Pariwisata Bali di Ujung Timur Mulai Bangkit Pasca Mati Suri

Agregasi Antara, Jurnalis · Senin 26 Februari 2018 05:30 WIB
https: img.okezone.com content 2018 02 26 406 1864638 pariwisata-bali-di-ujung-timur-mulai-bangkit-pasca-mati-suri-IIPWB0X6N6.jpg Pura Besakih (Foto: Telegraph)

DENPASAR - Gunung Agung dengan ketinggian 3.142 meter di atas permukaan laut di Desa Rendang, Kabupaten Karangasem, wilayah timur Bali, yang sempat beberapa kali mengalami erupsi, statusnya kini level III (Siaga), diturunkan dari sebelumnya level IV (Awas) sejak 10 Februari 2018.

Diturunkannya status gunung tertinggi di Bali oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) itu juga diikuti pengurangan zona perkiraan bahaya yang awalnya enam kilometer menjadi empat kilometer dari kawah puncak, sehingga masyarakat yang mengungsi bisa kembali ke rumahnya masing-masing.

Seiring diturunkannya status gunung tersebut, Pura Besakih di lereng kaki Gunung Agung sebagai objek wisata andalan di wilayah timur Pulau Dewata, juga dibuka untuk pelancong.

Termasuk dikunjungi oleh 36 duta besar negara sahabat, beserta masing-masing keluarga yang totalnya 60 orang diantar Sekretaris Ditjen Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri Al Busyra Basnur dan Bupati Karangasem I Gusti Ayu Mas Sumantri.

Pura Besakih di lereng kaki Gunung Agung itu terdiri atas 16 kompleks pura yang menjadi satu-kesatuan tak terpisahkan satu sama lainnya, yang memiliki arti penting bagi kehidupan keagamaan umat Hindu, yang dianut sebagian besar masyarakat Pulau Dewata.

Keunikan, kesakralan dan menawannya kawasan Besakih menjadi sasaran kunjungan para dubes beserta keluarganya, yang sebelumnya sempat diterima Bupati Karangasem I Gusti Ayu Mas Sumantri dengan pengalungan bunga di objek wisata Taman Tirtagangga.

Pura Besakih dan kawasan Tulamben di Kecamatan Rendang selama ini paling ramai dikunjungi wisatawan mancanegara yang mampu memberikan kontribusi besar untuk menopang perkembangan sektor pariwisata di Bali timur, yang selama ini hampir enam bulan sejak 22 September 2017 mengalami mati suri (lumpuh) akibat aktivitas vulkanik Gunung Agung.

Namun dengan adanya penurunan status Gunung Agung dari Level Awas menjadi Level Siaga secara berangsur-angsur pariwisata Karangasem mulai bangkit, yakni wisatawan mulai menginap di daerah ujung timur Pulau Bali, meskipun belum meningkat signifikan, seperti yang diungkapkan Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Karangasem, Wayan Tama.

Rata-rata tingkat hunian akomodasi pariwisata itu mencapai sekitar 20 persen dan diharapkan pariwisata Karangasem sedikit demi sedikit mulai hidup kembali setelah nyaris "tertidur". Data okupansi hotel di beberapa titik wisata di Karangasem yakni di kawasan Tulamben 15 persen, Candidaksa 25 persen setelah sebelumnya sempat menyentuh nol persen.

Sita Marlina, salah seorang pelaku pariwisata di Desa Tulamben, Karangasem mengakui secara perlahan okupansi kamar hotel mulai merangkak naik, pascaditurunkannya status Gunung Agung. Meningkatnya kunjungan pelancong itu didominiasi wisatawan dari benua Eropa, China dan Australia.

Wisatawan dari negara-negara potensial itu seakan memberi nafas baru bagi denyut ekonomi masyarakat Kabupaten Karangasem.

Suguhkan tarian khas Kunjungan puluhan duta besar negara sahabat ke Kabupaten Karangasem itu disambut dengan suguhan tarian khas Desa Seraya "Gebug Ende", serta penampilan sekaa/kelompok seni genjek dan tarian legong di objek wisata Taman Tirtagangga.

Lewat kesempatan baik itu, Bupati Mas Sumantri berharap dapat membuktikan, bahwa pariwisata di "Bumi Lahar" tetap bisa menjadi primadona untuk menarik kunjungan wisatawan dalam dan luar negeri ke daerah itu.

Puluhan dubes dapat menikmati panorama alam di Taman Tirtagangga, Karangasem yang sangat aman dan nyaman pascaaktivitas Gunung Agung.

Bupati Mas Sumantri atas nama masyarakat dan pemerintah menyampaikan apresiasi dan terima kasihnya atas kunjungan para duta besar negara sahabat yang mampu memberikan kesan yang mendalam.

Karangasem merupakan salah satu dari delapan kabupaten dan satu kota di Bali, yang dikaruniai keindahan panorama alam serta keunikan seni budaya yang menjadi salah satu daya tarik wisatawan.

(Baca Juga: Besakih Direkomendasikan Menjadi Pusat Siwaratri Dunia)

Objek wisata Taman Tirtagangga merupakan satu warisan Kerajaan Karangasem yang Agung, dibangun tahun 1948 oleh Raja Karangasem, Anak Agung Anglurah Ketut Karangasem. Taman air ini dikonstruksi dalam arsitektur yang sangat unik dengan gaya Bali dan China, berlokasi di Desa Ababi, Kecamatan Abang, sekitar 83 km timur Denpasar atau enam km utara Amlapura, ibu kota Kabupaten Karangasem.

Di kawasan tersebut tersedia fasilitas antara lain hotel, restoran, warung serta areal parkir yang luas. Kompleks pertama yakni pada bagian paling bawah berupa dua kolam teratai dan air mancur. Kompleks kedua adalah bagian tengah dengan fasilitas kolam renang.

(Baca Juga: Jarang Ada yang Tahu, Pura Besakih "Ibu" Semua Pura di Pulau Dewata Lho!)

Sementara, pada bagian ketiga berupa tempat peristirahatan raja. Sebelum konstruksi Tirtagangga, terdapat sumber mata air besar di daerah ini, sehingga masyarakat setempat menyebut daerah ini "embukan" yang artinya mata air. Mata air itu kemudian difungsikan untuk memenuhi kebutuhan penduduk akan air, yang semuanya itu mampu menarik menjadi daya tarik para dubes.

Di Bali tiga hari Sekretaris Ditjen Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri Al Busyra Basnur mengatakan, pihaknya mengajak 36 duta besar negara sahabat beserta keluarganya dalam kunjungan selama tiga hari di Bali, 23-25 Februari 2018.

Kegiatan tersebut digagas Bali Tourism Board (Badan Promosi Pariwisata Daerah/BPPD) atas kerja sama ITDC (Indonesia Tourism Development Corporation), Kemenko Kemaritiman, Kemenlu, Kemenpar dan Pemprov Bali yang diharapkan mampu memulihkan pariwisata Pulau Dewata.

Para dubes dalam kunjungannya ke Bali sekaligus sebagai sarana promosi efektif bagi warga negara mereka. Salah satu tujuan utamanya ke Karangasem, Bangli, Gianyar dan Nusa Dua, Kabupaten Badung. Mereka setelah melihat langsung kondisi Bali, menyaksikan kondisi nyata di lapangan, menganggap Bali merupakan tempat yang ideal dan nyaman untuk berwisata bagi warga negaranya, tidak sekadar mendengar informasi yang belum tentu kebenarannya.

Dengan fakta tersebut, Basnur berharap para dubes bisa meyakinkan pemerintah dan warganya terhadap kondisi Bali. Karena memang, tujuan dari mengundang para dubes itu untuk pemulihan pariwisata Bali, pascaerupsi Gunung Agung.

Kunjungan wisman ke Bali memang sudah menunjukkan ke arah pemulihan. Indikasinya mulai ada keramaian kunjungan wisman. Misalnya pada Januari 2018 tercatat lebih dari 390 ribu. Namun jumlah ini masih kurang dari capaian Januari tahun 2017 mencapai sebanyak 480.000 orang.

Bali sebagai daerah tujuan wisata utama di Indonesia menerima kunjungan wisatawan mancanegara sebanyak 5,69 juta orang selama tahun 2017, meningkat 769.802 orang atau 15,62 persen dibanding tahun sebelumnya yang tercatat 4,92 juta orang.

Kunjungan turis ke Bali untuk menikmati panorama alam serta keunikan seni budaya Pulau Dewata maupun untuk mengikuti berbagai kegiatan pertemuan dan seminar tingkat internasional itu melampaui target yang ditetapkan 5,5 juta orang.

Sedangkan target tahun 2018 sebanyak 6,5 juta wisman. Para dubes yang diundang tur ke Bali tersebut merupakan para dubes dari negara-negara pasar potensial pariwisata Bali.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini