Keren, Gedung Olveh Jakarta Masih Simpan Brankas dan Batu Bata Zaman Belanda

Tentry Yudvi, Jurnalis · Senin 27 Februari 2017 12:12 WIB
https: img.okezone.com content 2017 02 27 406 1629073 keren-gedung-olveh-jakarta-masih-simpan-brankas-dan-batu-bata-zaman-belanda-jYVOnmtJZP.jpg Brankas Besar Peninggalan Belanda di Gedung Olveh, Jakarta (foto: Tentry Yudvi/Okezone)

JIKA menyambangi kawasan Kota Tua jangan lupa untuk pergi ke Gedung Olveh di sebrang Stasiun Kota Jakarta. Sekilas, gedung ini terlihat seperti gedung khas penjajahan pada umumnya.

Namun jika dilihat dari sejarah, gedung inilah yang mengurusi rempah-rempah di Batavia saat masa Belanda menduduki Tanah Air. Mengapa demikian? Sebab, dulunya gedung digunakan sebagai kantor asuransi perjalanan dan paket Belanda.

OLVEH sendiri merupakan singkatan dari Onderlinge Levensverzekering Maatschappij Eigen Hulp. Dalam pembangunannya, Belanda mendapuk arsitek Schoemaker yang juga mendesain Gedung Asia Afrika dan Observatorium Bosscha di Bandung, dan gedung resmi digunakan di tahun 1921.

Gaya Art Deco terlihat dari bentuk dinding di lantai pertama, cat putih, dinding yang kokoh dan atap tinggi menjadi desain interior bangunan. Begitu sejuk dipandang mata.

Kemudian, Okezone begitu tertarik untuk pergi ke lantai dua setelah puas keliling di lantai pertama. Nah, sepanjang menaiki anak tangga, ada yang unik dari batu bata gedungnya. Batu bata merah itu masih ada merk perusahaannya. Terlihat ada tiga merk berbeda-beda.

Dan beberapa batu bata ada yang menonjolkan label ke luar, katanya sih tandanya batu bata itu diimpor bisa dari Tiongkok dan Eropa. Bisa dilihat ketika menemukan label CK - 8 dan H.I.O. Saat itu, memang Tiongkok dan Eropa punya mesin pencetak batu bata paling canggih sehingga banyak deh diimpor untuk membangun gedung.

Sementara untuk batu bata lokal sendiri, label nama perusahaannya masuk ke dalam sehingga tidak begitu jelas. Batu bata ini merupakan batu bata pertama yang digunakan untuk membangun, dan awalnya batu tersebut dilapisi plester, tapi dicopot setelah dilakukan pemugaran.

Lalu ada lagi yang unik di lantai dua, di mana ada sebuah toilet yang membentuk ruangan trapesium, namun sudah dikemas modern. Tetapi, bentuk toilet itu masih sama seperti gedung pertama kali dibangun.

Langkah kaki pun semakin bergegas ingin ke lantai tiga, dan di ruangan ini cukup besar dan lebar sehingga sekarang digunakan sebagai tempat pertemuan publik, dan juga sebagai kedai kopi.

Tujuannya, untuk membuat gedung agar lebih ada manfaatnya sekaligus ikut melestarikan gedung bersejarah di Jakarta.

Saat masuk ke kedai, mata seolah-olah terperana dengan sebuah sudut di pojokan dekat dengan meja bartender. Ada sebuah pintu tua berwarna putih yang merupakan brankas zaman Belanda.

Cat usang pun terlihat begitu jelas, dan pintunya cukup berat. Konon, brankas ini menjadi tempat penyimpanan rempah dan juga uang. Pokoknya sangat berkesan dan berkelas.

Kemudian, menelusuri bagian kanan, ada sebuah balkon. Dan, tepat di belakang balkon terdapat sebuah kelenteng pembakaran abu jenazah. Yang, dari bentuknya masih seperti kelenteng zaman Belanda. Seru banget deh!

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini