Share

Taman Sari & Sumur Gumuling, Pesona Peninggalan Budaya Jawa yang Memukau

Dada Sathilla, Jurnalis · Jum'at 30 Maret 2018 09:43 WIB
https: img.okezone.com content 2018 03 28 406 1879089 taman-sari-sumur-gumuling-pesona-peninggalan-budaya-jawa-yang-memukau-onyAgMu4DQ.jpg Taman Sari di Yogyakarta (Foto: Sabra Sathilla/Kontributor)

Sebagai kota budaya, pilihan wisata budaya di Yogyakarta seakan tak pernah habis. Meski banyak bermunculan tempat wisata baru, ikon-ikon wisata Jogja juga tak pernah sepi pengunjung. Salah satunya adalah taman sari. Bekas taman kerajaan Mataram ini sering dipuji turis sebagai situs budaya dan sejarah yang menakjubkan serta beraura peaceful.

Taman Sari terletak di sebelah selatan Kraton Yogyakarta. Ketika berkunjung ke Taman Sari beberapa waktu lalu, saya memilih berjalan kaki karena jaraknya hanya 2 kilometer dari kraton Yogyakarta. Untuk berkunjung perlu beli tiket Rp.5000 ribu per orang untuk turis domestik dan Rp.12.000 untuk turis asing.

Atraksi utama disini adalah tempat kolam dan taman yang dulunya merupakan tempat pemandian. Hanya kolam dan taman ini yang tersisa dari komplek taman sari yang sesungguhnya. Dibangun pada pertengahan abad ke-18 sebagai taman kerajaan, Taman Sari dulunya merupakan tempat bersantai sultan Jogja setelah mengalami banyak peperangan.

Taman Sari sebenarnya terdiri dari 59 bangunan yang terdiri dari masjid, ruang meditasi, kolam renang, dan 18 taman air serta paviliun yang dikelilingi danau buatan. Sayangnya perang Jawa, serangan Inggris serta gempa bumi membuat sebagian besar komplek hancur. Bekas reruntuhan taman sari telah berubah menjadi kampung penduduk.

Selain tempat pemandian, bagian yang tersisa dari Taman Sari adalah mushola bawah tanah yang bernama Sumur Gumuling. Untuk masuk ke Sumur Gumuling mesti masuk lewat pintu yang berbeda. Bagian dalam Sumur Gumuling yang berupa lorong luas sering mendapat pujian dari para turis sebagai tempat yang suasananya rileks dan beraura damai.

Baik tempat pemandian maupun Sumur Gumuling memiliki nuasa arsitektur campuran Jawa dan Eropa. Hal ini karena sebelum pembangunan dimulai, arsitek Taman Sari sempat berkunjung ke Batavia (Jakarta) dua kali untuk mempelajari arsitektur Eropa. Tak heran bila turis mancanegara mengagumi karya seni yang dibangun pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono I ini.

Karena waktu telah menunjukkan jam 3 sore, saya diminta untuk keluar komplek segera. Namun petugas keamanan mempersilakan saya dan turis-turis lainnya untuk naik dinding pembatas agar bisa memandangi kolam pemandian Taman Sari yang memukau lebih lama.

(ren)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini