Share

Batu Tigo Sajarangan dan Prasasti Pariangan Adityawarman

Rus Akbar, Jurnalis · Sabtu 29 Oktober 2016 11:29 WIB
https: img.okezone.com content 2016 10 28 406 1527270 batu-tigo-sajarangan-dan-prasasti-pariangan-adityawarman-RrxBHO4Usf.jpg Prasasti Pariangan (Foto: Rus Akbar/Okezone)

DI depan Masjid Tuo Ishlah, Nagari Pariangan Kabupaten Padang ada sebuah batu yang ditetapkan benda cagar budaya, batu tersebut berukuran lebar 2,6 meter dan tinggi 1,6 meter.

Bagi warga setempat batu itu ada tiga dengan ukuran yang sama terletak sekita komplek Masjid Tuo Ishlah dinamakan batu Tigo Tunggu Sajarangan, jarak antara batu satu dengan yang lainnya ada sekira 50 meter, jika dibuatkan gambar bentuknya menyerupai persegi tiga.

Namun dari tersebut hanya satu batu yang diberi pagar besi dan atap bagajong, satu batu tersebut ada tulisan sanskerta, konon batu tersebut ditulis oleh Raja Pagaruyung Adityawarman.

β€œBelum ada yang berhasil apa maksud tulisan itu, jumlah baris tulisan itu ada 12, namun yang jelas tulisannya hanya enam baris selebihnya kabur,” tutur toko adat Zamaludin Datuk Mangkuto, (83).

Memudarnya tulisan yang dibuat terukir itu, karena tertutup debu dan seperti kurang perawatan. Di batu tersebut nampak bintik-bintik ceceran zat warna biru dari kegiatan pengecatan kayu-kayu atap bangunan penutup situs budaya tersebut.

Pengecatan tersebut dilakukan beberapa waktu lalu, namun karena kurang cermat dan teliti sehingga banyak ceceran cat jatuh dan berserakan dalam bentuk bintik-bintik biru di batu prasasti itu.

Menurut Wali Nagari Pariagan, A Khatib Saidi situs "Tungku Tigo Sajarangan" di Nagari Tuo Pariangan, berjumlah tiga buah sebagai yang tersusun seperti segi tiga dengan jarak masing-masing batu 500 meter.

Baca Juga: Lifebuoy x MNC Peduli Ajak Masyarakat Berbagi Kebaikan dengan Donasi Rambut, Catat Tanggalnya!

Tiga prasasti dari batu-batu itu sebagai tanda pembentukan wilayah penyebaran adat dan masyarakat etnis Minangkabau tempo dulu, yang dipecah menjadi tiga wilayah yakni Luak Tanah Datar, 50 Kota dan Agam yang ketiganya kemudian menjadi daerah administrasi Kabupaten hingga saat ini,” katanya.

Berdasarkan penuturan Zamaludin Datuk Mangkuto, sesuai dengan Tambo yang berisi ceritas asal usul Minangkabau, sebelum masuk Kerajaan Adityawarman daerah tersebut sudah dipimpin oleh dua orang bersaudara keturunan Sultan Iskandar Zulkarnain (Alexander The Great).

Salah satu anak dari Sultan Iskandar Zulkarnain, Datuk Maharaja Diraja atau Datuak Suri Dirajo menikah dengan Puti Indo Julito dengan anaknya Sutan Paduko Basa.

Sepeninggal Datuk Maharaja Diraja, Puti Indo Julito, dikawini oleh Cati Bilang Pandai melahirkan Pandai Jatang Sutan Balun dengan gelar Datuak Perpatiah Nan Sabatang serta saudara-saudara lainnya. Puti Jamilan, Sutan Sakalap Dunia, Puti Reno dan Mambang Sutan.

Selanjutnya setelah mereka dewasa Cati Bilang Pandai untuk mengangkat, Sutan Paduko Basa dengan gelar Datuak Katumangguangan dan Jatang Sutan Balun dengan gelar Datuak Perpatiah Nan Sabatang serta Sutan Sakalap Dunia dengan gelar Datuak Suri Marajo Nan Banego-nego sebagai penghulu-penghulu yang akan membantu beliau.

Keputusan ini dimufakati di atas Batu Nan Tigo atau Batu Tigo Sajarangan yang masih ada peninggalan situsnya, mereka meminumkan air keris Si Ganjo Erah dengan sumpah setia: Bakato bana, babuek baiak, mahukum adia, bilo dilangga, ka ateh indak bapucuak, ka bawah indak baurek, di-tangah-tangah digiriak kumbang atau Berkata benar, berbuat baik, menghukum adil. Bila dilanggar (ibarat sebatang pohon), ke atas tidak berpucuk, ke bawah tidak berakar, di tengah-tengah digirik kumbang pula.”

Dalam upacara tersebut Puti Indo Julito menyerahkan pusaka keris Siganjo Erah dan Siganjo Aia serta Tungkek Janawi Haluih kepada Datuak Ketumangguangan. Untuk Datuak Parpatiah Nan Sabatang menerima keris Balangkuak Cerek Simundam Manti dan Simundam Panuah serta Payuang Kuniang Kabasaran.

Di bawah kepiawaian kedua Datuak Ketumangguangan dan Datuak Parpatiah Nan Sabatang sistem pemerintahan adat menjadi semakin kemilau. Hingga beberapa dekade kemudian kedatangan Adityawarman yang kemudian menikah dengan saudara perempuan Datuak Ketumangguangan bernama Puti Reno yang kemudian membuat kerajaan Pagaruyung

Menurut Tambo kekuasaan Adityawarman hanya terbatas di daerah Pagaruyung, sedangkan daerah lain di Minangkabau masih tetap berada dibawah pengawasan Datuk Perpatih Nan Sabatang dan Datuk ketumanggungan dengan pemerintahan adatnya.

Dengan demikian di Pagaruyung Adityawarman dapat dianggap sebagai lambang kekuasaan saja, sedangkan kekuasaan sebenarnya tetap berada di tangan kedua tokoh pemimpin adat tersebut, hal ini menyebabkan pengaruh Budha yang dibawa ke Pagaruyung tidak menyebar.

β€œDalam Tambo mengatakan bahwa Adityawarman walaupun sudah menjadi raja yang besar, tetap saja merupakan seorang sumando (ipar) di Minangkabau, artinya kekuasaannya sangat terbatas,” terangnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini