BACKPACKER DIARY: Jalan-Jalan ke Sa Pa Vietnam, Swiss-nya Asia

Dada Sathilla, Jurnalis · Rabu 27 September 2017 13:05 WIB
https: img.okezone.com content 2017 09 27 406 1783861 backpacker-diary-jalan-jalan-ke-sa-pa-vietnam-swiss-nya-asia-OQ05KDd16S.jpg Menjelajahi Sapa di Vietnam (Foto: Dada/Sathilla)

KAWASAN utara Vietnam terdiri dari area pegunungan yang berbatasan langsung dengan Tiongkok. Di sini juga letak kota perbukitan Sa Pa yang sejak lama dikenal sebagai salah satu destinasi wisata utama di Vietnam. Kecantikan alam Sa Pa membuatnya dijuluki sebagai Swiss-nya Asia atau Alpen-nya Asia.

Minggu ini saya memutuskan travelling ke Sapa selama 4 hari. Setelah bepergian dengan sleeper bus dari Hanoi dan Lao Cai, akhirnya tibalah saya di Sa Pa. Sa Pa sebenarnya merupakan sebuah distrik di provinsi Lao Cai. Kota Sa Pa sendiri merupakan kota perbukitan indah yang menarik kunjungan banyak wisatawan lokal maupun asing.

Saya menginjakkan kaki di Sa Pa sekitar jam 1 siang di terminal bis Sa Pa. Terminal ini terletak dekat dengan Sapa market. Suasana lumayan ramai dengan adanya banyak motor dan truk yang lalu lalang. Beberapa ruas jalan terlihat berlubang. Rupanya di beberapa titik di kota Sa Pa tengah dibangun gedung - gedung baru. Turisme jelas telah menghidupkan ekonomi kota ini.

Kota Sa Pa didominasi dengan perbukitan yang mengelilingi pusat kota. Landskapnya mengingatkan saya akan Positano dan Amalfi di Italia. Rumah dan gedung bergaya arsitektur Prancis terlihat berjejer mengelilingi danau Sa Pa.

Rumah dan gedung membentuk undakan hingga ke bagian atas bukit. Danau Sa Pa yang membelah kota terlihat cantik dengan airnya yang berwarna biru. Tampak beberapa turis tengah asyik menikmati danau dari perahu - perahu angsa sewaan.

Di alun - alun kota berdiri sebuah gereja kecil bergaya abad pertengahan. Gereja batu ini didirikan oleh Prancis yang sempat menguasai Vietnam sejak akhir abad ke-19. Gereja bernama Notre Dame Du Rosaire ini tentunya menjadi spot foto favorit para turis.

Di seberang gereja, ada bundaran cekung berundak yang digunakan warga lokal sebagai area latihan roller skate, bersepeda maupun berolahraga sore. Di seberangnya, beberapa warga lanjut usia tampak sedang berdansa salsa di taman. Suasana Sa Pa yang lively ini terasa semakin nyaman karena suhu udara yang dingin, mencapai 21 derajat Celcius.

Menjauhi pusat kota saya mulai memasuki area Cat Cat Village. Di sinilah terletak salah satu desa suku minoritas Vietnam. Sepanjang perjalanan saya terkagum-kagum dengan panorama cantik di hadapan saya.

Terbentang jajaran perbukitan dan pegunungan hijau yang berpadu dengan barisan pohon pinus serta sungai berbatu. Di lembah Mung Hoa ini tampak pula terasering yang sangat luas. Tak salah bila Sa Pa dijuluki sebagai Swissnya Asia atau Alpennya Asia. Pemandangan disini membuat saya teringat akan Eropa.

Sayangnya menjelang petang, kabut mulai turun menutupi lembah bahkan kota. Keberadaan kabut merupakan hal yang lumrah di Sa Pa. Saat musim dingin kadang juga turun salju di kota yang juga dijuluki 'Queen of Mountains' ini.

Sa Pa merupakan rumah bagi beragam suku minoritas Vietnam seperti black Hmong, red Hmong, green Hmong, flower Hmong, Day dan lainnya. Mereka sebenarnya termasuk etnis Tiongkok. Suku minoritas ini memiliki bahasa dan busana sendiri yang mirip dengan baju adat Mongolia. Trekking sambil mengunjungi desa - desa suku minoritas di lembah yang sangat indah merupakan salah satu atraksi wisata utama di Sa Pa.

Di Sa Pa jugalah terletak puncak gunung tertinggi di kawasan Indochina, Fansipan, yang berada di ketinggian 3.143 meter. Tentunya Fansipan, yang masih bagian dari rantai Himalaya, menjadi daya tarik bagi mereka yang gemar mendaki gunung.

Sebagai kawasan wisata populer di Vietnam, terdapat beragam hotel, homestay dan hostel di Sapa. Hotel - hotelnya ada yang bergaya kuno maupun modern, terletak di kota Sa Pa maupun menghadap langsung ke lembah. Restoran di Sa Pa juga beragam. Menghidangkan masakan Vietnam maupun barat.

Selain wisata pegunungan, Sa Pa juga menjadi pilihan tepat bagi yang ingin rehat dari kesibukan di kota dan mencari ketenangan. Seharian tinggal di hotel lalu singgah ke restoran pun tak masalah karena pilihannya beragam.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini