Share

Mengenal Asal Usul World Naked Bike Ride, Festival Bersepeda Sambil Telanjang

Tiara Putri, Jurnalis · Sabtu 10 Maret 2018 19:00 WIB
https: img.okezone.com content 2018 03 10 406 1870598 mengenal-asal-usul-world-naked-bike-ride-festival-bersepeda-sambil-telanjang-IRJcybTvsN.jpg World Naked Bike Ride (Foto: Steve Truesdell/Riverfronttimes)

 MASIH ingatkah Anda dengan peristiwa beberapa minggu lalu di mana ada seorang pengendara sepeda yang tewas ditabrak mobil di kawasan Gatot Subroto, Jakarta Pusat? Peristiwa tersebut memicu reaksi dari masyarakat yang sebagian besar berisi kecaman terhadap pengemudi mobil. Namun ada juga yang berpendapat hal itu mungkin bisa terjadi pada orang lain karena tidak disediakannya lajur khusus sepeda.

Ya, bagaimanapun juga sepeda termasuk alat transportasi yang sering digunakan masyarakat untuk menuju tempat tujuan. Kendaraan tersebut memerlukan jalur khusus untuk menjaga jarak dengan kendaraan lain yang bisa saja mencelakainya. Walau begitu, menyediakan jalur khusus sepeda tak lantas membuat permasalahan usai. Di negara lain yang sudah memasang jalur khusus sepeda pun masih ada saja kecelakaan yang melibatkan kendaraan roda dua tersebut.

Pesepeda terkadang dipandang sebelah mata oleh para pengendara lain. Padahal mereka juga memiliki hak yang sama ketika berada di jalan. Kondisi ini memancing reaksi sejumlah masyarakat di Eropa untuk mengajukan protes terbuka melalui sebuah festival.

Mengutip EveningStandard, Sabtu (10/3/2018), festival tersebut mulai diadakan pada 2004 di beberapa kawasan di Inggris dengan nama World Naked Bike Ride. Tujuan dari festival ini adalah memrotes budaya mengendarai khususnya mobil saat berada di jalanan bersama sepeda. Satu hal yang unik dari festival ini adalah sesuai dengan namanya semua orang yang ikut berpartisipasi rata-rata hampir setengah telanjang atau bahkan tidak memakai busana sama sekali. Baik itu laki-laki maupun perempuan, baik orang dewasa maupun anak-anak.

Masyarakat yang ambil bagian akan mengendari sepedanya dengan kondisi tersebut sambil membawa barang bawaan. Ada yang membawa tas, kamera, atau melukis bagian tubuh tertentu dengan cat warna-warni. Semuanya tumpah ruah di jalan dan ikut terlibat dalam euforia tersebut. Salah satu alasan di balik pemilihan busana adalah menyoroti rentannya para pesepeda mengalami kecelakaan.

Festival biasanya akan dipusatkan di tengah kota dan menyusuri jalan-jalan yang telah ditetapkan dengan sepeda. Di beberapa negara, festival tersebut bukan hanya sekadar mengangkat isu tentang keamanan bersepeda melainkan juga permasalahan yang sedang dihadapi negara tersebut. Kembali lagi, festival ini merupakan ajang protes sehingga ada kebebasan untuk menyalurkan pendapat.

Baca Juga: Wujudkan Indonesia Sehat 2025, Lifebuoy dan Halodoc Berkolaborasi Berikan Akses Layanan Kesehatan Gratis

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini