Menilik Aktivitas Perdagangan Indonesia-Malaysia di Ujung Perbatasan Aruk

Utami Evi Riyani, Jurnalis · Selasa 29 Mei 2018 10:44 WIB
https: img.okezone.com content 2018 05 29 406 1904033 menilik-aktivitas-perdagangan-indonesia-malaysia-di-ujung-perbatasan-aruk-1zFnaPBq9q.jpeg Perbatasan Aruk (Utami Evi Riyani/Okezone)

PONTIANAK – MNC Travel mengajak tim MNC Media untuk mengamati aktivitas perdagangan antara Indonesia dan Malaysia yang berada di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Terpadu Aruk, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Di sana, tim MNC dipandu salah satu petugas PLBN Aruk menuju ke titik 0 (zero).

Titik (0) ini suatu aktivitas perdagangan antar kedua negara, Indonesia dan Malaysia dimulai. Titik zero (0) ini berpatok pada gapura atau gerbang kedua negara.

Perdagangan antar kedua negara tersebut berlangsung pada pukul 06.00-10.00 WITA untuk tahap pertama. Selanjutnya, perdagangan kedua negara itu bisa berjalan lagi pada tahap kedua, mulai pukul 15.00-17.30 WITA.

Baca juga: Inilah Rupa Perbatasan Indonesia-Papua Nugini yang Akan Disulap Jadi Destinasi Wisata Baru


Infrastruktur di PLBN Aruk sendiri sudah terbilang megah. Pasalnya, pada Maret 2017 silam, PLBN Aruk diresmikan oleh Presiden Joko Widodo, setelah pemerintah melalui Kementerian PUPR memutuskan untuk membangun ulang pos lintas tersebut. Dan sudah dilengkapi beberapa teknologi penunjang pegawai PLBN di sana.

Perbatasan Aruk (Okezone)

Dari cerita Rahmat yang merupakan Kepala Sub bidang Kebersihan dan Keamanan PLBN Aruk, masyarakat Indonesia terutama warga Sajingan Besar dan Sambas yang paling dekat dengan perbatasan kerap membeli bahan-bahan pokok pangan dari negara tetangga.

Namun, Indonesia pun menawarkan kekayaan alam yang Malaysia tidak punya. "Kalau pedagang dari mereka (Malaysia) jualnya ya bahan pokok, kalau kita (Indonesia) kebanyakan hasil bumi, macam buah dan sayur-sayuran," katanya, Kamis (24/5/2018).

Baca juga: Setahun Diresmikan, Pembangunan dan Aktivitas Ekonomi PLBN Aruk Makin Bergeliat

Kasubsi Hanggar Pabean dan Cukai (KPPBC) Tipe C Sintete PLBN Aruk, Maryadi menjelaskan, jika warga perbatasan dari Indonesia yang hendak berbelanja barang dagang asal Malaysia dibatasin secara nominal. "Kita batasin warga perbatasan dari kita ini 600 ringgit (untuk belanja), itu untuk sebulan," ucapnya.

Berbicara soal barang dagangan dari Indonesia yang hendak dijual ke Malaysia, barang dagangannya terlebih dahulu diperiksa melalui pos karantina. Jika pedagang Indonesia membawa sayur, harus dicek oleh petugas karantina pertanian. Jika membawa ikan, maka petugas karantina perikanan akan memeriksa kualitasnya.

Transaksi di perbatasan (Okezone)

Untuk menjual barang dagang itu sendiri, regulasi dari Indonesia melarang warga Malaysia melakukan transaksi penjualan daging. "Menghindari adanya penyakit yang berasal dari daging yang dijual," ujar Maryadi lagi.

Kenyataannya, untuk penjualan ayam justru warga perbatasan dari Indonesia kerap membeli dari Malaysia dibandingkan negeri sendiri. Harganya lebih murah, itu yang membuat warga Sajingan Besar dan Sambas tertarik membeli.

"Di tempat kita (Indonesia) jualnya bisa sampai Rp30 ribu lebih. Kalau mereka (pedagang Malaysia) cuma jual 6 ringgit per ekor (Rp21 ribu)," ujar salah satu warga Sajingan Besar ketika ditanya.

Baca juga: Tips Wajah Mulus dan Flawless, Syahrini: Kulit Terlalu Digitu-gituin Enggak Bagus

Sedangkan asal Malaysia, Alung dan Le Mien telah lama menjual bapok sekian puluh tahun. Namun, selama nilai mata uang mereka Ringgit naik jadi Rp3.500 per ringgit, penjualan mereka tidak selaku beberapa tahun yang lalu.

"Dulu ringgit masih 3.000 sampai 3,500 banyak yang beli barang kita. Sekarang agak sepi," kata Alung yang sudah berdagang di perbatasan titik 0 selama 20 tahun.

Perbatasan Aruk (Okezone)

Di sana, juga ada transaksi pertukaran mata uang (money changer) secara mobile yang dilakoni oleh Belitrus. Bapak kelahiran Nusa Tenggara Timur (NTT) ini baru saja menjalani profesi sebagai penukar uang. Keuntungan yang ia dapat dari menukar uang tersebut dianggapnya cukup.

"Kalau saya beli mata uang Ringgit Rp3.550, kalau jual Rp3.500. Untungnga lumayanlah, sehari bisa dapat Rp200 ribu," katanya.

Melihat aktivitas perdagangan kedua negara ini, Corporate Sales Supervisor MNC Travel, Renny Eka Putri menilai, bahwa ekonomi di Indonesia bakal maju. Apalagi, Indonesia mempunyai kekayaan alam yang tidak dimiliki oleh negara tetangga.

"Menambah perekonomian (Indonesia), dengan menjual hasil bumi ke negara lain dibayarkan dengan ringgit otomatis penerimaan di Indonesia lebih tinggi," kata Renny.

Renny menambahkan kerjasama MNC Travel dan BNPP adalah untuk membantu menginformasikan kepada masyarakat terkait dengan PLBN yang ada di perbatasan-perbatasan.

"Iya, jadi dengan adanya publikasi dari media dapat memberikan informasi kepada masyarakat terkait dengan PLBN yang ada di perbatasan, dimana kondisinya sangat baik dan maju," tutup dia.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini