Cerita Putri Naga & Tuan Tapa hingga Amukan Naga di Balik Pesona Kota Tapaktuan

Annisa Aprilia, Jurnalis · Jum'at 07 Juli 2017 06:11 WIB
https: img.okezone.com content 2017 07 06 406 1730162 cerita-putri-naga-tuan-tapa-hingga-amukan-naga-di-balik-pesona-kota-tapaktuan-p4PmcQhp2u.JPG Tapaktuan, Aceh Selatan (foto: Instagram/@ijalhasyiem)

ADA sebuah kota yang berada di Aceh memiliki banyak potensi pariwisata menakjubkan sekaligus cerita rakyat yang telah melegenda. Kota Tapaktuan namanya.

Dikutip dari berbagai sumber, kota tersebut Terletak di Kabupaten Aceh Selatan dengan luas 92,68 km persegi dan dihuni penduduk sekira 22,343 jiwa. Kota Tapaktuan menawarkan beberapa destinasi wisata yang bisa disambangi oleh para wisatawan.

Di kota yang berada di ketinggian 500 mdpl itu, ada wisata yang cukup menarik untuk dikunjungi seperti Wisata Air Dingin, Panorama Hatta, Pulau Dua, Genting Buaya, Ia Sejuk Panjupian, Air Terjun Twi Lhok, Batu Berlayar atau Gua Kalam.

Alamnya yang menakjubkan membuat Kota Tapaktuan jadi kota wisata yang jadi destinasi favorit wisatawan. Namun, pada sisi lain ada sebuah legenda yang menceritakan kisah perkelahian naga dengan manusia, memperebutkan bayi perempuan.

Kota Tapaktuan yang juga dikenal dengan Kota Naga tersebut berada dekat dengan sebuah teluk bernama Teluk Tuantapa. Teluk tersebut lah yang jadi tempat singgah dua ekor naga yang diusir dari Tiongkok.

Kisah perkelahian dimulai dari penemuan seorang bayi perempuan yang terapung di lautan oleh sepasang naga tersebut. Karena tidak memiliki anak, akhirnya sepasang naga itupun memutuskan untuk mengadopsi si bayi dan merawatnya dengan kasih sayang.

Perkelahian pun terjadi karena datangnya keluarga sang bayi yang berasal dari Kerajaan Asranaloka yang mencari putri mereka. Sang keluarga mengenali bayi mereka yang hilang karena hanyut terbawa air laut itu.

Konflikpun meletup antara keluarga kerajaan dan sepasang naga karena merebutkan sang bayi perempuan yang sudah beranjak dewasa. Raja meminta kembali bayi perempuannya yang sudah jadi seorang putri itu, namun kedua naga tidak menerima keputusan sang raja, hingga perkelahian pun tidak dapat dihindari.

Tuan Tapa yang sedang bermeditasi akhirnya merasa terusik dengan pertengkaran pun ikut campur melerai mereka semua dan meminta naga untuk memberikan sang putri pada keluarganya. Naga menolak, lalu menantang Tuan Tapa untuk bertarung, sayangnya sang naga tidak beruntung hingga harus mengembalikan sang putri ke keluarganya.

Putri pun kembali ke keluarganya dengan julukan putri naga. Singkat cerita naga jantan mati terbunuh dan tubuhnya hancur. Sisa tubuh naga itu menghitam, kini dikenal dengan batu hitam. Sementara darah naga yang merah berubah jadi batu merah. Sedangkan, Tuan Tapa meninggalkan jejak kakinya yang masih ada sampai sekarang.

Melihat kematian sang naga jantan, naga betina tidak bisa terima. Ia mengamuk hingga membelah pulau jadi dua yang sekarang jadi Pulau Dua. Pulau terbesar masih jadi sasaran amuk naga hingga pulau terporak-porandakan jadi 99 buah pulau kecil, yang juga dikenal dengan Pulau Banyak sekarang.

Tuan Tapa pun akhirnya meninggal tidak lama setelah kejadian itu. Ia dimakamkan dekat Gunung Lampu depan Masjid Tuo, Gampong Padang, Kelurahan Padang, Kecamatan Tapaktuan.

(fid)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini