Topeng Monyet di Negara Ini Jadi Wisata Andalan

Agregasi Sindonews.com, Jurnalis · Senin 09 Mei 2016 14:48 WIB
https: img.okezone.com content 2016 05 09 406 1383612 topeng-monyet-di-negara-ini-jadi-wisata-andalan-BE2pyoZ9qo.jpg topeng monyet di Thailand (newsapi.com)

BANGKOK - Seekor monyet yang didandani melompat melalui lingkaran penuh dengan di sekeliling lingkaran logam itu terdapat pisau dan lalu dihidupkan api.

Jika Anda melihat sebuah drama seperti di atas, salah satu pikiran yang melintas di benak Anda pastilah lingkaran tadi dapat menyebabkan cedera serius atau kematian bagi si monyet jika dia tidak berhati-hati atau tidak memiliki keahlian ketika melewatinya.

Tapi bagi ratusan penonton yang memadati sebuah show monyet tadi, sambil menahan napas. Mereka kemudian tertawa terbahak-bahak saat melihat si monyet mampu melewati lingkaran pisau dan lingkaran yang terbakar dengan tanpa satu lukapun ditubuhnya.

Ini adalah realitas mengejutkan dari satu diantara puluhan hiburan wisata di Thailand, sebagaimana terungkap dalam serangkaian foto baru, seperti dilansir dari epa.

Kate Schneider, jurnalis sekaligus penulis di situs news.com.au, ternyata menunjukkan gambar dan foto-foto dari drama show rombongan monyet (sirkus) Prakit Sitpragaan yang tengah tampil di pinggiran Kota Bangkok, Thailand, baru-baru ini, di mana mereka telah mengisi acara tersebut selama lebih dari 30 tahun.

Rombongan sirkus ini biasanya juga menggunakan dubbing kala si monyet bermain keluar dengan cerita yang diadaptasi dari novel klasik Asia atau cerita rakyat setempat. Teraktual, ada beberapa plot kontemporer juga, dalam upaya untuk membuat acara lebih disenangi oleh anak muda dan wisatawan.

Wendy Higgins dari Humane Society International di Inggris mengatakan kepada situs Express.co.uk: "Show ini memang tidak terlalu terkenal, tapi ini menjadi sesuatu yang cukup sering Anda lihat di Thailand, China dan negara-negara Asia lainnya.

"Akan selalu memuakkan untuk melihat hal-hal ini dan untuk melihat hewan-hewan ini terdegradasi adalah memilukan. Sudah cukup buruk melihat mereka dipaksa untuk melakukannya, tetapi seringnya mereka telah ditangkap dari alam liar dan kemudian dibesarkan di penangkaran."

Dia pun memohon wisatawan untuk tidak menghadiri show tersebut, karena dengan demikian sang turis juga ikut mendukung show tadi.

"Penyalahgunaan hewan apapun dalam situasi ini adalah mengerikan. Rapi ada sesuatu yang sangat menyedihkan tentang primata dalam situasi ini di mana orang-orang tertawa dan menikmati pelecehan mereka."

PETA, Organisasi Masyarakat untuk Perlakuan Etis terhadap Hewan yang dibentuk sejak Maret 1980 dan berpusat di Norfolk, Virginia, Amerika Serikat. Juga telah mengutuk foto show ini, sambil menyebut mereka "mengerikan" dalam posting blog, sekaligus mendesak wisatawan untuk menghindari tempat-tempat seperti ini.

Isi unggahan di blog PETA: "Ibu primata, yang penuh semangat melindungi bayi mereka, dirantai di tiang jauh, sementara bayi mereka dianiaya. Beberapa bayi lainnya dipaksa untuk bermain dengan api. Mereka dipaksa untuk melompat melalui lingkaran yang telah dilapisi dengan pisau, di mana satu kesalahan dapat menyebabkan cedera serius atau kematian.”

"Hewan-hewan yang punya kecerdasan tajam ini menderita dari dilemahkan melalui rasa kesepian, stres, dan depresi ketika mereka terpisah dari keluarga mereka, dan mereka dilatih melalui tahap pemukulan dan ketakutan. Roh monyet telah rusak, dan banyak diantara mereka jadi gila, terus berputar-putar atau mondar-mandir, menggigit anggota badan mereka sendiri, menarik rambut mereka sendiri, dan bergoyang-goyang."

PETA menyoroti bahwa karena kurangnya hukum perlindungan hewan yang tepat di wilayah tersebut, kini terserah pada kita untuk menghentikan problem ini.

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini