Unik! 4 Kota Ini Melarang Warganya Meninggal, Tak Ada Lahan Pemakaman Jadi Salah Satu Penyebab

Annisa Aprilia, Jurnalis · Senin 28 Agustus 2017 07:00 WIB
https: img.okezone.com content 2017 08 25 406 1763264 unik-4-kota-ini-melarang-warganya-meninggal-tak-ada-lahan-pemakaman-jadi-salah-satu-penyebab-rgwgqCroxz.JPG Longyearbyen (Foto: Unissvalbard)

KEMATIAN menjadi salah satu bagian dari fase kehidupan yang tidak dapat dielak oleh siapapun. Pasalnya, fase akhir dari kehidupan ini dapat mendatangi siapapun tanpa terkecuali. Namun uniknya ada sebuah undang-undang yang mengatur dengan melarang penduduknya meninggal. Terdengar konyol memang, namun setelah mendengar alasan dari pemerintah negara tersebut, cukup masuk akal.

Dilansir Scoopwhoop, Kamis 24 Agustus 2017, Pertama kali aturan dilarang untuk meninggal tersebut muncul pada abad ke 5 SM. Di sebuah pulau bernama Delos di Yunani. Peraturan yang ada di pulau tersebut melarang karena agama yang mereka anut. Berbeda dengan Pulau Delos, sederet daerah di bawah ini punya alasan lain untuk melarang penduduknya meninggal.

(Baca Juga:  Liburan ke Thailand Enggak Boleh Bawa Rokok Elektrik, Sanksinya Jutaan Rupiah!)

Berikut aturan larangan kematian dibeberapa tempat di dunia.

Itsukushima, Jepang

Pulau Itsukushima di Jepang dianggap suci menurut penganut keyakinan Shintoisme dan pengikut keyakinan tersebut didedikasikan untuk menjaga kemurnian pulau dengan memastikan tidak ada yang meninggal di pulau ini. Peraturan tersebut dibuat sejak 1878, larangan untuk tidak meninggal di Pulau Itsukushima harus dilaksanakan penduduk pulau.

Saat itu, pertumpahan darah terjadi akibat perang Miyajima pada 1555, setelah itu komandan memerintahkan jenazah dari tentara yang tewas untuk dipindahkan, lumpur atau tanah yang mengandung darah pun dibuang dan bangunan juga tidak luput dari pembersihan, bangunan-bangunan digosok dan dibersihkan dari darah.

(Baca Juga: SHARE LOC: Yeay! Snorkeling di Pulau Pinjan Enggak Perlu Basah-basahan Lho)

Sellia, Italia

Di daerah ini hanya ada sekira 537 jiwa penduduk yang menghuni. Sebagian besar penduduk telah berusia 65 tahun. Awal mula peraturan larangan kematian dibuat, ketika sang Walikota tengah sekarat. Waktu itu, walikota melarang penduduknya untuk meninggal karena ia menginginkan warganya untuk terus sehat. Bahkan, walikota akan mendenda warganya yang tidak mematuhi pemeriksaan kesehatan dengan rutin. Denda yang dibebankan pun tidak main-main, yaitu 10 euro setiap tahun atau sekira Rp150 ribu lebih.

Lanjaron, Spanyol

Ada sebanyak 4000 jiwa warga Andalucian di Lanjaron juga dilarang meninggal. Undang-undang yang mengatur tersebut merupakan jawaban dari tidak tersedianya tempat pemakaman. Undang-undang kematian ini akan tetap digunakan sampai pemerintah memberikan tanah dan uang pada penduduknya untuk membangun sebuah pemakaman.

Longyearbyen, Norwegia

Saking dinginnya di Longyearbyen, kota ini dijuluki kota beku di Kepulauan Svalbard, Norwegia. Alasan dilarangnya kematian di kota tersebut, karena mayat dari penduduk yang telah tidak bernyawa tidak pernah bisa membusuk. Permafrost menyebabkan mayat benar-benar dalam keadaan yang utuh dan tidak membusuk sama sekali. Namun, akibat dari fenomena ini, sebuah virus muncul dan membuat banyak penduduk sakit parah.

(Baca Juga: SHARE LOC: Yeay! Snorkeling di Pulau Pinjan Enggak Perlu Basah-basahan Lho)

(ade)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini