Sssst, Ternyata Atraksi Jalan Kaki di Atas Batu Panas Khas Papua Satu-Satunya di Dunia

Agregasi Antara, Jurnalis · Selasa 04 Juli 2017 20:09 WIB
https: img.okezone.com content 2017 07 04 406 1728716 sssst-ternyata-atraksi-jalan-kaki-di-atas-batu-panas-khas-papua-satu-satunya-di-dunia-bkpDM2GqTE.jpg Ilustrasi (Foto: Antara)

BIAK – Kementerian Pariwisata Republik Indonesia pada 2017 memasukkan agenda budaya berupa Festival Biak Munara Wampasi yang setiap tahun diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Biak Numfor, Papua, dalam kalender pariwisata nasional.

Masuknya Festival BMW dalam kalender pesona pariwisata nasional karena berbagai atraksi budaya yang ditampilkan memiliki kekhasan. Salah satu atraksi budaya apen byaren atau permainan berjalan kaki di atas batu panas menjadi kekhasan Festival BMW. Atraksi itu satu-satunya di dunia.

"Keunikan atraksi apen byaren yang dimiliki masyarakat adat Biak pada Festival BMW harus dijaga keasliannya karena menjadi daya tarik wisatawan dunia," ungkap Deputi Menteri Pariwisata Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Esthy Reko Astuty.

Dia menekankan, Festival BMW harus dikelola secara profesional sehingga memberikan dampak positif terhadap kunjungan wisatawan ke Pulau Biak. Dengan makin meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan ke Pulau Biak, maka dapat berdampak positif bagi masyarakat lokal karena mereka mendapatkan uang dari kegiatan wisatawan.

Apen Bayeren atau upacara bakar batu. Atau singkatnya barapen. Bagi suku Byak, barapen itu aktivitas suci jd hrs disiapkan dan dilakukan dng rapi dan baik. . Api mnjadi sarana komunikasi dng Tuhan Langit Mansren Nanggi. Barapen jg jd sarana utk mengikat perjanjian penting atau fas eren. Eren dr kata ern yg artinya menggenapkan, pemenuhan, atau penyempurnaan. . Upcara ini dimulai dr batu karang yg saling tumpuk dng kayu lalu dibakar smpe merah. Stlh itu kayu yg membara diangkat stlh warna aslinya mnjadi coklat. Batu yg membara diserak utk jd ajang jalan di atas batu. Stlh itu, daun-daun wangi, salah satunya daun suji, ditata di atas bara batu sbg alas bahan makanan yg akan dibakar, spti ayam, betatas atau ubi dan keladi atau talas. Setelah smua matang, biasanya dlm wktu 2-4 jam, mnjadi hidangan utk pesta rakyat. . #apenbayeren #barapen #bakarbatu #papua #explorepapua #biak #munarawampasi #festivalbiakmunarawampasi5 #festivalbiakmunarawampasi2017 #festivalbiak2017 @pesonaid_travel @wonderful.indonesia.official

A post shared by rani bustar (@myaprika) on Jul 2, 2017 at 2:24am PDT

Esty menjelaskan tiga faktor penunjang objek wisata di kabupaten dan kota, di antaranya adanya wisatawan, destinasi wisata, serta pelaku usaha pariwisata. "Tiga faktor penunjang pariwisata akan berjalan bersamaan serta saling mendukung satu dengan lainnya," ujarnya.

Ajang budaya Festival BMW yang berlangsung 1-4 Juli 2017 diyakini akan memberikan dampak positif bagi pembangunan pariwisata daerah serta memberikan kontribusi pendapatan untuk pemkab serta masyarakat sekitar lokasi festival.

Jajaran Kementerian Pariwisata akan mendorong dan membantu Pemkab Biak Numfor untuk mempromosikan ajang tahunan Festival BMW kepada wisatawan di berbagai negara.

Kementerian Pariwisata mengharapkan Festival BMW mampu mendukung pencapaian target peningkatan kunjungan 20 juta wisatawan ke Indonesia.

Kementerian itu telah menetapkan sasaran strategis utama pariwisata berupa target kuantitatif yang harus dicapai pada 2019, yakni sektor pariwisata harus memberikan kontribusi pada perekonomian (PDB) nasional sebesar delapan persen.

Selain itu, menghasilkan devisa USD20 miliar, menciptakan lapangan kerja bagi 13 juta tenaga kerja, mendatangkan kunjungan 20 juta wisatawan mancanegara (wisman), mendorong pergerakan 275 juta wisatawan nusantara (wisnus) di dalam negeri.

Selain itu, memperbaiki peringkat daya saing pariwisata Indonesia dari ranking 70 pada 2013, sekarang di ranking 50 dunia, dan ranking 30 dunia pada 2019.

Tradisi

Budayawan Papua Mikha Ronsumbre mengatakan Festival BMW menjadi sarana pelestarian tradisi turun temurun masyarakat adat Biak.

Berbagai atraksi budaya yang ditampilkan dalam Festival BMW memberikan nilai budaya yang tinggi karena mempertahankan identitas masyarakat adat setempat yang kental dalam menjaga nilai leluhur.

Hal itu terlihat seperti atraksi budaya snap mor (menangkap ikan di air laut kering/mati), apen byaren (atraksi berjalan kaki di atas batu panas), tarian khas wor, dan tari pergaungan Yospan. "Itu menjadi wadah masyarakat adat Biak untuk memelihara tradisi adat supaya tetap terjaga keasliannya hingga kapanpun," ujarnya.

Agenda lainnya dalam Festival BMW, yakni lari Biak 10K, studi tur ke objek wisata, pameran anggrek dan kerajinan tangan, atraksi word an yospan, lomba internasional foto bawah laut, pameran foto pariwisata, serta seminar dan pelatihan fotografi.

Ia menyatakan dukungan penuh kepada Pemkab Biak Numfor, Dinas Pariwisata, serta Kementerian Pariwisata karena telah menjadikan agenda budaya Festival BMW sebagai kalender nasional tahunan pariwisata pesona Indonesia.

Melalui ajang itu, menurut Mikha, para budayawan dan pelaku seni terus menerus menjaga tradisi leluhur masyarakat adat Biak sehingga menjadi daya tarik wisatawan untuk berkunjung ke Pulau Biak.

Pulau Biak memiliki beragam potensi seni daerah dan budaya, serta alam yang indah sehingga menjanjikan sebagai destinasi wisata unggulan di Tanah Papua.

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini