Sepenggal Sejarah Sendi, Desa yang "Hilang" di Mojokerto

Zen Arivin, Jurnalis · Sabtu 06 Mei 2017 10:30 WIB
https: img.okezone.com content 2017 05 05 406 1684317 sepenggal-sejarah-sendi-desa-yang-hilang-di-mojokerto-PfWwa64HKk.jpg Kehidupan di Desa Sendi, Desa yang "Hilang" di Mojokerto (foto: Zen Arivin/Okezone)

KABUPATEN Mojokerto, Jawa Timur menyimpan segudang destinasi wisata. Selain wisata situs sejarah, potensi alam serta kuliner tradisional asli Bumi Majapahit, juga tak kalah dengan daerah lain.

Satu di antara sekian banyak kuliner yang menjadi jujukan para wisatawan yakni makanan Nasi Jagung Sendi. Begitulah orang menyebutnya, sesuai dengan nama tempatnya. Meski, hingga kini kawasan Sendi belum juga masuk dan diakui oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mojokerto.

Sendi sendiri berada di antara pertemuan lereng gunung Welirang dan Gunung Anjasmara. Di sebelah selatan, batas terluar kawasan ini merupakan wilayah hutan lindung Tahura. Di bagian barat dibatasi lereng Gunung Pegat. Sementara di bagian utara dan timur berbatasan dengan Desa/Kecamatan Pacet.

 (foto: Zen Arivin/Okezone)

Kawasan Sendi, berada di jalur alternatif yang menghubungkan Kabupaten Mojokerto dengan Kota Batu dan Kabupaten Malang. Setiap hari, ratusan wisatawan mampir ke tempat ini. Tidak jarang, mereka sengaja datang hanya untuk menikmati kuliner tradisional yang sudah tersohor namanya itu.

Selain kuliner nasi jagung, di Kawasan Sendi, juga terdapat sebuah bangunan bersejarah. Yakni goa peninggalan zaman penjajahan Jepang. Menurut cerita yang berkembang, goa tersebut dahulu digunkan militer Jepang sebagai tempat penyimpanan logistik dan senjata.

Kendati miliki potensi yang cukup tinggi, namun hingga kini Kawasan Sendi belum mampu dikembangkan secara maksimal. Sebab, Sendi merupakan kawasan tak bertuan. Wilayah yang konon merupakan sebuah desa ini, entah sengaja atau tidak, pasca kemerdekaan hilang dari pendataan pemerintah.

"Sendi ini dulunya sebuah desa di jaman Belanda tahun 1912. Pengelola pemerintahannya juga ada, mulai kepala desa, kepala dusun, kapentengan, carik, jagabaya, kamituo, semuanya komplit," kata Supardi (52), pria yang tinggal di Kawasan Sendi.

(foto: Zen Arivin/Okezone)

Pria yang mengaku sudah tinggal selama 15 tahun di Kawasan Sendi ini menambahkan, kebenaran Sendi merupakan sebuah desa itu diperkuat dengan beberapa bukti. Selain sisi historis atau pengakuan warga yang masih hidup, bukti fisik berupa tanah bengkok (ganjaran,-red) aparatur desa juga masih ada.

"Bengkoknya masih ada sampek saat ini. Dokumennya dititipkan di Desa Pacet. Selain itu ada makam desa yang jumlanya sangat banyak. Ini membuktikan bahwa di sini dahulu ada koloni atau sekelompok warga yang hidup dan diatur dalam sebuah pemerintahan," imbuhnya.

Supardi lantas bertutur, hilangnya nama Sendi dari wilayah Kabupaten Mojokerto ini, bukan tanpa sebab. Dari cerita turun temurun, dahulunya Kawasan Sendi merupakan tempat pejuang kemerdekaan. Berada di pertemuan lereng gunung yang menghubungkan 5 kabupaten, yakni Jombang, Malang, Batu serta Pasuruan menjadi lokasi paling strategis bagi para gerilyawan.

"Ceritanya sangat panjang. Tahun 1942 Desa sendi dijadikan tempat bersembunyi oleh tentara republik (pejuang kemerdekaan). Puncaknya pada Agresi Militer Belanda ke-II tahun 1948, Sendi diserang habis-habisan. Semua warganya kabur," imbuhnya.

Dijadikannya Kawasan Sendi sebagai tempat persembunyian, membuat warga lokal di wilayah tersebut memilih mengungsi. Mereka meninggalkan desa dan pindah ke desa-desa tetangga. Ada yang memilih ke Dusun Ngeprih, Desa Pacet, Desa Cempokolimo, Desa Padusan, serta Desa Sajen.

"Ketika itu, lokasi ini dibombardir dan dibumihanguskan sama Belanda. Karena menjadi markas tentara pejuang. Tidak ada satupun benda berharga yang bisa diselamatkan. Termasuk bukti-bukti kepemilikan lahan milik warga, semuanya hangus terbakar," ungkap bapak dua anak ini.

Selama beberapa tahun mengungsi, membuat penduduk asli Kawasan Sendi enggan kembali ke lokasi itu. Tidak adanya barang berharga yang bisa diselamatkan pasca lokasi tersebut digempur habis-habisan oleh pasukan Belanda, hampir mayoritas warga memilih tinggal di daerah pengungsian.

"Desa ini menjadi kosong. Semuanya sudah hancur, kantor kepala desa, rumah-rumah penduduk semuanya habis. Tidak ada warga yang berani kembali lagi ke sini pascaperistiwa itu. Namun, beberapa peninggalan masih ada sampai saat ini, termasuk makam desa. Bahkan dulu sebelum jalan ini dibangun, ada pondasi bekar kantor Balai Desa," terangnya.

Setelah puluhan tahun berlalu, Supardi dan beberapa warga yang notabene merupakan keturunan eks warga Sendi, mulai kembali ke lokasi tersebut. Pada tahun 1990, mereka mulai membangun kembali Kawasan Sendi menjadi lokasi untuk berkoloni. Supardi dan warga inilah yang hingga kini masih bertahan dan menghidupkan perekonomian di Sendi.

"Dulu awalnya cuma tiga orang yang ke sini. Kami semua jualan Nasi Jagung. Namun, beberapa bulan kemudian semakin banyak yang berani kembali kesini. Rata-rata mereka adalah keturan. Sehingga kita putuskan untuk membuka warung, namun tetap menjaga alam di Kawasan Sendi ini," paparnya.

Saat ini, lanjut Supardi, ada sebanyak 50 Kepala Keluarga (KK) yang sudah tinggal di Kawasan Sendi. Mereka menempati lahan yang menurut mereka, merupakan milik neneng moyang. Meski Kawasan Sendi sendiri, merupakan daerah yang tak bertuan.

"Sekarang ada sekitar 90 warung dan rumah penduduk yang ada disini. Untuk administrasi kependudukan kami ikut di Desa Pacet, namun untuk tinggalnya kami tetap disini. Jadi secara administrasi kami legal, karena ikut Desa Pacet, meskipun Sendi tidak masuk wilayah Desa Pacet," tandasnya.

(fid)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini