Wisata Halal, Indonesia Incar Nomor 1 Dunia

Koran SINDO, Jurnalis · Selasa 22 Mei 2018 16:21 WIB
https: img.okezone.com content 2018 05 22 406 1901327 wisata-halal-indonesia-incar-nomor-1-dunia-pSlShjYKXx.jpg Foto: Koran SINDO

JAKARTA - Indonesia menargetkan menjadi pasar utama wisata halal dunia. Semakin tingginya kebutuhan gaya hidup halal dan beragam destinasi yang dimiliki Indonesia membuat pengembangan sektor ini sangat terbuka.

Tiga provinsi, yakni Nusa Tenggara Barat, Sumatera Barat, dan Aceh, telah ditetapkan pemerintah pusat menjadi rintisan pengembangan wisata halal ini. Keyakinan Indonesia beralasan. Dari tahun ke tahun peringkat Indonesia dalam Global Muslim Travel Index (GMTI) yang dirilis Crescentrating dan Mastercard menunjukkan posisi terus meroket.

Pada awal GMTI 2015 lalu, peringkat Indonesia berada di urutan keenam dari total 130 negara yang di survei. Pada 2019, Indonesia menargetkan bisa menempati peringkat pertama setelah tahun ini berhasil meraih posisi kedua.

Dari tiga kriteria utama wisata halal yang disyaratkan GMTI, yakni destinasi yang ramah lingkungan, layanan, dan fasilitas yang ramah muslim serta kesadaran halal dan pemasaran destinasi, seluruhnya bisa dipenuhi Indonesia.

Sejumlah pemerintah daerah lain kini juga sudah membuat program khusus untuk melayani kunjungan wisatawan muslim dunia. Predikat sebagainegara berpenduduk muslim terbesar di dunia dan sejumlah fasilitas pendukung yang lebih memadai menjadikan Indonesia akan lebih diminati.

Tahun depan, Indonesia telah menargetkan bisa mendatangkan 5 juta wisatawan mancanegara (wisman) muslim. Jumlah ini mencapai 25% dari total 20 juta target wisman yang diharapkan masuk ke Indonesia.

Ilustrasi: Shutterstock

[Baca Juga: Islamic Center Ikon Wisata Halal di Pulau Seribu Masjid]

Untuk mewujudkan target itu, pemerintah melalui Kementerian Pariwisata antara lain menggelar Indonesia Muslim Travel Index. Peluncuran Indonesia Muslim Travel Index akan dilakukan 5 Juni nanti.

“Jika Thailand atau Malaysia dengan jumlah populasi muslim lebih kecil bisa mendatangkan wisman muslim lebih banyak, seharusnya Indonesia bisa lebih besar lagi,” ujar Men teri Pariwisata Arief Yahya di Jakarta kemarin.

Untuk menarik wisman muslim ke Tanah Air, menurut Menpar, butuh sejumlah strategi dan pelayanan yang terbaik. Ada empat tantangan yang terus dibenahi, Pertama soal akses meliputi konektivitas udara, jumlah bandara dan ka pasitas tempat duduk pesawat.

Selain itu, konektivitas di darat seperti stasiun, jalan, serta konektivitas laut pelabuhan kapal pesiar. Kedua, aspek komunikasi meliputi jangkauan dan dukungan fasilitas digital. Ketiga, lingkungan seperti keamanan dan budaya. Terakhir, adalah layanan yang meliputi makanan halal yang sudah disertifikasi, tempat ibadah, hotel dan pengalaman unik.

“Intinya ada tiga strategi pengembangan destinasi, yakni atraksi, akses, amenitas,” kata Menpar. Kemenpar pun telah membentuk tim khusus untuk pengembangan wisata halal ini. Ketua Tim Percepatan Wisata Halal Riyanto Sofyan mengungkapkan, wisman muslim antara lain dari Uni Emirat Arab, Qatar, Rusia, Jerman, Malaysia, Singapura, China, dan India.

Namun untuk memberi layanan yang lebih baik, Indonesia perlu memperbaiki aksesibilitas dari negara-negara yang menjadi orijinasi pasar wisman tersebut. Untuk promosi, pihaknya pun menggencarkan pemasaran dan misi penjualan, misalnya melalui ajang Arabian Travel Mart, Moskow Halal Expo, Australia Halal Expo. Peluang untuk memimpin pasar wisman muslim global, tandas Riyanto, sangat terbuka.

Dari sisi destinasi, beberapa daerah yang dinilai sudah siap sebagai tujuan wisata halal cukup banyak. Di luar tiga provinsi destinasi unggulan, daerah-daerah lain yang siap adalah Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Timur, Yogyakarta, dan Bali.

Ilustrasi: Foto: Shutterstock

Untuk bersaing dengan negara lain seperti Malaysia, Indonesia juga tidak akan kesulitan karena sudah banyak melakukan pembenahan di berbagai sektor. Konektivitas jalur udara misalnya, Indonesia jauh lebih baik ketimbang Malaysia.

[Baca Juga: Bulan Ramadan, Kunjungan Wisatawan ke Islamic Center NTB Membludak]

“Kami selalu optimistis, tapi juga perludu dukungan semangat serta komitmen para pejuang Pesna Indonesia terutama pimpinandaerah,” ujar Riyanto.

Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Nanggroe Aceh Darussalam Amiruddin mengatakan, Aceh dengan 99% penduduk muslim akan sangat dah untuk mengembangkan wisata halal. Kendati sudah menyabet predikat Destinasi Budaya Ramah Wisatawan Muslim Terbaik dalam Kompetisi Pariwisata Halal Nasional 2016, pihaknya tak henti berbenah untuk bisa memenuhi semua aspek halal khususnya yang menjadi perhatian wisman muslim.

Dari segi makanan misalnya, pihaknya mendorong kalangan industri untuk mengurus sertifikat halal. “Saat ini ada 300 produk pangan yang sudah berlabel halal,” ujarnya. Kini, hotel-hotel di Aceh pun berlomba agar bisa halal com pliance. “Mereka pada umumnya sudah memberikan pelayanan yang halal. Restoran di hotel bintang 3 ke atas, semua sudah mendaftarkan serti fikat halal,” imbuhnya.

Salah satu destinasi religi terpopuler di Aceh yaitu Masjid Baiturrahman, kata Ami ruddin, juga sangat ramah terhadap wisatawan muslim mau pun nonmuslim. Bagi nonmuslim diperkenankan untuk melihatli hat area pelataran di sekitar masjid.

Pengurus masjid menyediakan kostum seperti jubah dan kerudung. Menurut Amiruddin, saat ini wisman muslim terbanyak ke Aceh berasal dari Malaysia. Hal ini lantaran adanya penerbangan langsung dari Kuala Lumpur dan Penang ke Aceh.

Kegairahan juga dirasakan Pemerintah Kabupaten Sleman. Saat ini meski untuk destinasi wisata halal belum ditetapkan, tetapi sudah mulai bermunculan tempat-tempat yang mendukung pengembangan halal tourism tersebut, di antaranya mulai ada hotel syariah dan restoran yang sudah bersertifikasi halal.

“Untuk wisata halal memang belum sepesat di NTB, namun di Sleman sudah mulai ada pengembangan,” kata Kepala Di nas Pariwisata (Dispar) Sleman Sudarningsih.

Di Kota Yogyakarta, pemerintah setempat telah memetakan di antaranya dari sisi geografis, historis, dan sosiologis. Misalnya saja di kawasan Kauman dan Gondomanan yang memiliki sejarah khusus.

“Dua area tersebut kalau melihat dari historisnya merupakan kawasan sejarah lahirnya Muhammadiyah, ini juga menjadi kajian kami,” ujar Pelaksana Tugas Kepala Dispar Kota Yogyakarta Yunianto Dwi Sutono.

Butuh Kerja Keras

Di tengah target besar yang di canangkan pemerintah meng gaet 5 juta wisman muslim pada 2019, sejumlah pengamat meminta pemerintah ber tindak realistis. Mereka meng ingatkan masih banyak hal yang harus dilakukan se ca - ra kerja keras untuk m e nyiap - kan strategi dan infrastruktur me nuju sasaran itu. Anggota Dewan Masya ra - kat Ekonomi Syariah Sapta Nir - wandar mengatakan target 5 juta wisatawan muslim di 2019 lumayan berat. Ini karena ekosistem yang belum terlalu me nunjang wisata halal di lapangan secara riil. Sementara apa bila ingin menggaet wi sa tawan Timur Tengah mem bu tuhkan pelayanan berbeda dan ka - rakternya berwisata ber sa ma keluarga dan memiliki se lera tinggi.

“Selain itu juga ken dala lainnya ada pada pe ner bang an yang belum memadai un tuk rutin dari negara wi sa ta wan muslim ke Indonesia. Ap a kah sudah siap kita untuk mo del wisata seper ti itu,” ujar Sapta. Dirinya mengaku belum me lihat juga ada promosi dengan level yang lebih tinggi untuk mempromosikan wisata In donesia di negara-negara Timur Tengah. Ini berbeda dengan Malaysia yang gencar se - per ti menawarkan Bukit Bintang. Keunggulan Malaysia ka - re na jauh lebih aman dan nyaman. Sehingga wisatawan keluar ga muslim dari negara-ne - ga ra Arab lebih yakin datang dan menetap lama. Potensi wisa tawan muslim juga dari Chi - na, Kazakstan, Uzbekistan, dan Asia Tengah. “Sedangkan pe nerbangan dari Indonesia jauh lebih tinggi ke Asia Tengah dibandingkan sebaliknya,” ujar mantan menteri pariwisata ini.

Karakter wisatawan muslim disebut Sapta, biasanya men cari suasana kota, mal, ho - t el bintang lima, atau alam se - per ti Ubud, Bali. Menurutnya, wi satawan tersebut sudah je - nuh dengan destinasi Eropa dan mencari tujuan baru yang aman dan nyaman. Dari sisi pro mosi yang dilakukan selain via online, juga harus dilakukan lang sung ke komunitas se hing - ga lebih dekat dan me me nga - ruhi keputusan mereka. Menurut pengamat mar ket - ing Yuswohady, ada isu utama yang harus diperhatikan yaitu ke amanan. Ini penting karena isu pariwisata sangat sensitif de ngan keamanan, terutama da lam dua tahun ke depan Indonesia akan masih meng ha - dapi tahun pemilu. Namun, po - ten si wisata muslim sangat be sar di tengah era ekonomi lei - sure atau butuh kesenangan.

Menurutnya, secara suplai, pa da lokasi tujuan wisata di Indonesia, sudah terdapat lingkung an yang muslim friendly, se perti Aceh Sumbar atau Lombok yang memiliki masjid. Anggota Komisi X DPR Nizar Zahro menilai upaya pe merin tah membangkitkan wisata ha lal cenderung terlambat, kare na negara lain seperti Malaysia sudah lebih maju melakukan inovasi atas wisata halal ter sebut. Nizar menilai pe merin tah harus mempermudah dalam regulasi sertifikasi halal, dan mengedukasi para wisatawan untuk lebih men dahulukan makanan halal.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini