Mengintip Rumah Pengasingan Soekarno-Hatta di Rengasdengklok

Adhia Azkapradhani, Jurnalis · Senin 20 Mei 2013 12:46 WIB
https: img.okezone.com content 2013 05 20 408 809593 gAHQGRU5PR.gif Rumah Sejarah di Rengasdengklok (Foto: Adhia/okezone)

EKSPEDISI memang tak kenal usia. Seperti Ekspedisi Fortuga, yang pesertanya para alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 73. Mengangkat tema "Genteng Seribu", anggota Fortuga merekam fakta serta permasalahan dari Ujung Genteng hingga Kepulauan Seribu serta mencari dan menawarkan solusi yang sesuai.

Ekspedisi Fortuga dilakukan oleh Fortuga (Forum Tujuh Tiga). Kegiatan yang rutin dilakukan lima tahun sekali ini terasa semakin spesial karena tahun ini Fortuga menginjak usia 40. Berbagai kegiatan dilakukan, salah satunya ekspedisi akhir pekan lalu.

Ekspedisi diikuti para anggota Fortuga yang terdiri dari para ahli, mulai ahli lingkungan hingga geolog. Terdapat 10 pos dalam perjalanan ekspedisi ini, dimana setiap posnya diisi presentasi dan penelitian mengenai lingkungan dan sumber daya alam.

Sebenarnya, Ekspedisi Fortuga sudah dimulai sejak 27 April 2013 lalu dengan titik awal dari Ujung Genteng. Ekspedisi dibagi menjadi dua etape. Etape pertama bersepeda, menaiki motor trail, dan mendaki gunung berjarak 250 kilometer dari Ujung Genteng menuju Cekungan di Bandung. Kemudian di etape kedua, peserta menyusuri Sungai Citarum dan berakhir di Kepulauan Seribu. Jarak yang ditempuh sejauh 300 kilometer.

Pada etape kedua, Okezone berkesempatan turut serta dalam perjalanan darat menuju Rengasdengklok untuk mengupas sejarah dilanjutkan menyusuri Sungai Citarum hingga Sungai Cilincing menggunakan kapal.

Perjalanan dimulai pada Sabtu, 18 Mei 2013, pagi. Dengan bus, sekira 20 anggota Fortuga menuju Rengasdengklok, Karawang, Jawa Barat. Sekira tiga jam menempuh perjalanan darat, rombongan disambut Monumen Pembulatan Tekad. Namun, ternyata ini bukanlah tujuan pertama kami.

Dengan berjalan kaki, kami melewati sebuah jalan yang tidak terlalu besar hingga akhirnya sampai di sebuah rumah bercat putih-hijau muda pada kusen jendela dan pintunya. Di bagian depan terdapat sebuah warung yang menjajakan berbagai makanan ringan.

Seorang wanita paruh baya menyambut kami dengan ramah. Dialah cucu sang empunya rumah yang kini telah tiada.

Tak ada nama ataupun keterangan yang menjelaskan rumah ini. Saat memasukinya hanya terdapat tulisan "Rumah Sejarah", yang sesuai namanya memang menjadi saksi sejarah Indonesia. Di sinilah Presiden Soekarno dan Bung Hatta bermalam setelah diculik para pemuda.

“Rumah ini jadi tempat singgah waktu penculikan Soekarno-Hatta, mungkin karena rumah Engkong (kakek-red) gede ya waktu itu, terus tertutup karena bukan dari bilik dan jarak ke jalannya juga jauh,” tutur Iin, salah seorang cucu Djauw Kie Siong, pemilik rumah.

Saat memasuki bagian dalam, terpampang berderet foto Presiden Soekarno, Bung Hatta, dan para pemuda serta pemilik rumah yang berjasa dalam meraih kemerdekaan Indonesia. Pada sebuah meja di tengah deretan foto itu, ada sebuah buku tamu. Meskipun terlihat begitu sederhana jika dibandingkan bangunan masa kini, rumah ini terlihat bersih dan tetap terawat. Beberapa plakat penghargaan menghiasinya.

Di bagian kiri-kanan meja terdapat pintu yang menghubungkan ruang tamu dengan kamar. Kamar di bagian kanan berisi tempat tidur kuno lengkap dengan kelambunya. Di sinilah Bung Karno pernah beristirahat. Sementara, kamar di bagian kiri terlihat lebih sederhana, yang menjadi tempat transit Bung Hatta pada waktu itu.

Iin bercerita, ketika itu kakeknya tidak tahu akan kedatangan para pemuda yang membawa Soekarno-Hatta. Dia hanya diminta untuk pindah karena kabarnya akan ada puluhan orang yang datang.

“Semuanya bagian bangunan yang depan ini asli, hanya bagian blandongan di kiri-kanannya sudah tidak ada. Desainnya juga dipertahankan sampai sekarang, hanya bagian belakangnya yang direnovasi dan jadi tempat tinggal,” tutur Iin.

Barang-barang peninggalan yang ada di rumah ini hampir semuanya replika, kecuali tempat tidur Bung Hatta. Semua benda-benda yang asli sudah dipindahkan ke museum sejak 1961.

Selesai melihat-lihat dan berfoto bersama di bagian dalam rumah, para anggota Fortuga mengadakan diskusi sejarah di pelataran rumah. Mereka mengupas sejarah saat detik-detik proklamasi.

“Sekarang kita berada di rumah yang dulu dijadikan tempat bermalam oleh Soekarno-Hatta saat diculik para pemuda. Di sinilah naskah Proklamasi dirumuskan, sebelum akhirnya dibacakan di Jalan Pegangsaan Timur,” sahut Abrar, anggota Fortuga mengawali diskusi.

“Rumah ini juga sebelumnya tidak di sini, tapi di dekat Sungai Citarum kemudian dipindahkan pada tahun 1957 karena terancam abrasi,” ujarnya.

(ftr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini