Share

Pinus Sari, Pegunungan Tandus yang Kini Jadi Primadona Wisatawan

Senin 26 Februari 2018 22:18 WIB
https: img.okezone.com content 2018 02 26 406 1865159 pinus-sari-pegunungan-tandus-yang-kini-jadi-primadona-wisatawan-Y1h7HSbqps.jpg Ilustrasi

BANTUL - Usia Pardi sudah tidak muda lagi, hampir 60 tahun. Meski begitu, semangat hidupnya tak sedikitpun terlihat memudar. Dengan telaten, kakek satu cucu ini memeriksa satu per satu toilet yang ada di kawasan Objek Wisata Pinussari di Mangunan, Dlingo, Bantul, DIY.

Toilet dan lokasi sekitarnya merupakan wilayah yang menjadi tanggung jawabnya. Setiap hari, sejak pukul 06.30 hingga 17.00 WIB, Pardi selalu standby di sana. Pardi mengaku senang dengan pekerjaan yang dilakoninya sekarang. Selain punya penghasilan tetap, pekerjaan yang dilakoni sekarang juga lebih ringan dibanding dulu saat masih bekerja serabutan. Kecamatan Dlingo, Bantul saat ini menjadi primadona wisata baru di Bantul, kabupaten paling selatan di wilayah DIY ini. Sepuluh tahun lalu, wilayah Dlingo dikenal sebagai daerah pegunungan yang tandus. Setiap tahun, selalu saja terjadi kekeringan di wilayah ini. Warga di wilayah ini juga cenderung “malu” mengaku jika berasal dari wilayah paling timur di Kabupaten Bantul ini.

Namun saat ini kondisinya jauh berbeda. Setiap akhir pekan, di wilayah Dlingo hilir mudik bus-bus wisata dan kendaraan pribadi dari luar kota. Dlingo menjadi magnet baru tujuan wisata. Tak hanya wisatawan lokal, wisatawan mancanegara juga berburu “selfie” di Dlingo. Bahkan mantan presiden AS Barrack Obama pun kepincut dengan keindahan Pinus Becici, salah satu objek wisata alam di Dlingo. Tak kurang ada 30 objek wisata baru yang dikelola masyarakat. Geliat wisata ini sedikit demi sedikit mampu mengubah kehidupan ekonomi warganya.

“Dulu cari Rp500.000 saja sulit. Kerjanya berat, serabutan. Ya nggotongi(mengangkut) kayu hingga jadi buruh bangunan. Sekarang penghasilan saya Rp1,2 juta hingga Rp2 juta (per bulan) tergantung berapa kali masuk. Kerjanya juga ringan,” ujar Pardi.

Pardi mengaku sangat merasakan dampak ekonomi dengan ramainya wisatawan berkunjung ke desanya. Lelaki yang mempunyai dua anak ini mengaku hidupnya sekarang lebih nyaman. Secara fisik kerjanya juga ringan yakni menjaga kebersihan toilet dan lingkungannya.

“Sakniki urip kulo luweh tentrem (sekarang hidup saya lebih tentram). Punya penghasilan tetap dan lebih baik. Kerja juga lebih ringan,” ujarnya.

Purwo Harsono, penggiat Desa Wisata Mangunan, menuturkan, hutan Pinus sari dirintis sejak akhir 2014. Saat itu, pengelola hutan pinus berasal dari anggota Kelompok Tani Hutan (KTH) Penyadap Pinus dan KTH Lebah Madu.

Mereka mendirikan Koperasi Noto Wono. Koperasi ini kemudian berkembang dan membawahi sembilan objek wisata yang berada di tiga desa yakni Pinus Pengger di Desa Terong; Puncak Becici, Lembah Ndah romo, Lintang Sewu, Pinus Asri di Desa Muntuk; Pinus - sari, Taman Seribu Batu, Bukit Panguk, Bukit Mojo di Desa Mangunan. Semua lokasi objek wisata ini berada di area hutan negara seluas 29,5 hektare.

“Anggota koperasi saat ini ada 298 orang. Mereka terlibat langsung pengelolaan kawasan wisata ini. Rata-rata mereka mendapat gaji UMR yakni Rp1.450.000,” terang mantan guru SMAN 1 Dlingo ini.

Selain melibatkan anggota koperasi, pengelolaan 7 objek wisata juga melibatkan tenaga freelancer yang dipekerjakan setiap Sabtu-Minggu dan hari libur nasonal. Mereka mendapatkan honor Rp70.000 sehari, lengkap dengan fasilitas makan dan minum. “Kalau dihitung dengan tenaga freelancerada 392 orang,” jelasnya.

Selain yang terlibat langsung, dampak ekonomi juga dirasakan warga lainnya seperti pengelola jip wisata, pemilik warung, home industry cindera mata, home stay, pelaku seni, penjual makanan dan lainnya. “Terus terang saya tidak bisa menghitung berapa orang yang bisa terdampak secara ekonomi akibat wisata ini. Karena menurut saya sangat banyak. Di Dusun Mangunan saja ada 16 pengelola home stay dan mereka rata-rata mempekerja kan tetangganya jika ada orderan makanan. Itu baru skala dusun, belum tingkat desa dan keca - mat an,” ujar Ipung, panggilan akrab Purwo Harsono.

Di luar Koperasi Noto Wono, Desa Mangunan masih memiliki tujuh objek wisata lainnya mulai Kebun Buah Mangunan, Watu Goyang, Watung Lawang, Jurang Tembelem, Watu Mabur, Jelajah Sawah Bowongan dan lain sebagainya. “Yang terlibat mengelola juga ratusan,” tambahnya.

Fahrudin, 42, ketua KTH Penyadap Pinus mengatakan, kesejahteraan anggotanya saat ini menjadi lebih baik dibanding saat masih menyadap pinus dulu. Camat Dlingo Tri Tujiyana mengatakan, saat ini sejumlah desa di wilayah Dlingo juga mulai membuat rintisan desa wisata. Menurutnya, ada sekitar 30 objek wisata yang dikelola masyarakat.

Selain itu, di sejumlah desa seperti Desa Jatimulyo, Terong dan Muntuk juga mulai menginisiasi objek wisata baru. Banyaknya tempat wisata baru ini juga mampu meningkatkan perekenomian warga. “Banyak segmen ekonomi yang muncul yang men-supportwisata. Mulai rumah makan, kerajinan dan lain sebaginya,” tegasnya. (KORAN SINDO)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini