan tumbuh sesukanya tanpa diganggu ulah manusia.

(ftr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini