Petani Sayur Itu Turun Gunung Jadi Pemandu Wisata

Fitri Yulianti, Jurnalis · Selasa 02 Juli 2013 11:32 WIB
https: img.okezone.com content 2013 07 02 408 830563 vB4kD9Ec9O.jpg Wisatawan belajar memotong bulu domba di Desa Wisata Sarongge (Foto: Fitri/Okezone)

SEKIRA satu dekade lalu, mayoritas warga Kampung Sarongge, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, bercocok tanam di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Lantaran kepentingan umum yang lebih besar juga kebutuhan makan, kini mereka mengelola desanya menjadi Desa Wisata Sarongge.

Ada yang berbeda dari wajah Kampung Sarongge. Sekira 10 tahun lalu, mayoritas kepala keluarganya naik gunung untuk bercocok tanam di sebagian lahan TNGGP yang dikelola Perum Perhutani. Lahan tersebut kemudian diperluas dan memaksa mereka untuk melakoni pekerjaan baru, perlahan seiring wajah desa yang menjadi Desa Wisata Sarongge.

“Kehidupan warga kini lebih baik dengan mengoptimalkan sumber daya alam dan kebudayaan. Kalau dulu mereka 100 persen bergantung pada kebun sayur, bahkan sampai di daerah konservasi taman nasional, kita ingin mengubah itu,” kata Tosca Santoso, pemrakarsa Desa Wisata Sarongge, kepada Okezone di Cianjur, Jawa Barat, baru-baru ini.

Ketua Green Initiative Foundation ini menambahkan, Kampung Sarongge akan mampu menjadi desa wisata yang mendatangkan banyak wisatawan berkat dua keunggulannya. Kampung Sarongge, disebutnya, punya hutan tropis dan kebudayaan masyarakat lokal yang unik.

“Wisatawan bisa mengenal tumbuh-tumbuhan yang luar biasa, satwanya juga cukup banyak. Tradisi masyarakat yang tinggal di sekitar hutan, termasuk budaya menjaga hutan layak dibagikan kepada orang lain. Apalagi ini dekat dari Jakarta,” tambahnya.

“Kita juga ingin memperlihatkan kepada masyarakat dan dunia bahwa di sini ada peristiwa reforestasi yang hebat, tadinya kebun sayur kini menjadi hutan di mana daerah lain kecenderungannya adalah deforestasi,” ujarnya.

Seluas 38 hektare TNGGP hampir pulih berkat adopsi pohon selama 5 tahun belakangan, dengan sekira 22 ribu pohon berhasil ditanam. Dengan adopsi pohon, setiap wisatawan yang datang bisa melakukannya dengan harga per pohon Rp108 ribu.

Berubahnya wajah Kampung Sarongge bermula ketika pada 2003 TNGGP diperluas dari 15.196 hektare menjadi 21.975 hektare. Permasalahannya, areal perluasan taman nasional sebelumnya merupakan kawasan hutan produksi yang dikelola Perum Perhutani dan sebagai besar merupakan lahan yang telah terdegradasi. Pada beberapa bagiannya terjadi perambahan hutan oleh masyarakat lokal untuk kegiatan pertanian. Pada umumnya, areal yang dirambah tersebut berada di lereng gunung, dengan kemiringan lebih dari 30 derajat sehingga sangat rawan terhadap tanah longsor serta erosi.

Benturan kepentingan konservasi dan kebutuhan hidup masyarakat lokal ini menjadi konflik tersendiri dalam pengelolaan TNGGP. Salah satunya di wilayah Kampung Sarongge, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, yang berbatasan dengan kawasan TNGGP.

Di Sarongge, setidaknya ada 155 kepala keluarga yang bercocok tanam di dalam kawasan TNGGP. Berangsur-angsur mereka meninggalkan lahan tersebut menuju lapangan pekerjaan lain sembari merawat hutan yang ada.

Kini, Desa Wisata Sarongge bisa menjadi alternatif ekowisata Anda dan keluarga. Di dalamnya ada lahan peternakan, kebun sayur, budidaya lebah madu, budidaya ulat sutera dan galeri kain sutera, perkebunan sereh wangi, pertanian organik, camping ground, apotek hidup, serta homestay. Buah hati bisa berlibur sekaligus belajar.

“Sejauh ini, asal kepentingan ekonomi terpenuhi, mereka terbuka, jadi tidak hanya mengandalkan kebun sayur. Wisata juga bisa menambah pemasukan, di mana petani bisa menjadi guide, dapat Rp200 ribu sementara mencangkul hanya Rp20 ribu per hari,” tutupnya.

(ftr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini