Menyambangi Pedesaan Suku Dayak di Pegunungan Meratus

Winda Destiana, Jurnalis · Selasa 04 Februari 2014 11:39 WIB
https: img.okezone.com content 2014 02 03 408 935527 IKTfOpmF9w.jpg Foto: Indonesia travel

DAERAH terpencil di Kalimantan Selatan ini dikenal dengan nama Loksado. Ini adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Hulu Sungai Selatan yang menjadi rumah suku Dayak, yang hidup lestari dengan lanskap alam megah.

 

Menuju tempat ini, maka Anda akan menjelajahi jantung pegunungan Meratus sekira 2,5 jam dari Banjarmasin, Ibu Kota Kalimantan Selatan. Berikutnya, bersiaplah terhanyut dalam keindahan panorama hutan tropis yang dihiasi rentetan air terjun dan aliran sungai yang membelah lebat hutannya.

 

Kawasan pegunungan Meratus sendiri merupakan rumah bagi suku asli Dayak Meratus yang tinggal di rumah-rumah tradisional atau dikenal dengan nama Balai. Balai merupakan rumah tradisional suku dayak, terdiri dari sepuluh ruangan berukuran 3 sampai 4 meter yang dapat menampung hingga 10 keluarga. Saat ini, setidaknya ada 43 balai dapat ditemukan di embilan desa di Loksado dan yang paling terkenal adalah Balai Hambawang Masam, Balai Adat Malaris, Balai Kacang Parang, dan Balai Haratai.

 

Walaupun sudah banyak suku Dayak yang beralih tinggal di rumah modern, balai-balai ini masih digunakan untuk berbagai kegiatan terutama ritual kepercayaan adat. Sama seperti kebanyakan suku Dayak, Dayak Meratus menganut kepercayaan turun-temurun, yaitu Kaharingan, yang berarti “kehidupan”. Sistem kepercayaan ini meyakini konsep Dewa Agung yang menekankan keharmonisan antara manusia dan alam serta antara manusia dan Tuhan.

 

Suku Dayak Meratus mempraktekkan ritual Aruh Ganal yang dilakukan secara besar-besaran. Ada tiga tahapan dalam ritual ini. Pertama, Aruh Basambu (behuma/menugal) setelah tanam padi atau sekitar bulan Februari. Kedua, Aruh Bawanang Halin yang dilakukan untuk merayakan musim panen pada Juni. Terakhir adalah Aruh Bawan Banih Hanlin yaitu kegiatan penutupan musim panen pada September. Ritual Aruh Ganal dapat ditemui di beberapa desa, seperti di Desa Haratai, Desa Muara Ulang, Desa Lahung, dan lainnya.

 

Kebudayaan suku Dayak sama menariknya dengan kemegahan alam Pegunungan Meratus itu sendiri. Pemandangan lanskap yang subur dihiasi rangkaian air terjun, yaitu: Air terjun Haratai, Ari terjun Riam Hanai, Air Terjun Kilat Api, Air Terjun Rampah Menjagan, Air terjun Pemandian Anggang, dan Air terjun Tinggiran Hayam.

 

Di Pegunungan Meratus juga terdapat Sumber Air Panas Tanuhi dimana Anda bisa menikmati air panas segar langsung dari alam. Hutan tropisnya sendiri memiliki flora mengagumkan diantaranya kantong semar (Nepenthes distillatoria) dan anggrek meratus (Dendrobium hepaticum).

 

Salah satu keindahan di Loksado yang tidak boleh terlewatkan adalah Sungai Amandit yang mengalir melewati jantung hutan Pegunungan Meratus. Sungai yang memiliki air jernih dan segar ini dihiasi bebatuan, anak sungai dan jembatan tradisional. Untuk melengkapi semua keindahan ini, menaiki rakit bambu dan menelusuri sepanjang aliran sungai akan memberikan sensai tersendiri, seperti dilansir dari IndonesiaTravel.

(ftr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini