Cari Tahu Asal Usul Waduk Bayut Sragen Yuk!

Agregasi Solopos, Jurnalis · Rabu 03 Mei 2017 16:25 WIB
https: img.okezone.com content 2017 05 03 406 1681948 cari-tahu-asal-usul-waduk-bayut-sragen-yuk-6fP6SLOV7r.JPG Waduk Bayut, Sragen, Jawa Tengah (foto: Instagram/@herlando20)

UDARA sejuk dipadu pemandangan alam yang asri tersaji saat tiba di Waduk Bayut. Waduk yang dibangun pada masa kolonial Belanda itu mudah dijangkau setelah melewati tanjakan jalan di Dusun Mbayut RT 012, Desa Jambeyan, Kecamatan Sambirejo, Sragen.

Waduk Bayut berjarak sekira 20 km dari Kota Sragen. Waduk Bayut dikenal juga dengan sebutan Waduk Gebyar.

“Disebut Waduk Bayut karena berlokasi di Dusun Mbayut. Menurut cerita dari para sesepuh, di lokasi tak jauh dari waduk itu terdapat makam Mbah Buyut atau orang yang dituakan di kampung itu. Disebut Waduk Gebyar karena pengisian waduk itu menggunakan air yang dialirkan dari Dusun Segebyar Desa Lempong, Kecamatan Jenawi, Karanganyar, yang jaraknya tidak berjauhan,” terang Sugiyono (35), warga Sunggingan, Jambeyan, Sambirejo, Sragen, seperti dikutip Solopos.

Sugiyono sudah menemui dua orang sesepuh dari Desa Jambeyan yang menceritakan asal muasal berdirinya Waduk Bayut yang berada di ketinggian 312 mdpl ini.

Cerita tentang asal penamaan Waduk Bayut dan Waduk Gebyar itu disampaikan Marto Sarimin, 85, dan Cipto Wiyono, 82. Keduanya merupakan saksi hidup pembangunan Waduk Bayut pada 1950-an.

Menurut Marto Sarimin sebagaimana disampaikan Sugiyono, sebelum dibangun Waduk Bayut, lokasi itu merupakan hutan nanas. Warga setempat memanfaatkan daun nanas sebagai serat yang dijadikan bahan dasar pembuatan karung dan pakaian.

Lantaran jarang dibersihkan, pakaian yang terbuat dari serat daun nanas itu kerap menjadi sarang kutu. Warga sekitar menyebutnya dengan istilah tumo kathok.

Waduk Bayut dibangun di area persawahan. Lokasinya diapit beberapa bukit. Oleh warga sekitar, bukit-bukit itu diberi nama Gunung Kunci, Gunung Bon Jambu dan Gunung Watu Lumbung. Masing-masing bukit itu punya cerita latar belakang sejarah yang berbeda-beda. Menurut Cipto Wiyono, proses pembangunan Waduk Bayut dilakukan bertahap dalam waktu sekitar lima tahun.

Peresmian waduk ini dimeriahkan pertunjukan wayang kulit. Selain difungsikan sebagai sarana irigasi, Waduk Bayut biasa dijadikan lokasi mancing. Di kalangan anak muda, sarana irigasi seluas sekitar 9 hektare itu biasa disebut Waduk Cinta.

Disebut Waduk Cinta karena bila dilihat dari ketinggian bentuknya menyerupai lambang hati layaknya daun waru. Tak jauh dari Waduk Mbayut ini juga terdapat Bukit Cinta. Tempat ini biasa dijadikan lokasi pasangan muda-mudi untuk berswafoto dengan berlatar belakang Waduk Mbayut dan Gunung Lawu.

(fid)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini