10 Ekspedisi Besar yang Berakhir Tragis, Salah Satunya Makan Anjing Peliharaan Sendiri

Koran SINDO, Jurnalis · Rabu 09 Mei 2018 16:14 WIB
https: img.okezone.com content 2018 05 09 406 1896337 10-ekspedisi-besar-pada-zaman-dahulu-yang-berakhir-petaka-9MtsqSIs0N.jpg Ilustrasi diambil dari Koran-Sindo

JAKARTA - Menjadi petualang dan penjelajah sebuah ekspedisi sejatinya bukan pekerjaan yang selalu berakhir bahagia. Di satu sisi, menjadi petualang adalah pekerjaan menyenangkan dan memompa adrenalin. Namun di sisi lain bahaya juga selalu membayangi. Apalagi jika memasuki daerah yang belum pernah dijamah manusia.

 

Berikut kisah sejumlah ekspedisi dunia yang berakhir dengan petaka.

Ekspedisi Abubakr II

Pada 1310, Abubakr II, penguasa Mali, Afrika Barat, mengumpulkan 400 kapal untuk melakukan eksplorasi lautan barat kerajaannya. Saat ekspedisi pertama kerajaan ini gagal kembali, Abubakr ternyata ngotot dan mengumpulkan jumlah kapal lebih besar, yaitu 2.000 kapal. Setelah melepaskan takhta, Abubakr II sendiri yang memimpin ekspedisi tersebut, dan sampai sekarang tidak pernah terdengar lagi kabar darinya.

 

Panfilo Narvaez

Panfilo Narvaez adalah conquistador Spanyol pada abad ke-16. Pada 1527, Narvaez melakukan ekspedisi berlayar ke Florida Amerika untuk mencari emas dengan lima kapal dan 600 orang. Sayangnya, warga asli Florida mengusir dan menyerang mereka. Bersama 245 anggota kelompoknya yang tersisa Narvaez berusaha menyelamatkan diri dengan berlayar melintasi Teluk Meksiko. Selama upaya itu, Narvaez tersapu ke laut dan tidak pernah terlihat lagi. Delapan puluh enam anggota ekspedisi lainnya berhasil mencapai Galveston, meski akhirnya mereka ditangkap.

Henry Hudson

Henry Hudson (1565–1611) adalah penjelajah laut Inggris dan navigator pada awal abad ke-17, dikenal karena penjelajahannya di Kanada. Pada 1607 dan 1608, Hudson melakukan ekspedisi untuk menemukan Jalur Timur. Pada 1609 ia mendarat di Amerika Utara dan menjelajah wilayah di sekitar metropolitan New York modern. Pada 1611, setelah musim dingin di Pantai James Bay, Hudson berniat menuju ke barat, tetapi sebagian besar krunya memberontak dan melemparkan Hudson, putranya, dan tujuh orang lainnya ke laut sehingga mereka tidak pernah terlihat lagi selamanya

Saloman August Andree

Sebuah balon udara dengan sistem kemudi rencananya akan membawa seorang insinyur, ahli fisika, penerbang, dan penjelajah kutub asal Swedia, Salomon August Andrée ke Kutub Utara lewat Rusia atau Kanada. Tahun 1897, Andrée akhirnya berangkat dengan 2 orang teman. Setelah 10 jam 29 menit terbang, ia melakukan kontak dengan daratan sebelum mengalami kecelakaan 41 menit kemudian. Tidak ada yang terluka dalam kecelakaan tersebut, namun Andrée ternyata tidak membawa peralatan atau pakaian untuk bertahan hidup. Setelah tiga bulan berada di Kutub Utara dan berjalan ke Pulau Kvitøya, mereka meninggal dunia.

Charles Francis Hall

Charles Francis Hall adalah penjelajah asal AS yang berangkat ke Kutub Utara pada Juni 1871. Hall, pemilik surat kabar dan pandai besi, berangkat ke Kutub Utara untuk membantu mencari ekspedisi John Franklin yang hilang pada1845. Meski sedikit memiliki pengalaman berlayar, Hall tampaknya tidak dipercaya dan tidak disukai oleh kru ekspedisinya. Pada awal November 1871, Hall ditemukan mati terjatuh. Diduga kuat dia diracuni oleh kru yang tidak puas atas kepemimpinannya. Ekspedisi ini tidak pernah berhasil mencapai Kutub Utara. Kapal ekspedisinya ditinggalkan di Greenland beserta kru, minus Hall, dan baru diselamatkan pada 1873.

Baca Juga: 5 Meme Udara Panas Ini Sungguh Menggelitik Sekaligus Bikin Hati Adem!

Douglas Mawson

Douglas Mawson adalah penjelajah Antartika dari Australia yang memimpin Ekspedisi Antartika Australasian pada 1911. Dalam ekspedisinya, Mawson ditemani dua rekannya Xavier Mertz dan Belgrave Ninnis. Setelah lebih dari 501 km berjalan, ketiganya jatuh ke es batu di sebuah jurang besar dan menyebabkan Ninnis meninggal. Mawson yang membawa banyak anjing terbaik dalam ekspedisinya dipaksa berimprovisasi makanan dan tempat tinggal untuk bertahan hidup. Bahkan karena bahan makanan menipis, mereka sempat memakan daging anjing. Akhirnya Mertz meninggal karena kedinginan dan Mawson dipaksa menyelesaikan perjalanannya kembali sendirian.

Charles Stoddart dan Arthur Conolly

Abad ke-19 kerajaan Britania Raya dan Rusia terlibat dalam persaingan politik untuk memperluas wilayah di Asia Tengah. Inggris ingin mempertahankan India sedang Rusia maju ke selatan melalui Asia Tengah. Pada 1838, Kolonel Charles Stoddart melakukan perjalanan ke Bukhara, di Uzbekistan. Setelah tiba, Stoddart membuat Emir Bukhara marah dan menawannya. Tiga tahun kemudian, penyelamatan dilakukan oleh Kapten Arthur Conolly. Saat tiba dirinya menemukan Stoddar dalam kondisi kuyu. Singkat cerita Stoddart dan Conolly kemudian dibawa ke alun-alun kota untuk dipenggal penguasa Bukhara.

 

Gaspar dan Miguel Corte

Pada 1500, Gaspar dan saudaranya Miguel berlayar ke barat, dengan tujuan mencapai Asia melalui jalan barat laut. Setelah menemukan “Asia,” yang sebenarnya adalah Greenland, mereka tidak mampu mendarat, dan kembali pulang. Setahun kemudian, keduanya pergi berlayar, kembali ke “Asia.” Meskipun begitu, mereka mengubah haluan ke Newfoundland. Setelah mendarat dan menangkap 57 penduduk asli dan dijadikan budak, Miguel kembali ke Portugal. Gaspar melanjutkan perjalanan mereka, dan hilang tanpa jejak. Di tahun selanjutnya, Miguel yang berlayar untuk mencari saudaranya itu juga menghilang tanpa jejak.

Baca Juga: Dari Cuaca Panas ke Ruangan Ber-AC, Ini Bahayanya Bagi Tubuh

Ekspedisi Musim Dingin Rusia ke Khiva

Pada 1839, Rusia mengirimkan ekspedisi militer ke Kota Uzbek, Khiva. Dulu, penduduk Rusia sering ditangkap dan dijadikan budak oleh orang-orang Turki. Jenderal Perovsky, dengan pasukan berjumlah 5.200 orang dan 10.000 unta, melakukan ekspedisi keluar kota, dengan niat meluaskan batas negara Rusia. Pada Februari 1840, setelah mengalami musim dingin parah, mereka dipaksa kembali dan tidak dapat mencapai kota yang mereka tuju, ditambah lagi mereka kehilangan 1.000 pasukan.

Ludwig Leichhardt

Pada 1842, Ludwig Leichhardt menapakkan kakinya di Sydney, Australia, dengan harapan dapat mengeksplorasi daerah yang belum ditemui. Pada akhir 1845, pria ini berhasil melakukan perjalanan dari Sydney ke Port Essington, di pantai utara.Tidak puas dengan pencapaian itu, pada 1846, Leichhardt mencoba melewati pantau timur Perth di barat. Pada perjalanan ini, dia hanya menempuh jarak 800 km, sebelum kembali karena terkena malaria, dan kekurangan suplai makanan. Pada 1848, pria ini mencoba kembali perjalanannya, dan tidak pernah kembali lagi.

(ris)

1
1

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini