Uniknya Wayang Orang Tionghoa

Utami Evi Riyani, Jurnalis · Senin 03 November 2014 16:25 WIB
https: img.okezone.com content 2014 11 03 406 1060417 uniknya-wayang-orang-tionghoa-Lfo6c4dvSy.jpg Wayang orang di Gelar Budaya Rakyat 2014 (Foto: Helmi/Okezone)
KESENIAN wayang orang juga turut dikenalkan keturunan Tionghoa di Palembang. Uniknya, seluruh pemain dalam kesenian tersebut adalah laki-laki.
 
Pementasan wayang orang Tionghoa sendiri memang masih terbatas di satu klenteng ke klenteng lain. Sedangkan untuk ceritanya, ada perpaduan antara Tionghoa dan Indonesia.
 
“Kami hanya pentas di klenteng dan undangan dari pemerintah. Kalau ada acara ulang tahun klenteng dan diundang, kami pentas di sana,” ujar Jhoni, salah seorang pemain kepada Okezone di Monas, Jakarta Pusat, Minggu (2 November 2014).
 
Kesenian dengan sanggar bernama So Lam Kho Kei Sie ini biasanya membawakan cerita dengan latar belakang budaya Tiongkok. Kendati demikian, tema yang mereka ambil saat pementasan, cukup luas.
 
Misalnya saja seperti asal-usul Pulau Kemaro, yang baru saja dipentaskan.Kisah Pulau Kemaro adalah cerita rakyat asal Palembang yang mengisahkan tentang asal-usul terbentuknya Pulau Kemaro. Cerita ini mengandung unsur budaya Tiongkok dan Kerajaan Sriwijaya yang dimainkan melalui karakter Tan Bun Ann dan Siti Fatimah.
 
“Tema baru kami adalah Pulau Kemaro. Pulau Kemaro ini mengandung cerita orang Tiongkok dengan Kerajaan Sriwijaya. Jadi nggak hanya cerita Tiongkok, tapi ada hubungannya dengan Tiongkok dan Islam,
 
”Pementasan Pulau Kemaro pernah dibawakan di Medan. Mereka berharap akan membawakan pementasan itu jika diundang ke Jakarta kembali. Wayang orang Tiongkok sempat melakukan pementasan di lapangan Monas untuk meramaikan Gelar Budaya Rakyat yang diadakan pada hari Sabtu lalu.
 
“Kalau kami diundang lagi, kami akan bawakan cerita Pulau Kemaro itu,” tutup Jhoni.

(fik)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini