Pemberontakan Dharmaputra hingga Sumpah Amukti Palapa di Hari Jadi Ke-724 Mojokerto

Zen Arivin, Jurnalis · Selasa 09 Mei 2017 18:00 WIB
https: img.okezone.com content 2017 05 09 406 1687223 pemberontakan-dharmaputra-hingga-sumpah-amukti-palapa-di-hari-jadi-ke-724-mojokerto-mEXN0FeMT9.jpg Perayaan Hari Jadi Ke-724 Mojokerto (foto: Zen Arivin/Okezone)

PEMIMPIN pemberontak kaum Dharmaputra Winehsuka itupun terkapar usai keris Gajah Mada menghujam tepat di perut Rakrian Kuti (Ra Kuti). Upaya menggeser tahta Jayanegara yang kala itu berkuasa di Kerajaan Majapahit itu pun bisa dihentikan.

Kendati akhirnya, raja kedua Majapahit yang bergelar Sri Maharaja Wiralandagopala Sri Sundarapandya Dewa Adhiswara itu tewas di tangan Ra Tanca yang notabene merupakan tabib istana. Tampuk kekuasan Keajaan Majapahit pun berpindah tangan kepada sang adik, Dyah Gitarj yang bergelar Tribhuwana Tunggadewi.

Dalam kondisi itulah, Gajah Mada mengumandangkan sumpah yang dikenal sebagai Amukti Palapa. Mahapatih kerajaan Majapahit di bawah kepemimpinan Tribhuwana Tunggadewi itu bertekat untuk menyatukan seluruh kerajaan di Nuswantara di bawah bendera Surya Majapahit.

(foto: Zen Arivin/Okezone)

Berikut adalah sepenggal adegan dalam pagelaran drama tari kolosal di peringatan hari jadi Kabupaten Mojokerto Ke-724, Selasa (9/5/2017). Drama tari kolosal itu digelar di halaman pendopo Pemkab Mojokerto. Sebanyak 100 penari dari kalangan pelajar tingkat SD, SMP dan SMA dilibatkan dalam pagelaran ini.

Koreografer sendra tari kolosal, Setu (53), mengatakan, drama tari yang dipentaskan itu berjudul Nusantara Gemolong. Drama itu menceritakan perjuangan Gajah Mada yang kala itu bergelar patih dalam menumpas pemberontakan Dharmaputra Winehsuka yang dipimpin Ra Kuti yang ingin menggeser kedudukan Jayanegara atau Kalagemet.

"Cerita yang melatarbelakangi sumpah Amukti Palapa Gajah Mada. Kemudian dia bertekat menyatukan nusantara, diawali ring Bali, ring Sunda, Tumasik dan seterusnya sampai nusantara bersatu," ungkap Setu kepada awak media.

Tak hanya Gajah Mada dan Ra Kuti, drama tari kolosal ini juga menampilkan sosok Ratu Tribuwana Tunggadewi. Dalam pemerintahannyalah, Gajah Mada diangkat menjadi Maha Patih kerajaan Mahapahit dan mengumandangkan Sumpah Amukti Palapa.

(foto: Zen Arivin/Okezone)

Selain itu, miniatur perahu Majapahit yang menjadi alat transportasi Gajah Mada dalam menyatukan wilayah Nuswantara, juga dipamerkan dalam pertunjukan ini. Melalui drama tari Nusantara Gemolong ini, Setu ingin menyampaikan pesan betapa pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan sebuah bangsa.

"Saat ini, kondisi bangsa sudah terpecah belah. Kerukunan sudah jauh dari yang dulu, masyarakat mudah tersinggung, esensi kerukunan sudah tipis. Kami selaku seniman berharap, agar kita bisa bersatu teguh untuk menatap masa depan yang lebih baik," jelas Setu yang juga pegiat seni Mojokerto ini.

Sementara Bupati Mojokerto Mustofa Kamal Pasa menuturkan, kerukunan dan persahabatan menjadi kekuatan besar untuk kemajuan daerahnya. Menurut MKP, terkikisnya kerukunan antara sesama telah menyentuh semua kalangan. Mulai dari lapisan bawah masyarakat hingga kalangan birokrasi.

"Saya sebagai bupati berkomitmen menjaga kerukunan yang pada zaman Majapahit disebut Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangruwa, kita ini semuanya berbeda tapi tetap harus kita satukan. Jangan sampai ada gesekan dan pertengkaran," pungkasnya.

(fid)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini