Menikmati Wisata Keramik Kuno di 'Downtown' Denpasar

ant, Jurnalis · Selasa 19 April 2016 11:00 WIB
https: img.okezone.com content 2016 04 19 406 1366576 menikmati-wisata-keramik-kuno-di-downtown-denpasar-d5wrdevn1Q.jpg Foto: YouTube

DENPASAR - Menikmati keramik kuno itu tak ubahnya membuka lembar sejarah yang tertuang lewat karya seni. Bahkan sekarang keramik kuno ini sering disebut sebagai harta karun sehingga diperebutkan karena harganya tak ternilai.

Pendapat tersebut setidaknya ada dalam pikiran Ida Bagus Mayun, kolektor keramik antik pendiri Satria Art Space di Denpasar, Bali.

Bagi Ida Bagus Mayun, mengumpulkan karya seni keramik kuno ibarat menyatukan kepingan-kepingan sejarah masa silam. Sejak puluhan tahun lampau, lelaki ini menjadikan keramik sebagai pelabuhan hati untuk mengisi dan memaknai hari-hari.

Keramik mampu menjadikan kehidupan menjadi lebih berirama dan berwarna. Proses pengumpulan keramik antik di berbagai daerah di Bali dan Jawa, akhirnya menjadi ritme keseharian lelaki ini, hingga tanpa terasa jumlahnya kini mencapai 600 lebih.

Keramik memiliki keistimewaan pada bentuk, pahatan simbol-simbol dan motif lukisan yang beragam. China selama ini dikenal sebagai negeri penghasil karya seni keramik berkualitas tinggi, yang akhirnya menyebar hingga ke seluruh penjuru dunia.

Keramik bahkan disebut-sebut sebagai barang mewah dan bahkan kini mendapat status terhormat sebagai harta karun dari China. Ketika ada kapal-kapal dagang yang tenggelam, maka keramik asal Negeri Tiongkok itu paling dicari berkaitan dengan nilainya yang tinggi.

Sejak Abad IX-XVIII

Keramik antik yang ditemukan di Indonesia, pada umumnya berasal dari abad IX sampai abad XVIII. Merupakan peninggalan dari zaman Dinasti Song (960-1279), Dinasti Yuan (1280-1368), Dinasti Ming (1368-1644), dan Dinasti Qing (1644-1912). Semasa era Dinasti Ming, terdapat mahakarya seni keramik periode Cheng Hua tahun 1465-1487, Wan Li (1573 - 1616) dan periode Raja Kang Shi (1662 - 1722).

Di Bali, keramik antik Negeri Tiongkok banyak dijumpai di kerajaan atau tempat suci, misalnya berwujud guci, piring, mangkok, tempat tirta, atau alat perlengkapan upacara.

Keramik yang sampai kini diburu warga setempat, misalnya "magic bowl porselin", yang dikenal sebagai benda bertuah. Benda ini mampu mengeluarkan suara bergema dan bisa dipergunakan untuk mengusir aura-aura negatif pada malam hari.

Benda ini diperkirakan terdapat di beberapa puri atau tempat suci, namun jumlahnya terbatas dan hanya beredar di masyarakat dalam hitungan jari.

Dalam hal produksi keramik, kebudayaan China tergolong paling maju dengan hasil keramik bermutu tinggi. Tahun pembuatan keramik China sudah dimulai sekitar abad 2000 SM yang berawal dari tembikar. Beratus tahun kemudian, ada proses penyempurnaan sampai mendapatkan kualitas keramik putih bening yang disebut "porcelain Tiongkok".

Perkembangan pesat porcelain di China sudah dimulai sejak tahun 1300 hingga 1600, menyusul Eropa, Jepang, dan Asia Tenggara. Khusus untuk Indonesia, ada budaya tembikar atau teracota dari zaman Kerajaan Majapahit, terutama dari abad XIV, yang banyak ditemukan di Jawa dan Bali.

Koleksi Tokoh Besar

Mengoleksi keramik antik, telah dilakukan sejumlah tokoh besar Indonesia. Tokoh-tokoh seperti Bung Karno, Adam Malik, Sofyan Wanandi, Guruh Soekarnoputra, Sudomo, Joop Ave, dan lainnya, dikenal sebagai orang-orang yang memiliki kepedulian sekaligus pengoleksi keramik antik.

"Bung Karno mengoleksi berbagai jenis porselin antik, karena beliau mengerti seni dan mempunyai apresiasi yang luar biasa tentang seni. Baik itu seni tari, patung, seni lukis dan lainnya. Kedekatan dengan bidang seni, banyak menginspirasi beliau dalam menemukan gagasan memimpin bangsa ini," kata lelaki yang akrab dipanggil Gus Mayun.

Merujuk sebuah survei yang dilakukan di Eropa dan Amerika, dengan mengoleksi benda-benda seni, maka seseorang merasa berada pada suatu tempat yang tenang, aman dan nyaman.

Bagaikan berada di tengah alam dengan deretan pepohonan yang rindang. Ketenangan yang meresap di dalam hati melalui pori-pori di badan ini, mampu menguarkan suasana hening bagai air telaga yang bening dan bersih sehingga membawa suasana hati yang damai.

Patung Gajah Mada "Keindahan dan suasana kedamaian batin ini, membuat kolektor seni sering tak tanggung-tanggung dalam mengumpulkan benda-benda yang disukai. Kalau saya, sudah bergelut dengan keramik sejak tahun 1973, bermula ketika sering menemani tamu asing yang berburu keramik antik di Bali," ujar suami dari Sri Lestari Mayun.

Seiring waktu, Gus Mayun justru jatuh hati dengan keramik. Lelaki ini mengumpulkan keramik dari berbagai tempat di Bali, termasuk keramik kuno dari Nusa Penida.

Setiap kedatangan penggemar keramik dari mancanegara, Gus Mayun kemudian menawarkan koleksinya. Benda-benda keramik yang dikoleksi lelaki ini makin bertambah, ketika memperluas jaringan hingga ke Jawa, agar bisa mendapatkan keramik-keramik berkelas peninggalan zaman dulu.

"Sampai akhirnya, keramik yang saya koleksi sudah mencapai lebih dari 600 jenis keramik. Ada keramik gajah peninggalan Kerajaan Mataram, keramik Patung Gajah Mada. Koleksi saya mayoritas keramik dari Tiongkok. Proses pencarian keramik itu membutuhkan waktu panjang, namun saya menghayatinya. Dan jika ada waktu senggang, saya sering main ke museum untuk melihat koleksi keramik yang ada," ujar Gus Mayun.

Sayangnya, koleksi keramik di beberapa museum di Indonesia, sering tidak ada pembaharuan. Koleksi keramiknya dari waktu ke waktu itu-itu saja, sehingga pengunjung menjadi jenuh.

Memiliki Arti Penting

Berbeda halnya dengan museum di luar negeri, yang umumnya ramai dikunjungi wisatawan. Rasa antusiasme ini muncul, karena pengunjung memiliki apresiasi yang tinggi terhadap karya seni yang nilainya amat tinggi itu. Dikarenakan tidak mampu membeli dan memiliki benda seni, maka pengunjung pun menikmatinya di museum sehingga selalu ramai didatangi pengunjung.

"Mengunjungi museum itu ibarat hiburan rohani. Sebagai destinasi internasional, sudah waktunya dipikirkan untuk membuat museum keramik antik di Bali, sebagai penunjang dan memperkaya tujuan berwisata. Apalagi menurut survei di Eropa dan Amerika, kunjungan ke museum keramik itu jauh lebih ramai. Dibandingkan dengan kunjungan museum atau destinasi lain," ujarnya.

Menurut Gus Mayun, diharapkan Pemerintah Provinsi Bali atau Kota Denpasar tergugah dan mendapatkan ide untuk memperkaya kunjungan wisata dengan menambah satu jenis museum khusus "ancient ceramic's" yang tentu sangat menarik bagi wisatawan mancanegara yang ingin tahu lebih banyak mengenai karya seni yang terkategori langka.

"Untuk mewujudkan hal ini, perlu ada donatur yang sungguh-sungguh memiliki kepedulian pada keramik. Dengan kepedulian ini, maka suatu saat bisa terwujud museum keramik antik di Pulau Bali. Jika pembangunan museum ini terwujud, saya yakin masing-masing kolektor dengan suka rela akan menyumbangkan sebagian koleksinya untuk dipajang di museum," katanya.

Sementara itu, Wali Kota Denpasar Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra menyebutkan, keberadaan "art space" atau museum seni, memiliki arti penting karena dapat memberikan pengetahuan lebih kepada masyarakat.

"Kebetulan Satria Art Space letaknya di tengah kota, di kawasan Z yang merupakan 'downtown' sebagai daerah yang ditetapkan sebagai 'heritage city' di Denpasar," ujar Rai Mantra.

Dia melanjutkan, jika semakin banyak museum di suatu daerah, maka peradaban kebudayaannya di mata dunia semakin baik. Pilihan kunjungan wisatawan pun menjadi beragam di Pulau Bali.

"Tinggal memberikan lebih banyak informasi pada masing-masing keramik kuno, mengenai asal daerah dan tahun pembuatan. Atau barangkali sejarah di balik penemuan, jika keramik itu hasil penggalian atau didapatkan dari kapal tenggelam," katanya.

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini