HARI KEMERDEKAAN: Perjuangan 3 Pahlawan Merobek Bendera Belanda di Hotel Yamato Surabaya

Tentry Yudvi, Jurnalis · Kamis 17 Agustus 2017 08:25 WIB
https: img.okezone.com content 2017 08 15 406 1756627 hari-kemerdekaan-perjuangan-3-pahlawan-merobek-bendera-belanda-di-hotel-yamato-surabaya-eB71WJtHKT.JPG Napak Tilas Perjuangan di Hotel Yamato, Surabaya (foto: Instagram/@aryasalokabuana)

GEGAP Gempita menyambut Kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus begitu dirasakan oleh seluruh masyarakat Tanah Air. Pemasangan bendera sang Merah Putih bahkan sudah dikibarkan di beberapa sudut bangunan, termasuk Hotel Yamato yang kini menjadi Hotel Majapahit di Surabaya yang menyimpan perjuangan keras para pahlawan.

Sejak di bangku sekolah dasar, Hotel Yamato sudah dikenang sebagai peristiwa perobekan bendera Belanda menjadi merah putih. Kejadian ini jika diingat lagi akan membuat bangsa Indonesia marah dengan Belanda karena tidak menghargai kedaulatan Republik Indonesia yang sudah memproklamasikan Kemerdekaan di tanggal 17 Agustus 1945.

(Baca Juga: Hore! KAI Gratiskan Tiket Kereta di Hari Kemerdekaan RI Ke-72)

Awal mula kejadian perobekan bendera ini diawali ketika pemerintah Indonesia mengharuskan mengibarkan bendera merah putih di seluruh Indonesia sebagai kedaulatan bangsa ini telah merdeka dari Belanda. Pengibaran serentak itu diberlakukan tanggal 1 September 1945.

(foto: Instagram/@anggawhandhika)

Selang 18 hari pengibaran bendera, Belanda yang picik mengerahkan W.V.Ch Ploegman bersama kelompoknya untuk mengibarkan bendera Belanda yakni merah putih dan biru, tanpa persetujuan pemerintah RI di Surabaya saat itu. Pengibaran bendera itu bahkan dilakukan di malam hari di kala masyarakat tengah tertidur.

(Baca Juga: Tari Saman Massal, Persembahan Masyarakat Gayo untuk HUT Ke-72 RI)

Esok harinya tanggal 19 September, warga pun marah dengan pengibaran bendera Belanda di atas atap Hotel Yamato. Semua masyarakat pribumi berbondong-bondong memenuhi jalanan agar bendera itu turun. Sebagai perwakilan Republik Indonesia saat itu, Sudirman bersama rekannya pun menemui Ploegman agar ia mau menurunkan bendera tersebut.

Namun, Ploegman bersikeras untuk menolak rundingan tersebut. Pertemuan pun memanas, bahkan Ploegman sempat mengarahkan Sudirman sebuah pistol. Dengan gercap, Sidik yang menjadi anggota BKR dan menemani Sudirman saat itu, menghadang pistol Ploegman. Tetapi, situasi semakin memanas dan menimbulkan perkelahian, Ploegman saat itu pun meronta-ronta hingga akhirnya tewas tercekik tangan Sidik.

(Baca Juga: Sederet Mercusuar Tua yang Harus Dikunjungi Sekali Seumur Hidup)

Pistol yang digenggam Ploegman pun berbunyi dan membuat tentara Belanda siaga. Sidik pun kemudian tewas tertembak tentara Belanda, sementara Sudirman dan Hariyono berlari menyelamatkan diri ke jalan raya.

(foto: Instagram/@mia_thalib)

Kejadian itu rupanya membangkitkan semangat para pemuda untuk memanjat gedung Hotel Yamato. Melihat kejadian tersebut, Sudirman dan Hariyono pun kembali ke hotel dan memanjat tempat berdirinya bendera Belanda tersebut.

(Baca Juga: Liburan Bareng Keluarga di Tempat Kekinian Bandung, Banyak Spot Foto Ciamik)

Di sana, kedua pejuang bersama Kusno Wibowo menurunkan benderan Belanda kemudian merobek warna biru di bendera di hadapan para pendemo. Sorai haru dan gembira pun terlihat dari masyarakat. Jadilah perisitiwa ini dikenang sebagai insiden penembakan Bendera Belanda menjadi Merah Putih.

(fid)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini