Curhat Pelukis Potret di Pantai Galesong (2-Habis)

Arpan Rachman, Jurnalis · Rabu 27 November 2013 14:06 WIB
https: img.okezone.com content 2013 11 27 408 903502 EsX5PFbLjW.jpg Nasrun, pelukis potret di Pantai Galesong (Foto: Andi Aisyah/Okezone)

SELAIN melukis potret, Nasrun S juga melukis pemandangan. Semua lukisan yang tertera di dinding dalam Hotel Wisata Pantai Galesong, ternyata dia yang melukisnya.

“Sekarang saya sering diundang untuk membuat gambar-gambar seperti di hotel ini, itu biayanya Rp30 juta lebih, berarti sudah mulai ada harapan untuk pelukis seperti saya ini. Terus ada lagi di komplek UMI (Universitas Muslim Indonesia-red) dekat fly over itu juga saya yang lukis. Terus cabangnya hotel ini di Pasar Segar, Makassar, saya borong di sana itu Rp60 juta,” kata Nasrun.

Tak urung pula dia mengungkapkan rasa prihatinnya atas perkembangan seni rupa di Sulawesi Selatan. Katanya, di Benteng Fort Rotterdam, Makassar, artis seni rupa dan seniman lukis hanya diberi tempat kecil, yang untuk masuk setiap orang harus membungkuk lantaran ambang pintu masuknya amat rendah.

“Diberi tempat berupa gudang yang tingginya cuma satu meter. Orang terbungkuk-bungkuk kalau mau masuk. Tidak ada penghargaan sama sekali untuk seni rupa. Kantor-kantor lain (misalnya) seni tari, teater, dan lainnya tempatnya bagus-bagus. Seni rupa atau seni lukis di Sulawesi Selatan, tadi saya bilang, jalan di tempat,” curhat Nasrun.

Dia mematok harga bervariasi antara Rp75 ribu-Rp300 ribu untuk lukis langsung jadi selama 20 menit. “Kalau menurut pelukis-pelukis lain, saya sudah merusak harga sebenarnya. Bikinnya setengah mati, menguras energi, harganya cuma Rp300 ribu,” tukas Nasrun.

Diceritakannya, almarhum pelukis Ali Walangadi, lukisannya waktu itu dipasang harga Rp5 juta, ditawar orang Rp500 ribu. “Itu lukisan dia robek-robek di depan orang yang menawar itu, tersinggung berat dia,” tutur Nasrun, yang selama 30 tahun dulu sempat merantau ke Jawa.

Di sekitar tempatnya duduk melukis di lobi Hotel Wisata Pantai Galesong bertebaran lukisan potret yang sudah selesai. Letak lobi hotel itu hanya sekira dua puluh meter dari bibir Pantai Galesong.

Lobi hotel dan pantai di antarai sebuah kolam renang yang pagi itu sedang diramaikan para pengunjung mandi. Bunyi “Byuurr...byuur!” kecipak air dan suara tawa, “Haha... hihi!” riuh-rendah hiruk-pikuk pengunjung yang bermain di kolam dan di pantai tak dia hiraukan. Nasrun terus asyik melukis, kendati tangannya telah renta.

(ftr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini