Fenomena "Danau Gedang Terbelah" di Tepi Pantai Bengkulu

Demon Fajri, Jurnalis · Jum'at 27 Januari 2017 06:00 WIB
https: img.okezone.com content 2017 01 26 406 1602066 fenomena-danau-gedang-terbelah-di-tepi-pantai-bengkulu-PiZqtFlb5G.jpg Danau Gedang di Tepi Pantai Padang Betuah (foto: Demon Fajri/Okezone)

Ditemui terpisah, Mantan Kepala Desa (kades) Padang Betuah, Sopian Efendi, Danau Terbelah dilakukan oleh masyarakat setempat sekira pada Oktober 2016 lalu. Dimana saat itu, air danau sedang tinggi.

''Danau Terbelah terakhir sekira tiga bulan lalu. Belah Danau rutin di gelar enam bulan sekali,'' sampai Sopian, saat ditemui di kediamannya.

Saat Danau Terbelah, sambung Sopian, tidak ada keterbatasan usia. Mulai dari kalangan anak-anak, remaja, dewasa, orang tua. Baik pria maupun wanita. Bahkan, kalangan masyarakat yang hadir saat Danau Terbelah itu dari bebagia desa/kecamatan di Bengkulu tengah serta Kabupaten Bengkulu Utara, yang ikut mencari ikan saat danau terbelah.

''Tidak ada batasan sama sekali. Tua, muda ada semua kesana saat Danau Terbelah. Ini bisa dikatakan tradisi yang sudah ada sejak dahulu yang saat ini masih di gelar secara rutin,'' jelas Sopian.

Pria yang menjabat menjadi kades dua periode ini menyampaikan, tradisi Danau Terbelah masih tetap di laksanakan secara rutin. Dimana Danau Terbelah itu akan kembali digelar sekira bulan Maret atau Mei mendatang. Namun, hal tersebut tidak dapat dipastikan secara jelas dan pasti. Sebab, ketika air danau sedang tinggi maka masyarakat akan dibelah.

''Tidak ada yang mengomandoi dalam pembelahan danau. Semua masyarakat akan datang dengan sendirinya, dan membelah danau,'' sampai Sopian.

Namun, jika Danau tidak Terbelah, lanjut Sopian, masyarakat setempat menjadi wilayah itu sebagai tempat mencari ikan, dengan menggunakan alat tangkap jaring. Sebab, terang dia, sebagian masyarakat di desa yang dihuni oleh sekira 450 Kepala keluarga (KK) ini masih berprofesi sebagai nelayan, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Biasanya, sambung Sopian, pencarian ikan ketika Danau Tidak Terbelah, ramai saat hari rabu malam Kamis. Dimana, pada hari Kamis di desa ini ada pekan atau pasar mingguan. Sehingga, hasil tangkapan itu akan dijual di pekan. Pencarian ikan itu pun, kata dia, dilakukan suai salat magrib hingga tengah malam dengan menggunakan alat penerangan obor atau oleh warga setempat disebut ''nyulu''.

''Setiap hari masyarakat mencari ikan disana. Namun, lokasi itu ramai oleh masyarakat saat malam Kamis. Di sepanjang danau dan tepi pantai dipenuhi lampu obor oleh masyarakat yang mencari ikan. hasil tangkapan itu akan dijual saat pekan (Pasar Mingguan),'' ungkap Sopian.

''Hasil penjualan itu akan dijadikan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari,'' demikian Sopian.

(fid)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini