Membius Keindahan Wisata Bahari Indonesia melalui Dua Pantai Rembang

Fathurrochman, Jurnalis · Senin 01 Agustus 2016 14:02 WIB
https: img.okezone.com content 2016 08 01 406 1451886 membius-keindahan-wisata-bahari-indonesia-melalui-pantai-dampo-awang-41uK3OJApX.jpg Pantai di Indonesia (Foto: Fathurrochman/Okezone)

BERAGAM pantai di Indonesia kerap dijadikan aktifitas, tak terkecuali Pantai Dampo Awang. Ingin tahu lebih dalam? berikut penuturannya.

Sejak pagi, Nada sibuk berhias diri. Bocah cilik yang duduk di kelas TK kecil itu tampak bahagia. Pasalnya, bersama temannya ia akan mengikuti lomba drumband tingkat kabupaten di Dampo Awang Beach.

“Kemarin saya berjualan es degan dan pempek di sini. Selama tujuh hari acara Lebaran Ketupat, atu stand dikenakan Rp220 ribu. Yang datang sangat banyak dari Rembang sendiri maupun luar kota seperti Pati dan Lamongan,” tutur Zaenab, ibunda Nada.

Bagi masyarakat Rembang, pantai ini tak asing lagi. Banyak event besar digelar di sini. Baik yang diadakan oleh lembaga maupun masyarakat sekitar sebagai tradisi tahunan.

Pantai Dampo Awang terletak di jantung kota, bersebelahan dengan jalan pantura (pantai utara) yang dilalui banyak mobil berbagai kota dan lintas provinsi.

Dahulu, Dampo Awang Beach bernama Pantai Taman Kartini. Namun, berganti nama agar berbeda dengan Jepara yang sama-sama memiliki Pantai Kartini.

Para pengunjung ada yang bertandang sebelum Matahari terbit. Mereka membenamkan tubuhnya di dalam air laut. Diyakini, air laut pagi hari bisa sebagai obat. Terutama bisa menyembuhkan penyakit kulit.

Ombak di pagi hari sangat tenang. Sehingga bisa dinikmati dengan nyaman. Namun harus hati-hati karena ada beberapa ubur-ubur yang berada di pingir pantai. Konon, jika tersentuh akan mengakibatkan kulit gatal-gatal.

Travellers hanya dikenakan tarif parkir kendaraan jika mengunjungi pantai ini kala pagi. Sedangkan di jam normal tarif yang belaku Rp10 ribu.

Ada banyak fasilitas yang bisa dinikmati di pantai ini. Di sebelah timur ada kolom renang air tawar dengan tarif Rp10 ribu.

Di bagian tengah ada perahu kayuh bebek angsa, dan di taman ada banyak permainan untuk anak-anak seperti ayunan, perosotan, dan lainnya.

Tak hanya itu, Dampo Awang Beach juga merekam jejak-jekak sejarah. Kita akan mendapati sebuah jangkar raksasa.

Meski kini sudah modern, hingga kini belum ada masyarakat nelayan setempat yang membuat jangkar sebesar itu.

Konon ceritanya, pada saat Sam Phoo Khong berlayar di laut Jawa dalam rangka ekspedisi ke Selatan, kapalnya diterjang gelombang besar hingga rusak berat.

Rantai jangkar kapal itu terlepas dan terdampar di Rembang, sedangkan layarnya tertiup angin topan yang akhirnya jatuh di Pantai Bonang yang sekarang terkenal sebagai batu layar.

Demi mengingat peristiwa itu selanjutnya Kabupaten Rembang mengabadikan jangkar tersebut sebagai simbol semangat bahari. Bahkan, jangkar yang dulunya berada di tengah-tengah pantai itu pada 2003 dipindahkan ke tempat yang aman.

Jangkar itu sekarang berada di monumen megah yang dilengkapi dengan pelindung kaca dan lampu yang dibangun di atas perairan tepi pantai, tepatnya 20 meter dari garis pantai.

Di dekat pintu masuk pantai terdapat pula puing-puing sejarah. Sebuah bangunan kuno yang masih kokoh. Menurut informasi dari Dinas Pariwisata Rembang, di atap bangunan ini pernah ditemukan tulisan angka tahun pembuatan gedung tersebut, yakni tahun 1811.

Seandainya hal ini benar maka kemungkinan gedung ini dibuat pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal HW Daendels (1808-1811). Sejak tahun 1945, gedung ini dimanfaatkan sebagai gereja oleh Jemaat Umat Kristen Protestan. Kini dijadikan sebagai perpustakaan daerah.

Tak ketinggalan pula, di pantai ini tersedia kios cinderamata yang menjual banyak buah tangan khas Pantai Rembang. Harganya cukup murah dan kualitas dijamin tidak mengecewakan.

Tak jauh dari Dampo Awang Beach ada juga sebuah pantai menawan. Sekira 9,3 km ke arah timur atau 14 menit. Masyarakat Rembang menyebutnya Pantai Karangjahe, karena tempat itu berlokasi di Karangjahe, Punjulharjo, Rembang.

Akses masuk menuju pantai ini tidak terlalu sulit. Travellers bisa masuk dari jalan raya pantai utara (pantura) ke kiri. Memasuki pedesaan dan beberapa tambak milik warga. Lalu terdapat gapura yang menunjukkan pintu masuk pantai.

Kendaraan pribadi hanya membayar uang parkir dan kebersihan. Untuk roda dua sebesar Rp3 ribu, roda empat Rp10 ribu , dan bus besar Rp40 ribu. Belum ada tiket retribusi seperti pada umumnya memasuki tempat wisata.

Secara fisik, pantai ini tidak seperti Dampo Awang Beach. Di sini tidak banyak bangunan dan sarana bermain anak-anak. Yang ada hanya bantaran pasir putih yang luas ditambah dengan pohon casuarina equisetifolia atau biasa disebut cemara laut dan cemara udang.

Keindahan alam di pantai ini sangat memanjakan mata. Pantai yang luas dan angin yang semilir membuat para pengunjung betah berjam-jam. Bagi yang tidak suka basah-basahan, bisa berjalan sepanjang pinggiran pantai. Atau bermain ala tradisional seperti ayunan dan egrang yang dibuat masyarakat sekitar.

M Ali Mustofa, ketua pengelola pantai Karangjahe menuturkan bahwa tempat ini juga cocok diguakan foto session pre wedding atau session model, garden party pernikahan, menikmati sunrise dan sunset, outbond, pertemuan kantor, event reuni akbar, dll, menjadi pilihan tepat jika berkunjung ke pantai ini dengan teman, keluarga. Jika memiliki event outdoor Pantai Karang Jahe menjadi pilihan patut diperhitungkan.

“Saya baru sekali ke sini. Pantainya bersih, adem, dan pasirnya bagus,” ungkap Lili yang datang dari Jakarta bersama keluarganya.

Para pelancong juga bisa menikmati warung-warung semipermanen yang mulai banyak berdiri. Di sana menjual es degan (kelapa muda) yang masih asli. Beberapa makanan lain juga dijajakkan, seperti kue-kue, mi instan dan kopi hitam panas.

“Saya baru sekali ke sini. Pantainya bersih, adem, dan pasirnya bagus,” ungkap Lili yang dating dari Jakarta bersama keluarganya.

Pengunjung lain, Hadi, menuturkan bahwa pemberdayaan masyarakat menggunakan konsep Desa Wisata memang semakin marak di Indonesia, seperti desa-desa pesisir Bali, Sawarna di Banten, atau Karangjahe ini.

Ia menambahkan, konsepnya menarik, sumber daya alam di desa ini yang bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan warganya sendiri. Baik untuk meningkatkan PADes (Pendapatan Asli Desa) yang digunakan untuk pembangunan desa, maupun peningkatan pendapatan (income) masyarakat desa secara pribadi.

“Tentu konsep desa wisata efektif mengurangi pengangguran. Banyak warga yang buka warung jajanan dipinggiran pantai, penyewaan ban renang, perahu, bahkan sampai penyewaan lahan parkir kendaraan,” pungkas pria alumnus Pesantren TPI, Leteh, Rembang itu.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini