OKEZONE WEEK-END: Menelusuri Transformasi Bangunan Ikrar Sumpah Pemuda dari Rumah Kos Menjadi Museum

Utami Evi Riyani, Jurnalis · Minggu 29 Oktober 2017 08:14 WIB
https: img.okezone.com content 2017 10 29 406 1804486 okezone-week-end-menelusuri-transformasi-bangunan-ikrar-sumpah-pemuda-dari-rumah-kos-menjadi-museum-ZO5jBQYs7T.jpg Museum Sumpah Pemuda (Foto: Utami/Okezone)

MUSEUM Sumpah Pemuda menjadi saksi perjuangan berkumpulnya pemuda untuk mempersatukan pemuda-pemudi Nusantara. Namun tahukah Anda jika museum ini awalnya hanyalah sebuah tempat kos?

Museum Sumpah Pemuda terletak di Jalan Kramat Raya Nomor 106 Jakarta Pusat. Letaknya tak jauh dari RS Kramat. Gedung ini awalnya didirikan oleh Sie Kie Liong pada 1908 dan digunakan sebagai rumah pribadinya.

Kemudian gedung ini dikenal dengan nama Gedung Kramat 106 yang disewakan untuk para pelajar. Dulu, gedung ini digunakan untuk menampung para pelajar yang tidak memiliki tempat di asrama sekolah. Para pelajar yang tinggal di sini sebagian adalah mereka yang ingin hidup bebas di luar asrama.

Pelajar yang tinggal di Gedung Kramat 106 adalah pelajar dari STOVIA dan Rechtshoogeschool School yang berasal dari Jong Java dan Jong Sumatera. Salah satunya adalah Mochammad Yamin yang mengemban tugas sebagai Sekretaris Kongres Pemuda II pada 1928. Selain M. Yamin, ada A.K Gani, Kuntjoro, Rusmali, Abu Hanifah, Amir Sjarifuddin, Surjadi, Tamzil, dan lainnya yang juga tinggal di sini.

Kemudian gedung ini digunakan sebagai pusat kegiatan pemuda yang tergabung dalam Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI). Mereka aktif melakukan pertemuan dan membicarakan berbagai masalah sosial dan pergerakan nasional.

Seiring berjalannya waktu, Gedung Kramat 106 berganti nama menjadi Indonesische Clubgebouw (Gedung Pertemuan Indonesia). Para pemuda pun aktif melakukan berbagai pertemuan demi terselenggaranya Kongres Pemuda II pada 27 hingga 28 Oktober pada 1928.

Sumpah Pemuda yang dikenal saat ini lahir dari kongres tersebut. Sumpah Pemuda dibacakan di hadapan sekira 750 orang yang hadir di gedung kongres. Bahkan, sebagian orang terpaksa duduk di luar gedung karena tidak mendapatkan tempat duduk.

Sebelum beralih fungsi menjadi museum, gedung ini sempat digunakan sebagai toko bunga, hotel, dan perkantoran. Kemudian bangunan ini resmi menjadi Museum Sumpah Pemuda pada 1973.

Di bangunan ini, beberapa benda bersejarah yang menjadi saksi lahirnya Sumpah Pemuda tersimpan rapi. Termasuk biola WR Soepratman dan sepeda yang pernah digunakan oleh para pelajar yang tinggal di sini.

Museum Sumpah Pemuda berbentuk sederhana, seperti rumah tinggal pada umumnya. Bangunan ini memiliki teras dan beberapa ruangan yang beralaskan ubin. Di dalamnya, Anda bisa menyaksikan berbagai dokumentasi para pemuda yang berjuang untuk mempersatukan Nusantara.

(ren)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini