Kenali Sejarah Empat Landmark Favorit di Kota Tua

Erika Kurnia, Jurnalis · Jum'at 24 Februari 2017 19:30 WIB
https: img.okezone.com content 2017 02 24 406 1627292 kenali-sejarah-empat-landmark-favorit-di-kota-tua-VnwdoRGcEg.jpg Kawasan Kota Tua, Jakarta (foto: Okezone)

SIAPA yang tidak tahu objek wisata Kota Tua? Baik warga Jakarta atau wisatawan pasti pernah pergi ke sana. Kota Tua yang dikenal juga dengan sebutan Batavia Lama memiliki beberapa bangunan bersejarah yang juga menjadi landmark favorit.

Empat di antaranya adalah Museum Fatahillah, Pelabuhan Sunda Kelapa, Museum Seni Rupa dan Keramik, dan Toko Merah. Landmark yang kini sudah lebih terawat dan cantik untuk difoto punya sejarah menarik juga, loh.

Museum Fatahillah

#kotatua #museumfatahillah #night #jakarta

Sebuah kiriman dibagikan oleh Azhar Ramadhan (@azuraa.__) pada Peb 23, 2017 pada 6:29 PST

Bangunan ini dibangun pada 1620 oleh Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen dan ditambah kembali pada 1707 oleh Gubernur Jenderal Joan van Hoorn. Pada era penjajahan VOC, bangunan tersebut berfungsi sebagai balai kota, ruang pengadilan, dan penjara bawah tanah.

Di bagian luar bangunan tersebut terdapat lapangan Fatahillah yang dulu digunakan untuk mengeksekusi para tahanan, yang biasa disaksikan massa.

Pelabuhan Sunda Kelapa

Kangen kamu mbak😚,kangen jakarta, kapan bisa main kesana lagi #explorejakarta#jakartaindah#pelabuhansundakelapa #

Sebuah kiriman dibagikan oleh cindy maulidya agustin (@cie_cindymaulidya) pada Peb 23, 2017 pada 5:43 PST

Ini adalah pelabuhan tertua di Jakarta, yang pertama dibangun pada zaman Kerajaan Pajajaran dan Tarumanegara dan direbut oleh Kerajaan Demak. Pada akhir abad ke-16, Belanda menguasai pelabuhan tersebut.

Kejayaan Pelabuhan Sunda Kelapa mulai meredup sekitar tahun 1859 akibat pendangkalan sehingga kapal tidak dapat bersandar di dekat pelabuhan. Perannya kemudian digantikan oleh Pelabuhan Tanjung Priok. Pelabuhan yang tidak seramai Tanjung Priok ini digemari karena sangat Instagramable.

Museum Seni Rupa dan Keramik

Dibangun pada 12 Januari 1870 sebagai Kantor Dewan Kehakiman Belanda, tempat ini pernah menjadi asrama militer saat pendudukan Jepang dan perjuangan kemerdekaan sekitar 1944. Selama 1973-1979, gadung ini dimanfaatkan sebagai Kantor Walikota Jakarta Barat dan setelah itu menjadi Balai Seni Rupa Jakarta.

Pada 1990, Museum Seni Rupa dan Keramik mulai memajang keramik lokal dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari era Kerajinan Majapahit abad ke-14 dan dari berbagai negara di dunia.

Toko Merah

Bangunan ini awalnya merupakan rumah dari Gustaaf Willem Baron van Imhoff, seorang gubernur jenderal VOC pada 1730. Pada pertengahan abad ke-19, rumah tersebut dimiliki oleh Oey Liauw Kong dan dijadikan sebagai toko bercat merah hati.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini