Sepenggal Sejarah Sendi, Jalur dan Persinggahan Gerilyawan Batalyon Hayam Wuruk

Zen Arivin, Jurnalis · Rabu 10 Mei 2017 16:14 WIB
https: img.okezone.com content 2017 05 10 406 1687803 sepenggal-sejarah-sendi-jalur-dan-persinggahan-gerilyawan-batalyon-hayam-wuruk-xC33YnJdGJ.jpg Kehidupan di Desa Sendi, Desa yang "Hilang" di Mojokerto (foto: Zen Arivin/Okezone)

HILANGNYA nama Sendi dari wilayah Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, konon disebabkan karena perang pasca-kemerdekaan. Ketika itu, pada Agresi Militer Belanda ke II, tentara Belanda membungihanguskan Desa Sendi karena menjadi tempat persinggahan para pejuang.

Sejarahwan muda Mojokerto, Ayuhannafiq membenarkan cerita yang berkembang di masyarakat itu. Menurutnya, adanya proses pembumihangusan kawasan Sendi oleh tentara kolonial Belanda ketika itu memang benar terjadi. Sebab, hingga tahun 1947-1948 Desa Sendi itu masih ada dalam data desa di wilayah Mojokerto.

"Itu teruang dalam sebuah buku berjudul DAD 1945. Dia yang menceritakan pengusiran warga Sendi oleh tentara Belanda ketika tahun 1948," kata Yuhan kepada Okezone.

Menurutnya, pada tahun 1948, warga Desa Sendi dipaksa oleh tentara Belanda untuk turun dan meninggalkan desa. Selanjutnya, seluruh rumah dan barang berharga milik penduduk dibumihanguskan dengan cara dibakar. Tidak sedikit kala itu, warga sipil yang mati akibat melakukan perlawanan.

"Pembungihangusan ini tidak terlepas dari vila Belanda yang ada di Pacet. Dahulu, di Pacet itu banyak vila milik Belanda. Oleh tentara pejuang, selalu diganggu, sehingga membuat mereka risih dan melakukan pembumihangusan itu. Karena tentara pejuang ini memang bertahan di Sendi," imbuhnya.

Yuhan menuturkan, pada tahun 1948, untuk mengimbangi kekuatan tentara Belandan pada Agresi Militer Ke II, Tentara Nasional Indonesia (TNI) membentuk dua batalyon tempur. Dimana dua batalyon itu hanya diperbolehkan menerapkan perang dengan sistem gerilya, bukan pertempuran terbuka.

Yakni Batalyon Brawijaya dan Hayam Wuruk. Batalyon Brawijaya yang dipimpin Letkol Kretarto bertugas menguasai Surabaya melalui sisi utara sungai Brantas. Sementara, Batalyon Hayam Wuruk yang terdiri dari empat pasukan, Bambang Yuwono, Isa Idris, Manshur Solihin, dan Cipto, masuk ke Sidoarjo melalui Mojosari atau Tanjangrono, serta Jembatan Porong.

Pasukan Manshur Solihin saat itu ditugaskan menggempur Pacet yang dikuasai Belanda. Sedangkan pasukan Cipto menghadang bala bantuan Belanda dari Brangkal. Untuk Isa Idris bertugas menutup jalur bantuan di wilayah Pugeran, sedangkan pasukan Bambang Yuwono menutup suplai logistik Belanda dari arah Mojosari dan Trawas.

"Serangan itu terjadi pada 1 Januari 1949. Butuh waktu seharian penuh untuk bisa merebut Pacet. Karena, pasukan Bambang Yuwono tidak bisa menghentikan suplai bala bantuan yang dari Mojosari. Untungnya, ada pasukan Laskar Hisbullah pimpinan Munasir yang juga membantu hingga akhirnya Pacet dikuasai," ungkap Yuhan yang juga Ketua Komisioner KPU Mojokerto ini.

Keberhasilan pasukan pejuang ini tak lepas dari bantuan dan suplai logistik warga Desa Sendi yang kalau diusir dari desa. Banyak diantara mereka yang membantu pejuang untuk menyuplai makanan hingga bertarung dengan gagah berani tanpa rasa takut.

"Ada 1.500 tentara yang meninggal dalam pertempuran masif saat perebutan Pacet. Belum lagi masyarakat sipil. Warga Sendi memang terkenal sebagai penyuplai makanan bagi para pejuang yang melintas dan singgah di sana. Itulah kenapa 1948 Warga Sendi diusir dari desa oleh Belanda," terang mantan aktivis PMII ini.

Sementara itu, ditemui secara terpisah, keturuan Bupati Ketiga Mojokerto di era Pemerintahan Kolonial Belanda, regent Raden Abdoel Madjid yang memiliki gelar Raden Adipati Arya Kromo Adinegoro, membenarkan jika kawasan Sendi merupakan wilayah basis perjuangan tentara republik Indonesia. Terlebih saat Agresi Militer Belanda ke II tahun 1945 hingga 1948.

"Memang benar, di situ menjadi lokasi para pejuang. Karena, keturunan Abdoel Madjid ini memang banyak yang membelot dan memilih bergabung dengan tentara pejuang," uangkap Raden Heri Apriyanto kepada Okezone.

Regent III Mojokerto Raden Arya Adipati Abdoel Madjid, Ketiga dari kanan berkacamata (istimewa)

Raden Heri yang notabene cucu regent ke-III Mojokerto Raden Abdoel Madjid ini menuturkan, Abdoel Madjid merupakan anak dari regent ke-II Mojokerto, yakni Raden Mashoedan yang bergelar Raden Adipati Arya Kromodjoyo Adinegoro IV. Abdoel Madjid menjabat sebagai bupati Mojokerto sejak tahun 1916-1932.

"Saat era pemerintahannya, beliau sudah mengenal dan bertemu dengan Soekarno. Jadi benih-benih perlawanan dengan tentara Belanda itu memang begitu kuat. Bahkan beberapa sanak keluarga sepat diungsikan ke luar Mojokerto. Ada yang ke Madiun, seperti ayah saya," imbuhnya.

Namun, Heri mengaku, belum bisa memastikan apakah Kawasan Sendi dahulunnya merupakan sebuah desa yang lengkap dengan sistem pemerintahan. Ia mengaku belum menemukan dokumen atau arsip yang menunjukkan Kawasan Sendi merupakan sebuah desa yang diakuai Pemerintah Kabupaten Mojokerto kala itu.

"Bukan tidak ada, tapi saya belum menemukan. Karena arsip-arsip peninggalan kakek itu banyak yang tersebar. Kami masih berupaya untuk mencarinya. Namun, kalau itu sebagai basis pertahanan dan persembunyian tentara republik, memang benar, sesuai dengan yang diceritakan orangtua saya," tandasnya.

(fid)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini