BACKPACKER DIARY: Intip Deretan Rumah Suku Minoritas di Cat Cat Village Vietnam

Dada Sathilla, Jurnalis · Rabu 27 September 2017 13:04 WIB
https: img.okezone.com content 2017 09 27 406 1783877 backpacker-diary-intip-deretan-rumah-suku-minoritas-di-cat-cat-village-vietnam-iuUb7Ezerm.jpg Cat Cat Village Vietnam (Foto: Dada/Kontributor)

Pantai pasir putih, lanskap yang cantik, juga sejarah yang menarik, membuat Vietnam sangat menggoda untuk dikunjungi. Apalagi wisata pegunungan dan desa-desa terpencil di Vietnam yang jarang wisatawan ketahui.

Ya pegunungan Sapa, salah satu destinasi wisata yang tak boleh dilewatkan. Anda bisa trekking sambil mengunjungi desa-desa suku minoritas Vietnam. Desa yang paling terkenal dan sering dikunjungi traveler adalah Cat Cat Village.

Berjarak hanya 2 kilometer dari pusat kota Sapa, Cat Cat Village bisa dicapai dengan berjalan kaki, naik taksi maupun sepeda motor. Motor bisa disewa dengan harga 100.000 Dong atau sekitar Rp50 ribu per 12 jam. Cara paling asyik tentunya dengan berjalan kaki. Sepanjang perjalanan Anda akan melewati toko-toko suvenir, restoran, kafe dan pastinya pegunungan dan lembah Muong Hoa yang terkenal akan kecantikannya. Kecantikan lembah hijau ini bahkan disebut mirip dengan panorama Eropa sehingga Sapa kadang disebut sebagai Swiss-nya Asia atau Alpen-nya Asia.

Tak jauh dari area perbukitan sampailah saya di depan pintu gerbang Cat Cat Village. Untuk masuk ke desa wisata ini perlu membeli tiket masuk yang harganya 50.000 Dong atau sekitar Rp25 ribu per orang. Sebelum berangkat ke Sapa saya sempat membaca kalau untuk masuk ke desa etnik perlu membeli izin dari kantor informasi turis dulu. Tanpa izin maka tak diperbolehkan membeli tiket masuk desa etnik apalagi masuk. Namun resepsionis hotel meyakinkan bahwa saya tak perlu membeli izin, cukup bayar tiket masuk saja. Dan ternyata benar. Mungkin aturan izin ini telah dicabut beberapa waktu lalu.

Dari loket tiket saya berbelok ke sebuah gang kecil. Gang ini merupakan pintu masuk ke Cat Cat Village. Sebagai daerah wisata yang maju di Vietnam, desa etnik di Sapa terlihat rapi dan terkesan ditujukan untuk turis. Jalanan yang menurun bisa dilalui dengan mudah karena telah dibangun tangga berbatu. Di sebelah kanan kiri tangga tampak toko - toko suvenir. Penjualnya yang rata-rata suku minoritas Black Hmong rajin menawarkan kerajinan tangan sekaligus cinderamata buatan mereka. Meski tinggalnya di pegunungan, suku minoritas ini bisa berbahasa Inggris lancar tanpa aksen. Sungguh beda dengan kebanyakan masyarakat Vietnam yang susah berbahasa Inggris. Bila bisa pun biasanya agak sulit dipahami karena aksen Vietnamnya sangat kental.

Di antara deretan rumah suku minoritas ini ada beberapa rumah tradisional suku Black Hmong yang bisa dikunjungi turis. Cara menemukannya mudah karena telah ditandai dengan papan petunjuk. Rumah tradisional Black Hmong terlihat sangat tradisional dengan dinding terbuat dari kayu dan semen. Di depan rumah tampak deretan jagung yang digantung. Entah untuk apa. Di bagian dalam rumah yang tak disekat dinding ini saya melihat seorang wanita paruh baya Black Hmong tengah memasak menggunakan kayu bakar.

Wanita Black Hmong terlihat seperti halnya etnis Tiongkok. Ia memakai kalung logam di leher, berambut panjang sepinggul yang kadang digulung, memakai pakaian adat berwarna - warni yang terdiri dari atasan lengan panjang dengan kerah ala Cheongsam dan rok hitam berwarna - warni. Pakaian adat Black Hmong ini mengingatkan saya akan pakaian adat Mongolia. Satu yang menarik perhatian saya adalah, meski Sapa termasuk kawasan wisata populer di Vietnam dimana selalu dibanjiri traveler, Black Hmong dan suku minoritas lainnya bisa dibilang terlihat miskin. Mereka biasanya bekerja menjajakan suvenir maupun bekerja sebagai tour guide untuk trekking dan hiking.

Dari rumah Black Hmong saya kembali menuruni undakan batu, berbelok ke kanan kiri mengikuti undakan dan papan petunjuk arah. Disini saya menemukan rumah tradisional lainnya yang ternyata rumah Shaman atau dukun. Dari rumah, saya kembali menuruni undakan dan menemukan kebun bunga yang cantik.

Kebun bunga berwarna kuning ini terletak persis di kaki bukit sehingga menghasilkan pemandangan alam yang menawan. Pun ketika difoto. Di Cat Cat Village ini saya menemukan dua kebun bunga. Kebun bunga satunya berada di tepi kolam teratai dan bisa dicapai dengan melewati jembatan bambu. Bedanya kebun bunga yang ini bunganya semuanya berwarna pink.

Saat hari menjelang malam, saya memutuskan kembali ke atas. Perjalanan ke atas memakan waktu sekitar 1 jam. Saat tiba kembali di kota Sapa waktu sudah menunjukkan jam 19.15. Saya merasa puas menjelahi Cat Cat Village. Alamnya yang indah serta desanya yang rapi mampu menyegarkan dan membuat rileks pikiran. Berikut foto-foto cantik Cat Cat Village.

1
5

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini