Ekowisata Kian Dirindukan, Saatnya Turis Harus Bertanggungjawab

Fitri Yulianti, Jurnalis · Selasa 02 Juli 2013 20:12 WIB
https: img.okezone.com content 2013 07 02 408 830752 HustARLOPb.jpg Menparekraf Mari Elka Pangestu di Desa Wisata Sarongge (Foto: Fitri/Okezone)

DESTINASI dan aktivitas wisata mengikuti minat apapun yang Anda punya. Di ekowisata, Anda punya kewajiban lebih untuk menjaga ekosistem yang sedang dinikmati.

Kembali ke desa, begitu kira-kira jenis wisata yang kini ngetren. Wisatawan diajak untuk merasakan atmosfer pedesaan yang alami, dengan aktivitas kesehariannya yang dekat dengan alam dan kearifan lokal. Kian diminati karena ekowisata menawarkan pengalaman tidak biasa, bisa jadi berbeda jauh dari masyarakat perkotaan yang penat dengan kesemrawutan. Beberapa kegiatan dalam ekowisata, seperti beternak domba, membajak sawah, memanen sayur, budidaya ulat sutera, budidaya lebah madu, kemping, dan sebagainya.

“Definisi ekowisata sederhana saja; ada tempat yang alami dan dikelola secara berkelanjutan. Yang datang juga harus bertanggung jawab; tidak boleh buang sampah sembarangan, misalnya. Terakhir, definisinya adalah menyangkut memberi keuntungan untuk masyarakat lokal,” kata Mari Elka Pangestu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, di Desa Wisata Sarongge, Cianjur, Jawa Barat, baru-baru ini.

Mari menambahkan, bentuk ekowisata yang juga kian populer di kalangan wisatawan adalah trekking dan bird watching. Di Desa Wisata Sarongge, misalnya, wisatawan bisa trekking sekira 2 jam untuk menuju Pohon Ki Hujan. Pohon ini berbunga setahun sekali, biasanya pada Oktober. Saat bunganya rontok, mirip hujan turun. Pohon ini menjadi sarang nyaman untuk burung-burung. Ki Hujan di Hutan Sarongge diperkirakan ada yang sudah berumur 200 tahun. Lingkar batangnya diperkirakan 7 meter, dan setidaknya butuh 6 orang dewasa untuk mengelilingi batang pohon tersebut.

Wisatawan juga bisa trekking selama 4-5 jam menuju Curug Ciheulang. Curug, dalam bahasa Sunda berarti "air terjun". Curug ini terletak di perbatasan Sarongge dan Maleber. Ciheulang merupakan sumber air penting untuk Desa Ciherang, Maleber, dan berbagai tempat yang lebih hilir. Di sini ada mata air aneka rasa, salah satunya berasa asam. Di hulunya, diperkirakan sumber mata air ini bercampur gas belerang, yang memang muncul di banyak tempat di Gunung Gede.

Menurut Mari, ekowisata memungkinkan wisatawan mendapatkan edukasi tentang banyak hal. Sebagai contoh, anak-anak sekolah bisa diajak berkunjung dan menginap beberapa hari untuk mengetahui cara menanam pohon, memelihara ternak, dan aktivitas lainnya di desa.

“Mungkin anak kota banyak yang tidak tahu bahwa anak ayam kakinya dua, misalnya. Hal-hal seperti ini, di banyak negera yang kelas menengahnya lebih besar, orangtua khawatir anak-anaknya tidak mengerti alam,” jelasnya.

Mari sendiri melihat peningkatan minat ekowisata yang begitu besar, terutama di kalangan anak muda dan keluarga yang anak-anaknya masih kecil. Gaya hidup berubah, dan yang diinginkan orang dalam berwisata bukan sekadar belanja ataupun tinggal di hotel bagus.

“Mereka mencari pengalaman yang bebeda, menarik, unik, dan sehat,” tandasnya.

Yang juga dirindukan saat berekowisata adalah menginap di rumah warga alias homestay, memungkinkan wisatawan untuk berinteraksi lebih dalam dengan masyarakat setempat. Dikatakan Mari, homestay memang tengah digencarkan kuantitasnya oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif di banyak tempat di Tanah Air karena sangat menguntungkan masyarakat setempat.

“Untuk orang kota, untuk mengalami tinggal di desa, itu pengalaman yang baik. Yang perlu diperhatikan adalah standar mengelola homestay dengan baik,” tutupnya.

(ftr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini