Share

Belajar Sejarah China dari Wayang Potehi

SINDO, Jurnalis · Jum'at 08 Februari 2013 15:15 WIB
https: img.okezone.com content 2013 02 08 408 758727 nCoXJx7e8y.jpg Wayang potehi dapat dijadikan patron hidup warga keturunan Tionghoa (Foto: demotix)

SELAIN membawa suasana khas Imlek ke dalam area atrium utama mal-mal, sejumlah pusat belanja di Jakarta juga menggelar berbagai pertunjukan khas Negeri Tirai Bambu untuk merayakan Imlek.

Salah satunya seperti yang disajikan di Mal Ciputra, Grogol, Jakarta Barat. Di sini serangkaian acara menarik telah dimulai sejak akhir Januari lalu. Tidak melulu tentang memberikan kesenangan para pengunjung mal dengan tawaran-tawaran diskon, pusat belanja ini juga agaknya ingin mengusung sisi edukasi kepada pengunjungnya.

Beberapa program unik yang diberikan oleh Mal Ciputra untuk perayaan Imlek kali ini yang menawarkan nilai pendidikan adalah opera klasik China, wayang potehi, tarian tradisional, serta kolaborasi barongsai dengan wushu. Meski demikian, ada juga acara santai lainnya yang disediakan. Acara-acara itu di antaranya lomba karaoke lagu-lagu Mandarin, lomba busana tradisional China, serta hiburan dari penyanyi dan pemusik klasik.

Di antara program pendidikan di mal tersebut, salah satu yang menarik dan banyak disimak pengunjung adalah pertunjukan wayang potehi. Pertunjukan tradisional dari China Selatan ini tidak sama dengan wayang golek ataupun wayang kulit yang dikenal di Indonesia.

Wayang potehi lebih dikenal sebagai wayang boneka, yang cara permainannya bukan dengan menggerakkan tongkat kayu, namun melalui jari-jari tangan dalang yang dimasukkan ke dalam wayang tersebut. Nah, sejarah menarik di balik kesenian wayang yang sudah berumur lebih dari 3.000 tahun ini dianggap sebagai kisah menarik yang digemari oleh warga keturunan Tionghoa.

Tak sekadar sebagai seni pertunjukan, bagi warga keturunan Tionghoa, wayang potehi juga dapat dijadikan sebagai patron mereka hidup dalam masyarakat. Sama seperti wayang-wayang lain di Indonesia, wayang potehi juga mengusung banyak pesan sosial dalam setiap pertunjukannya.

Seperti yang diungkapkan Sugiyo Waluyo, dalang wayang potehi dari grup Fu Ho An, yang bermain di Mal Ciputra sebanyak tiga sesi setiap harinya hingga 16 Februari mendatang. Dia menuturkan, kisah-kisah dalam wayang potehi tidak hanya disukai warga keturunan Tionghoa, namun juga pengunjung lainnya.

”Karena cerita yang dimainkan dalam wayang potehi ini adalah kisah yang diambil dari sejarah masa lalu Tembok Besar China,” papar pria yang akrab disapa Suburini.

Dia menjelaskan, tokoh bernama Sie Tjin Koei adalah tokoh yang terkenal dalam pewayangan potehi. Lebih lanjut, Subur menceritakan asal-usul wayang ini lahir dari lima orang narapidana yang sempat akan dieksekusi mati seorang raja, ribuan tahun silam.

”Lima orang narapidana itu akan dieksekusi hukuman mati oleh rajanya. Dari lima orang tersebut, empat orang sedih, namun yang satunya terlihat senang dan selalu bernyanyi. Usut punya usut, ternyata satu orang tersebut merasa bahwa sedih tidak akan berguna, karena mereka akan tetap dihukum mati. Akhirnya, keempat orang temannya itupun sepakat, dan merasa harus berusaha bahagia menjelang kematian mereka,” paparnya.

Kala sudah merelakan kematian mereka dengan mencoba mengisi hari-hari terakhir mereka dengan kebahagiaan, tercetuslah ide untuk membuat wayang potehi, sebagai cara bercerita tentang hidup mereka sebelum dipenjara.

”Mereka cerita tentang hidup mereka lewat permainan wayang itu dengan iringan musik seadanya. Hingga akhirnya, suara mereka terdengar oleh sang raja dan diminta untuk menghibur. Pada akhirnya, kelima narapidana itu dibebaskan,” urainya.

Hiburan penuh edukasi lainnya juga diberikan Mal Ciputra lewat opera China klasik yang mengangkat legenda kisah percintaan di Tembok Raksasa. Sentuhan budaya dan tradisi China yang kental, dihadirkan melalui bahasa, busana, lagu, dan alat musik tradisional yang menjadi pengantar opera tersebut.

(ftr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini