Meracik Racun Panah Tradisional Mentawai, Pantang Menggoda Wanita & Berhubungan Suami-Istri

Rus Akbar, Jurnalis · Jum'at 28 Juli 2017 12:28 WIB
https: img.okezone.com content 2017 07 28 406 1745549 meracik-racun-panah-tradisional-mentawai-pantang-menggoda-wanita-berhubungan-suami-istri-GqTUmC3I6Q.jpg Meracik Panah Tradisional Mentawai (foto: Rus Akbar/Okezone)

AMAN Boiroi Ogok dan Liktek sibuk ke hutan mencari bahan untuk meracik racun panah (omai) yang tidak jauh dari lokasi Festival Panah Tradisional Mentawai di Desa Muntei, Kematan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai yang diadakan pada 26 sampai 28 Juli 2017.

Hanya setengah hari lamanya mereka mencari bahan racikan untuk panah, kemudian di tangan Aman Boroi Ogok sudah bahan-bahan ramuan racun panah yang akan diracik menjadi cair. Sementara di tangan Liktek membawa peralatan untuk meracik racun panah.

(Baca Juga: SHARE LOC: Mengenal Desa Muntei, Lokasi Festival Panah Tradisional Mentawai)

Bahan untuk diolah menjadi racun panah tersebut berupa, batang ragi, akar laingik (akar tuba), daro (cabe rawit), kulit kayu lappak, bagglau (lengkuas). Nah, untuk bahan mengola racun panah itu ada pepeccle (penjepit dari kayu), leccu (gelang dari rotan), gigiok (pemarut dari duri dahan ruyung), lulak (baki tradisional Mentawai), tutuddu (alat penumpuk dari kayu), serta tempurung tempat menampung cairan racun panah.

(foto: Rus Akbar/Okezone)

Untuk menjadi racun panah, awalnya kulit kayu ragi dikupas dengan parang, setelah itu kulit yang terkupas tersebut lalu diparut hingga halus, ramuan selanjutnya lengkuas diparut sampai halus dan digabungkan dengan kulit batang ragi, kalau sudah halus cabe rawit yang sudah disediakan sebelumnya ikut juga parut dalam wadah yang sama.

Bahan terakhir menumbukkan akar tuba hingga halus dan mengeluarkan cairan yang dikandung dari dalam daging tuba tersebut. Agar cair maka cairan kayu dari kulit lappak tersebut dicampur dengan bahan-bahan yang diparut.

Kemudian bahan yang sudah dihaluskan akan dimasukkan kedalam gelang rotan lalu kayu yang dipakai untuk pengapit agar cairan yang sudah diramu tersebut ke luar. Tempurung yang sudah disiapkan tadi untuk menampung cairan.

(Baca Juga: TERKUAK!! Ini Rahasia Racikan Panah Beracun Mentawai yang Bikin Penasaran)

Kalau sudah selesai semuanya, maka panah yang sudah dibuat diambil bagian mata panah tersebut dioles dengan ekor tupai yang ditancapkan ke bambu sehingga berbentuk kuas kecil. Racun panah bisa dijilat untuk dirasakan apakah sudah tepat untuk berburu atau tidak.

Sangat berbahaya jika terluka karena ujung panah yang sudah diracun. Namun jika dijilat tidak akan mati. Okezone mencoba mencicipi rasanya pahit, pedas, panas, hingga rasanya seolah tersangkut di tenggorokan.

(foto: Rus Akbar/Okezone)

Menurut Aman Boroi Ogok, selama meracik racun panah ini tidak boleh menggoda wanita bagi yang masih lajang dan melakukan hubungan suami istri bagi mereka yang sudah berkeluarga.

“Dan itu pantangan mulai membuat panah, meracik racun dan berburu, kalau itu dilanggar resikonya adalah terkena panah dan berakibat kematian itu yang kita jaga,” ujar Aman Boroi Ogok setelah meracik racun panah.

Panah diiberikan racun itu untuk mencari makanan joja (monyet), simakobu, simaigi (babi hutan) dan sibeu tubuh (rusa). Aman Boroi Ogok merasa khawatir karena sudah tidak ada lagi yang menggunakana panah sebagai budaya orang Mentawai.

“Sekarang mereka menggunakan senapan angin, kalau saya pasti akan menjaga namun generasi muda sekarang sudah mulai pudar, saya sudah mengajar anak-anak kami namun mereka selalu melanggar pantangan,” ujarnya.

(Baca Juga: Diam-Diam Liam Hamsworth Kepincut Ombak Pulau Mentawai)

Nasib tradisi murourou (berburu dengan panah) di Mentawai memang diambang kepunahan hal itu dituturkan oleh Pontius Saruruk (25) generasi muda di Desa Muntei.

Saat ini generasi muda di Mentawai sudah jarang dipakai panah tersebut mereka mengejar pendidikan. Jadi ada juga bagian pedalaman yang tidak sekolahkalau itu sama pandai menggunakan panah dengan orang tua dulu di hutan untuk dipakai.

“Kalau berburu sudah memakai senapan angin. Pasalnya kalau membikin panah itu sudah acara ritual dan yang menggunakan sudah jarang, kalau membuat bisa tapi tidak sebagus yang pendahulu kita buat,” kata Pontius.

(foto: Rus Akbar/Okezone)

Sementara Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Desti Seminora dengan kondisi seperti ini pihaknya bersama warga Desa Muntei menggagas Festival Panah Tradisional Mentawai untuk mewariskan budaya itu kepada generasi muda dan pemikat wisata di Desa Muntei.

“Festival ini diadakan untuk memperkenalkan tradisi memanah pada generasi muda Mentawai sekaligus untuk memikat wisata luar dan dalam negeri berkunjung ke daerah Muntei,” ujarnya.

(Baca Juga: Cantiknya Pulau Sipora Mentawai Jadi Spot Surfing Kelas Dunia)

Selain itu Desti juga menargetnya tumbuhnya usaha seperti kuliner, akomodasi, transportasi kalau sekaraang dengan adanya tujuh stan. “Saya lihat perkembangan untuk usaha saya lihat sebelum dibuka usaha ini sudah mencapai Rp1,5 juta itu hanya tiga jam belum tenda lain, ini terbukti festival berdampak langsung kepada masyarakat,” ujarnya.

Rencanaya tahun depan akan dibuat lagi dilokasi yang sama namun skala nasional, kalau bisa skala Internasional bisa mendatangkan pemanah tradisional dari negara lain ke sini. “Namun kita rembukkan dulu dengan masyaraka setempat,” ujarnya.

(ren)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini