Pesona Wisata Gua Sarang, Sabang yang Ramai Dikunjungi Turis Asing

Khalis Surry, Jurnalis · Sabtu 03 Februari 2018 21:03 WIB
https: img.okezone.com content 2018 02 03 406 1854338 pesona-wisata-gua-sarang-sabang-yang-ramai-dikunjungi-turis-asing-1m31MFO65z.jpg Gua Sarang (Foto: Ist)

JARUM jam mengarah pada pukul 10.48 WIB. Enam pemuda berstatus mahasiswa sedang asyik swafoto dan saling memoto. Udara segar pagi itu menyambut kami kala menginjakkan kaki wisata Gua Sarang, beberapa waktu lalu.

Berbicara soal wisata di Aceh memang tak ada habisnya. Di balik selimut hutannya yang menjadi penyumbang napas untuk dunia, Aceh menyimpan berbagai wisata alam nan eksotis, mulai wisata di pegunungan hingga destinasi pesisir pantai. Salah satunya wisata Gua Sarang. Destinasi wisata akhir pekan ini terletak di Desa Iboih, Kecamatan Sukakarya, Kota Sabang.

Gua Sarang menawarakan keindahan alam yang masih natural, terletak di daerah pegunungan Sabang. Hijau daun pepohonan mengapit perjalan hingga sampai di lokasi wisata, membuat wisatawan tak bosan-bosan untuk berkunjung kembali.

 

Setelah merogoh kocek Rp5 ribu per orang untuk tiket masuk, arah pandang mata langsung tertuju ke laut lepas. Dari pegunungan tempat pijakan kaki, memandang hamparan biru Samudera Hindia dan beberapa pulau kecil terdekat begitu memanjakan mata. Berada di sana, enggan beranjak rasanya.

Beberapa waktu lalu, Okezone berkesempatan berkunjung ke Gua Sarang bersama rekan mahasiswa dari Kota Banda Aceh. “Tujuan utama kami memang ke Gua Sarang, setelah ke sini baru kami ke tempat wisata lain,” ujar Zulfa, mahasiswa Teknik Pertambagan Unsyiah.

 

Di Sabang tidak hanya menyimpan wisata Gua Sarang. Destinasi lainnya yang sudah sangat terkenal seperti Pulau Rubiah, Iboih, terasa sangat rugi jika berkunjung ke Sabang, namun tak menikmati alam bawah laut yang kaya dengan biota luat. Beberapa tujuan lain seperti, Pantai Sumur Tiga, Kilometer Nol Indonesia, dan lainnya.

Setelah asyik berayun-ayun sambil menikmati angin sepoi-sepoi. Pengunjung biasanya langsung ke tujuan utama, Gua Sarang. Terletak di bibir pantai. Akses ke sana harus menuruni sekira 158 anak tangga. “Dulu belum bisa turun pakek tangga, masih turun pakek tali,” kata Teuku Syahrizal, pengelola wisata Gua Sarang.

Syahrizal berkisah, tempat wisata ini sudah sangat lama ada. Areal di tempat wisata Gua Sarang tersebut merupakan tanah warisan untuk dirinya, sehingga dia yang mengelola. Syahrizal mendapatkan warisan dari Sulatan Iskandar Muda untuk keluarganya. Namun, Gua Sarang diperkenalkan menjadi tempat wisata sejak pertengahan 2015. Melalui media sosial bahkan media massa, tempat ini kian terkenal.

Dulu, akses menuju ke Gua Sarang tak mudah seperti sekarang ini. Hanya orang yang suka menjelajah saja kerap ke sini. Sebelum terkenal, pengunjung harus merogoh kocek Rp1,5 juta untuk menyewa boat nelayan agar bisa menuju ke Gua Sarang, dengan perjalanan mulai dari Pantai Iboih menuju Gua Sarang, saat itu belum ada jalur darat.

Syarizal menjabat sebagai ketua untuk mengurusi dua hutan di Desa Batee Shok dan Desa Iboih. Bermodal ilmu yang didapatkan saat studi banding ke Yogjakarta, dirinya berinisiatif untuk mengembangkan Gua Sarang ini menjadi tempat wisata unggulan yang ada di daerah paling barat Indonesia.

“Saya terinspirasi seperti wisata Kali Biru di Jogja,” sebutnya. Dan tangga itu baru setahul lalu dibuat olehnya menggunakan alat berat.

Lalu, dari mana asal muasal nama Sarang? Syahrizal mengatakan nama itu dibuat lantaran terdapat pintu gua yang di dalamnya dihuni dan menjadi sarang bagi burung walet. Di situ terdapat sebanyak lima buah pintu gua, namun hanya dua pintu gua yang dihuni burung yang diyakini banyak manfaat itu.

Tak hanya mengabadikan momen dengan kamera. Gua Sarang juga menawarkan tempat kepada wisatawan yang suka kebiasaan di pantai seperti berenang, snorkeling, menyelam. Bahkan di area ini kerap dijadikan tempat berkemah.

Bagi Anda yang suka berkemah dengan rekan dan kerarabat, Anda harus membayar mulai Rp200 hingga Rp300 ribu. “Uang itu saya gunakan untuk bangun fasilitas lain, seperti toilet. Karena selama ini saya bangun dengan uang saya sendiri,” imbuh Syahrizal.

Jika ingin snorkeling di Gua Sarang, kata Syahrizal, ada waktu tertentu. Ketika musim barat datang di kawasan wisata Gua Sarang tidak bisa digunakan untuk snorkeling atau sejenisnya karena angin begitu kencang. “Kalau sudah musim timur baru bisa, karena angin enggak kencang lagi, sudah aman.”

Tak usah khawatir, sebagai founder, Syahrizal juga membuka warung yang menyediakan beraneka ragam makanan ringan tempat wisata itu. Kopi? Juga ada kok!

Kini, menuju ke Gua Sarang, Anda tidak harus menggunakan boat nelayan lagi. Dari Kota Banda Aceh, Anda harus menumpang kapal lambat, BRR atau kapal cepat, Express Bahari menuju ke Kota Sabang. Merapat di Pelauhan Balohan, berjarak 20 kilometer, Anda bisa langsung menuju ke Desa Iboih, lalu belok ke kiri jika Anda sudah mendapatkan palang terbuat dari kayu yang terulis ‘Gua Sarang’ dengan jarak tempuh sekira 25 menit. Jalanan sudah beraspal juga kok.

 

Dihubungi terpisah, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Sabang, Ali Taufik mengatakan kini wisata Gua Sarang sangat banyak dikunjungi oleh wisatawan. Gua Sarang menjadi salah satu tujuan favorit pelancong dalam dan luar negeri.

"Keberadaan Gua Sarang di balik Gunung itu telah banyak dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun wisman. Gua Sarang juga cocok dikunjugi oleh pencinta pertualagan atau adventure,” katanya.

Dan juga ia mengatakan, pemerintah Kota Sabang akan terus berinovasi di wilayah tersebut, agar akses menuju ke tempat wisata tersebut semakin lancar. Dan begitu juga dengan destinasi wisata lainnya di kota tersebut.

"Kita terus melakukan inovasi di wilayah itu. Agar aksesnya bisa lebih mudah lagi di jangkau," ujar Ali. "Gua Sarang ini merupakan tempat bersarangnya burung walet banyak terdapat keunikan di gua itu, sehingga ini bisa menjadi daya tarik wisatawan domestik maupun mancanegara."

(dno)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini